Tentang “Eye Catching”

Beberapa hari ini saya bergulat dengan beberapa hal terkait dengan visual. Ada perdebatan-perdebatan dan asumsi-asumsi yang terbangun dari diskusi-diskusi ini. Dengan para NOKNwarrior saya berdiskusi tentang bagaimana tampilan sebuah website enak dipandang, nyaman dihinggapi pengunjung sekaligus berhasil mewakili kerennya produk mereka, NOKNbag. Selain itu saya juga terlibat pembicaraan yang cukup serius tetapi santai dengan teman-teman MojokCo. Walaupun lebih ke konten, tetapi pada akhirnya menyinggung juga tentang tampilan.

Hal yang selalu muncul adalah tentang sesuatu yang bagus, neat, simple, modern dan sejenisnya hingga style-style yang mengarah ke trend kekinian semisal flat design. Berdiskusi dengan mereka-mereka yang mengerti dan paham akan kebutuhannya tentunya memberikan pencerahan yang tak bisa dibilang sedikit.

Lantas pembahasan dengan tim software, kebetulan saya selama dua tahun ini terlibat pengembangan sebuah project yang super wangun yang sayangnya belum bisa saya bagi di sini, pokmen wangun wae, situ percaya waelah sama saya. Nah, project wangun itu juga butuh tampilan, bukan? Nah lagi-lagi hal-hal terkait UX dan UI menjadi pokok pembicaraan.

Lantas Makbedunduk Saya Tertampar

Tadi malam saya menemukan sebuah link yang bercerita tentang seorang S2 design yang gagal mendapatkan pekerjaan yang “sesuai” dengan kapasitas dia. Akhirnya mbak-mbak –yang cantik itu– terdampar pada pekerjaan menjadi pembuat banner situs porno.

Apa yang membuat saya tertampar? Ternyata ilmu yang penuh wiyu-wiyu dan super nehno dari dunia design tidak berlaku di dunia perpornoan ini. Mbak itu bercerita bahwa karya-karya awal dia ditolak mentah-mentah oleh perusahaan lendir tempat dia bekerja. Alasannya? Terlalu bagus dan terlalu profesional. Dhuengg!!

Bagi perusahaan porno, ternyata, karya desain yang dibutuhkan justru yang jelek, terasa “home made” — bedebah memang perusahaan ini, emangnya home made itu pasti jelek? fak — dan ini dia kata kunci penting “amateur“. Sudahlah merusak kata home made, masih juga rela merusak citra amatir. Fak adalah Fak!!

Maka jadilah si mbak-mbak — yang cakep ini– membuat karya-karya banner dengan kualitas apa adanya, font helvetica dibuang diganti dengan impact dan mungkin comics sans, warna-warna norak dan animasi-animasi ala web jaman geocities.

Efeknya? Klik yang didapat selalu super duper tinggi. Nah loh! Lantas apa kuncinya? Kata si mbak ini kuncinya adalah Eye Catching! Begitu tertangkap mata, entah oleh warna, font, atau typo — ini sih keahlian baba @rasarab dan tim ngonoo — selanjutnya orang tergiring untuk mengklik banner itu.

Kalau Kamu Kaya, Sejelek Apapun Kamu, Pasti Laku

Di dunia nyata mungkin itu padanannya. Dalam hal ini, situs porno memiliki kekuatan melebihi situs lain. Bisnis lendir yang usianya setua peradaban manusia ini, merupakan modal tersendiri yang oleh karenanya tidak lagi dibutuhkan copywriter handal, designer wiyu-wiyu super nehno. Tugas utamanya hanya agar orang melihat “woh apa ini? banner apa ini? kok jelek?” yang kemudian akan dilanjutkan sendiri oleh pesan di dalamnya yang ngawe-awe setiap orang dengan penawaran purbanya.

Mirip sekali dengan para bapak-bapak gaek tuwek berdagu panjang, tapi bisa menggandeng wanita sintal montok dan membawanya ke meldaifes. Ndak penting bentuk bungkusnya, yang penting berapa harga pembungkusnya, yo ra?

Lantas saya kembali ke si mbak itu, dan saya kembali manggut-manggut. Di dunia ini, kata dia, ada dua hal yang laku dan tak perlu endorsement super duper nehno, yaitu sex dan war.

Nah, yang kedua ini kemudian mengingatkan kembali ke situs-situs abal-abal ala piyungan dan sosok-sosok ala jonru. Mereka laku karena menjual perang. Maka tak penting kayak apa hancurnya wajahnya jonru, nggak penting seperti apa hancurnya layout website piyungan, yang penting ajakan perangnya. Laku.

Maka, bagi kita para visualist, tantangannya tinggal dua, bersetia dengan UI dan UX yang bagus mengikuti kaidah-kaidah GoodUI atau jualan perang/sex. Apapun yang kalian pilih, berhati-hatilah, jangan sampai terpeleset, apalagi kalau masuk bisnis lendir.

vale, demi visual

el rony, mencuci mata.

nb: link soal mbak itu ada di sini

8 thoughts on “Tentang “Eye Catching”

  1. Pingback: Selasa Bersama Veta - Jagongan | Kadang Kita Butuh Ngobrol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *