TLDR

Judul tulisan ini singkatan yang sudah banyak dikenal di forum-forum di internet. Too Long; Didn’t Read. Intinya, kalimat yang terlalu panjang, sehingga orang malas baca. Ataupun kalau membaca, maka skip-skip (lompat-lompat), tidak menyeluruh. Akibatnya, kita gampang tersulut amarah oleh satu bahasan/berita yang isinya provokatif.

Kurang lebih begitu yang disinggung mas Aan Mansyur di blognya ini. Meskipun bahasannya berbeda, beliau lebih menekankan soal penyakit “tidak nyaman pada ambiguitas”, tetapi saya melihat ada benang merahnya di sini. Dalam tulisannya, mas Aan Mansyur menyoroti soal bagaimana kita mudah untuk tidak nyaman atas sesuatu yang kita risaukan. Maka kita-pun mencari cara-cara pintas untuk mendapatkan jawaban.

Kurang lebih baru kemarin saya melakukan hal yang sama, ketika saya mendapat kabar tentang aplikasi gamelan yang di-patent-kan. Saya mencari informasi melalui social media, dengan melemparkan pertanyaan (pernyataan) di twitter, yang lalu disambar oleh teman-teman developer. Akhirnya sayapun mendapatkan jawaban atas apa yang saya gelisahkan. Mengenai hal ini, mungkin nanti akan jadi postingan tersendiri, sementara naskahnya masih nongkrong di draft karena masih belum mendapat jawaban resmi (email) dari pihak terkait. Nah, saya jadi berfikir, apa yang saya lakukan itu sepertinya juga masuk dalam ranah pembahasan di blognya mas Aan tadi.

Posisi Pemerintah

Satu yang menarik dari postingan mas Aan adalah, beliau melihat ada kaitan langsung antara kebijakan pemerintah terkait pendidikan dengan berjangkitnya “penyakit” ini. Bahwa pendidikan yang ada sekarang tidak memberi ruang bagi pemikiran terbuka. Sayang sekali mas Aan tidak memberikan contoh-contoh di sini, tetapi sepertinya cukup terbayang.

Sebuah sistem pendidikan yang lebih mengejar kuantitatif, meninggalkan inti utama pedagogis, mempertanyakan kembali untuk menuju pemahaman, membuat marak pendekatan-pendekatan rumus kilat atas segala hal. Kamu tidak perlu tahu kenapa 4 x 3 adalah 12, bahwa 4 x 3 adalah 3 + 3 + 3 + 3 bukan 4 + 4 + 4 tidak penting, yang penting kamu menjawab 12, maka kamu dapat 100.

Di segala lini, seperti inilah yang terjadi. Maka pertanyaannya kemudian, mengapa pemerintah memilih seperti itu? Agenda apa yang ada di kepala penguasa? Yang terbayang olehku kemudian pelajaran sejarah jaman dulu, yang menekankan soal bagaimana pemerintah penjajah membiarkan rakyat tetap bodoh, sehingga lebih mudah “diatur”.

Maka kitapun larut dalam ombang-ambing isu yang dimainkan para politisi.

Mari Membaca Karya Sastra

Disinggung sedikit di tulisan mas Aan mengenai hal ini, tetapi saya ingin mengulangnya sekali lagi. Mari kembal membaca karya-karya sastra. Mengapa? Karena karya sastra bukanlah karya dengan index, yang membuat kita meluncur ke halaman itu untuk mencari siapa dalang kejahatan, lalu mendapatkan halaman tempat kata kunci berada.

Karya sastra memberi ruang bagi imajinasi kita untuk mengarang sendiri alur sebuah cerita. Bahwa kemudian alur itu akhirnya mengikuti alur yang ditulis oleh penulisnya, itu adalah proses dialog yang terus terjadi sepanjang halaman.

Dan yang pasti, saya adalah orang yang percaya bahwa “sejarah ditulis oleh penguasa, kebenaran berada di tangan para pujangga”.

vale, demi membaca

el rony, njujug halaman kesimpulan. :p

nb: situ oke mas Aan!

2 thoughts on “TLDR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *