Tentang Rencana

Apakah kalian suka merencanakan sesuatu? Rencana sepertinya sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari manusia. Dari mulai bangun tidur, hingga tidur lagi, semuanya dalam rencana. Ada rencana yang menjadi wacana, ada rencana yang gagal terlaksana ada pula rencana yang gemilang pencapaiannya.

Di kehidupan bernegara, kita juga mengenal rencana. Ada RAPBN (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) hingga KB (Keluarga Berencana). Perencanaan bahkan sudah menjadi bagian dari keilmuan, sehingga muncul jurusan (atau bahkan fakultas?) perencanaan. Turunan dari perencanaanpun mendapat perhatian, sehingga muncul ilmu manajemen. Semua berangkat dari rencana.

Rencana Saya

Rencananya, saya ingin menuliskan banyak hal di sini, tetapi akhirnya urung saya lakukan, mengingat tulisan yang terlalu panjang dan terlalu lebar juga jadinya tidak menarik. Maka saya khianati rencana saya sendiri, dan melakoni apa yang sedang asyik di kepala saja.

Kalau menelaah kembali, ada banyak rencana di kepala saya yang gagal terlaksana. Dari mulai rencana ingin piknik sekeluarga keliling Indonesia, hingga rencana kecil seperti memugar ulang halaman kecil di belakang. Ada yang gagal karena kemalasan, tetapi lebih banyak gagal karena faktor yang saya sendiri tak kuasa mengelak.

Entah kenapa, perencanaan-perencanaan saya banyak yang melibatkan unsur keuangan. Dan unsur inilah yang selalu dan selalu menjadi kendala. Sehingga gambaran indahnya kalau rencana terlaksana, pupus seketika. Hal yang paling menyedihkan kemudian, ketika rencana itu tadinya melibatkan pihak ketiga alias orang lain.

Rencana yang seakan sudah menjadi janji, sakit rasanya ketika tiba-tiba harus dibatalkan. Ada pula yang bukan dibatalkan, tetapi harus diubah dengan kompromi-kompromi, akibatnya sama saja, ada pihak yang tersakiti. Minimal aku sendiri.

Lalu Bagaimana?

Saya juga masih bertanya. Selain memohon keikhlasan dan mengharap pengertian, saya sendiri bingung harus bagaimana. Apa sebaiknya tidak usah berencana saja?

Dulu ketika masih bujang, beberapa kali saya jalan tanpa rencana. Menyenangkan, jadi berkesempatan keliling Indonesia, datang ke pelosok-pelosok negeri yang indah. Tetapi semakin hari, pendekatan seperti ini semakin tidak cocok saja. Apalagi ketika dihadapkan pada sebuah industri. Jadwal dan prioritaslah yang membuat mau tidak mau harus berencana, dan kemudian berkompromi.

Sementara ini kesimpulan saya tetap sama, saya harus berencana. Tetapi mungkin perencanaan yang lebih masuk akal, yang sesuai dengan kondisi nyata.

Maka, saya mohon maaf jika ada di antara kalian yang bersentuhan dengan rencana-rencana saya, apalagi ketika rencana itu gagal. Sepenuhnya itu kesalahan saya.

vale, demi persahabatan

el rony, membaca pledoi yang tak lebih sekedar pelarian

8 thoughts on “Tentang Rencana

  1. Aku mbiyen pas bujang yo nduwe rencana akeh sing muluk2, tapi saiki aku durung nduwe bojo yo tetep rung iso ngelakoni rencana2ku.. 🙁

  2. mbiyen pas banyak waktu luang, rencana-rencana berbenturan dengan faktor kekurangan biaya. ha saiki wis rodo lancar rejekine, gantian benturan sama kekurangan waktu luang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *