Tentang Waktu

Jumatan terakhir kemarin, tentunya pas hari Jumat, serasa disentil oleh khatib. Pak khatib ini cukup saya sukai, karena dia cukup low profile, tidak merasa diri paling benar. Nah, kali ini beliau bicara soal waktu. Tema yang cukup usang sebenarnya, berkali-kali dibahas, bahkan saya sempat menggunakan tema itu juga untuk beberapa kali kesempatan berbicara di depan publik. Ya misalnya ketika saya teriak “Ataaaaa waktunya makaaannn”, ketika anak saya masih sibuk main dengan temannya. Berbicara di depan publik memang membutuhkan keberanian dan kebulatan tekad, tetapi biarlah itu kita bahas di lain waktu saja. Itupun kalau saya sedang ndak edan.

Nah, kembali ke tema utama yang menjadi judul dalam tulisan ini, tentang waktu. Pak Khatib, seperti sudah bisa teman-teman duga, menyitir surat Al Ashr (Demi Waktu). Dan saya tidak sedang ingin ceramah, jadi silakan googling sendiri soal bagaimana surat itu dibahas. Yang ingin saya bahas di sini, sentilan dari pak khatib tentang bagaimana kita sebagai orang nuswantoro begitu selo terhadap waktu.

Kita tidak bijak terhadap waktu.

Masih menurut pak khatib, yang mana saya amini juga, kita ini tidak memiliki sejarah kebijakan terhadap waktu. Sebenarnya pengaminan saya ini masih tentatif sifatnya, masih berusaha mengingat-ingat. Intinya, beliau mengatakan bahwa di negara-negara maju, penghargaan atas waktu itu mendarah daging hingga menjadi petuah atau pepatah.

Waktu adalah uang, waktu adalah pedang, adalah contoh bagaimana negara barat maupun timur tengah menghargai waktu. Sementara sampai saat ini kok ya saya nemunya pepatah kita berkait waktu cuma “kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi. kalau ada umur panjang, pinginnya manusia gak mati-mati”, atau semacam itulah.

Harapan bahwa diberi umur panjang, bahwa diberi kesempatan lain, bahwa masih bisa menaklukkan waktu, cukup besar di negeri kita. “Esok kan masih ada”, kurang lebih begitu. Sungguh berbeda 180° dengan “waktu adalah pedang”. Kurang hati-hati kita menata waktu, dia akan menebas leher kita. Atau kata-kata waktu adalah uang, kalau kita ndak hati-hati, banyak uang kita terbuang. Dan siapa yang bisa menyangkal bahwa di kehidupan modern ini uang sudah menjadi semacam oxygen?

Efeknya

Suatu pepatah biasanya dilahirkan oleh orang bijak. Dan karenanya, bisa disimpulkan dengan ngawur bahwa di negeri kita, orang bijak adalah orang yang cuwek santai terhadap waktu. Akibatnya, secara tidak langsung di alam bawah sadar kita terbentuk pola pikir, mereka yang santai terhadap waktu adalah mereka yang bijak.

Ha tentu saja kesimpulan saya itu tingkat ngawurnya 99,9% tapi silakan direnungkan saja, bukankah memang bisa disimpulkan begitu? Ya kembali ke diri kita saja deh, ketika kita ada janjian ketemuan, berapa kali kita memperkosa kata “InsyaAllah” dan semena-mena mengartikannya dengan “harap-kamu-sadar-aku-sudah-pake-kata-kata-sakti-jadi-boleh-dong-molor”.

Tidak ada kegentingan bahwa kalau kita meleset dari jadwal sekali saja, maka rentetan molornya akan semakin jauh ke belakang. Molor kita dari janjian jam 13.00 WIB, akibatnya janjian jam 15.00 WIB ikut molor. Dan seterusnya, dan modar saja.

Maka Mari Kita

Nah, bagaimana menurut kalian? Tidakkah kalian juga gelisah tentang hal ini? Apakah kita akan membiarkan saja generasi kita dan setelah kita, tenggelam menjadi orang-orang yang tidak menghargai waktu? Atau memang sudah saatnya bagi kita untuk revolusi pola hidup?

Ya, paling tidak, agar diri kita sendiri tidak lagi terpenggal oleh waktu. Atau kalau sedang ingat dengan cicilan SPP, cicilan KPR, cicilan Motor atau yang semacam itu, agar kita tidak rugi karena telah kehilangan sekian potensi penghasilan (uang).

Saya sendiri sih gelisah, makanya saya tuliskan ini. Dan karenanya saya juga sudah bertekad, menanamkan niat bulat. Saya harus berubah. Mulai nanti sore. Kalau nggak ya besok deh. Atau lusa. Ya intinya semoga diberi umur panjang. *walah*

vale, demi waktu.

el rony, selo

 

6 thoughts on “Tentang Waktu

  1. dulu pas di sekolah pernah dapet cerita bahwa di antara 3 godaan yang diberikan setan terhadap manusia (harta, tahta, dan waktu), ternyata waktu-lah yang paling ampuh untuk menghancurkan manusia 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *