Temanku, jangan jadi baliho

Hari sudah malam, badan capek seharian dihajar naik turun perbukitan, entah kenapa mendadak pingin menuliskan ini. Mungkin tidak pantas juga disebut mendadak, wong sebenarnya ya sudah terpikir lama, cuma ide bagaimana mengungkapkannya memang baru terpikir saat ini.

Tentu anda mafhum tulisan ini ingin bicara tentang apa? Benar, saya ingin membahas hal yang sudah usang, tentang baser. Apa itu baser? Para pegiat sosial media tentu juga sudah tahu betul jenis kegiatan apa yang dinamakan baser. Lalu yang ingin saya bahas apa?

Tentang Metode

Bagi saya, sebuah diskusi tidak akan pernah berjalan baik ketika salah satu pihak sudah mengungkit soal periuk nasi, jadi mohon kiranya berbesar hati sedikit untuk membaca tanpa harus membela diri dengan alasan periuk nasi dahulu. Kalau sudah, maka saya ingin sampaikan apa yang sudah disampaikan banyak orang juga, tolong jangan menjadi baliho.

Metode yang diambil para baser saat ini sungguh mengganggu. Kenapa? Begini, saya punya teman dengan berbagai latar belakang. Ada pedagang obat, ada pedagang tas, ada programmer, ada tukang, dan lain-lain. Tetapi ketika berkumpul, yang dibicarakan adalah hal-hal di luar apa yang mereka perdagangkan. Pedagang obat, meskipun ketika di pasar dia menjajakan dengan demonstratif, tetapi ketika bertemu teman mereka tidak terus membicarakan dagangannya itu.

Mungkin di media sosial kita dibekali dengan fasilitas-fasilitas tambahan seperti mute, block, unfollow, tetapi bagi saya ini tetap mengganjal. Ibarat ketika ngobrol dengan teman lantas kita memlester mulutnya karena dia ngiklan. Satu-satunya profesi yang mirip dengan cara kerja baser itu kayaknya mereka yang berdagang MLM dan asuransi. Tapi pun tidak terus membanjiri terus menerus juga. Ada faktor menghargai teman.

Mencerdaskan Client

Apakah memang socmed strategist atau marketer atau para brand itu menyaratkan agar melakukan kampanye dengan model seperti yang selama ini kalian lakukan? Kalaupun iya, tidakkah kalian ingin mengubah hal itu agar kita sama-sama enak dalam berteman?

Kalian yang dianugrahi follower yang banyak, diposisikan seperti baliho, ditempeli papan iklan di wajah, badan bahkan nafas kalian, tidakkah itu mengganggu gerak kalian? Bagaimana jika satu saat misalnya brand yang kalian iklankan itu ternyata terlibat satu kasus –kesehatan misalnya–?

Itu mengenai kalian, di sisi lain, jika orang justru muak dengan sebuah produk gara-gara kalian, bagaimana? Ah tapi ini mungkin juga tidak kalian lihat sebagai masalah, tetapi mari kita bayangkan hal yang lain.

Misalnya saja sebuah produk sedang ingin mengampanyekan sesuatu, tidakkah akan lebih efektif jika menggunakan cara memampangkannya di sebuah situs, sehingga kalian cukup sekali saja menyampaikan situs itu ke orang lain. Baser yang lain tinggal share/retweet? Dengan begitu informasi itu tidak menjadi spam.

Saya kurang lebih sepertinya tahu bahwa ini tidak mungkin, karena kemudian ada satuan impresi di situ, mirip dengan prestasi kerja kalau dalam perusahaan. Capaian, engagement atau apapun, yang coba diukur oleh pihak klien, yang kemudian mungkin menjadi satuan rupiah dalam proposal.

Tetapi tolong direnungkan lagi, tidakkah kalian sedang menjadi baliho? Apakah kalian senang dengan keadaan itu?

Mohon maaf jika kata-kataku tidak berkenan, tetapi sebuah script pemrograman yang terdiri dari ribuan barispun aku minta untuk dirombak ulang kalau secara logika pemrograman tidak benar. Maka satu atau dua buah baris ratusan karakter adalah wajar jika kuperlakukan dengan sama.

Mari mencoba setara. Follower banyak itu bukan barang dagangan, itu adalah kesempatan pertemanan, kesempatan memperoleh informasi. Dan kesempatan mendapatkan bantuan ketika kita misalnya tiba-tiba tersesat di jalan.

Sekali lagi, dengan rendah hati saya minta, mohon jangan jadi baliho.

vale, demi kemerdekaan

el rony, bagi orang indonesia, sambal boleh hadir dimana saja.

nb: sudah pasti saya tidak bakat menjadi baser

17 thoughts on “Temanku, jangan jadi baliho

  1. Cukuplah jogja yg kini berhak mendapat predikat baru selain “jogja berhati nyaman” ku tambah dengan nama baru “jogja berarti iklan”. Dan jangan sampai ‘twitter berarti iklan’ terbersit dipikiran ku, karena derasnya iklan dibanding informasi atopun curhat galau di linimasa. Semoga….

  2. Pingback: LANtip Mengungkapkannya Dengan Istimewa | hmd.me

    • @mizan: ah monggo saja mau dinamakan apa, saya membahasakan baliho karena saya membayangkan ini lebih prestisius dan menyambar “semua pemakai jalan”. namanya perumpamaan, sangat mungkin salah 🙂

  3. hihihi~ sakjane ya iyo, makanya kalau ada beberapa produk yang kurang cocok ke aku ya biasanya juga aku tolak ^^

    misalnya skrg lg kurang ngetweet, jadi kl ada program buzz yg mengharuskan aku ngetweet banyak, barusan aku tolak juga 🙂

    kl dr sisi agency aku gak bs ngomong krn bukan praktisi, kl dr sisi buzzer mungkin [at]Rahneputri itu contoh yg baik. Followernya sudah menganggap Rahne seperti TV yang wajar kl nonton TV ada iklan yg lewat, tetapi dia memang mempunyai kualitas tweet yang sungguh sangat smooth untuk sebuah akun tweet personal.

    Kita sudah tdk bisa membicarakan hubungan personal antara Rahne dan followernya krn sudah puluhan ribu. Sudah menjadi kebutuhan followernya untuk selalu melihat update dr Rahne dan sbg timbal baliknya ya iklan tadi itu.

    Idealnya ya seperti Rahne itu, itu PR untuk buzzer buzzer jaman kini untuk mencapai standar spt Rahne

    *komenku nyambung rak to? *

    • nyambung-nyambung saja kok mase 😀
      cuman kalau dengan contoh kasus model seperti itu, maka ungkapanku tentang kesetaraan dan pertemanan sepertinya jadi hal yang tidak relevan 😀 maturnuwun masukannya.

  4. Sakjane masalah seperti ini akan klasik sih. Seperti halnya kita berbicara bagaimana mengatur lokalisasi seharusnya… (aku tak sedang berusaha membandingkan buzzer dengan apapun itu lokalisasi).
    Yang ada akhirnya ya waktu berlalu, suka tak suka, buzzer sebagaimana profesi lainnya akan terus bergentayangan.

    Karang kabeh ki yo semua…

  5. gak soal sih jd baser. cuma harus fair. jujur kalo yg dtwit itu iklan. salah satu caranya dg kasih tagar #adv, #ads, #iklan dan seterusnya.

    dg begitu, kita sbg teman kan enak filternya. jd pas ada twit iklan, bisa langsung hilang dg sendirinya dr linimasa. teman ttp bisa bekerja, linimassa kita tetap tak terganggu.

    ya toh? toyiiiip..

  6. Nek bagi orang-orang yang sebah dengan twit baser, kudune iso dikembangkan adblock dinggo baser, hehehe

    Apa pendapatmu juga sama mas, nek ada public figur (atlet sepak bola misalnya) dibayar untuk terus menggunakan produk tertentu?

    • ya untungnya sampai sekarang belum ketemu dengan atlit/public figure yang ketika ngobrol isinya iklan 😀
      ada teman yg diendorse pabrikan barat, semua atribut dia pakai merk itu. tetapi ketika ngobrol ya isinya hai halo apakabar salam hangat, bukan eh ini produk bagus lho begini begitu. gitu fajr 🙂

  7. Aku cenderung senada dengan Anton Muhajir.
    Etapi, untuk menyoal kesetaraan, aku merasa itu mustahil. Mengingat berbagai variabel yg saling silang di masyarakat kita. Itu jika kita sepakat, relasi di media sosial mencerminkan realitas sosial.
    Aku masih berpendapat, membiarkan orang lain dalam ketidaktahuan adalah khianat (aku mengutip, maaf, lupa dari siapa). Aku berharap, followingku yg jadi baser, secara fair mengakui dan menyampaikan posisinya yg memakai aku sebagai komoditasnya. Juga, cukup punya nurani untuk jujur kepada kliennya, jika ada sekian jumlah followernya yg palsu.
    Demikian versi seriusnya.

  8. Aku baser, Mas. Tapi followers-ku nggak tau dan nggak masalah. Kenapa? Aku punya syarat sbb:
    * Produknya aku pakai
    * Produknya aku suka
    * Review produk seimbang dan jujur (baca: sak karepku dhewe sebagai pengguna)

    Sebetulnya ini marketing word of mouth yang kemudian dimanfaatkan oleh brands di socmed. Teknik ini klasik dan masih tetap powerful sampai sekarang, dan nggak ada jeleknya. Hlah wong tanpa dibayar duit atau dikasih produk gratis aku ya bakal tetep beli dan nge-tweet soal produk itu (yang berarti aku basernya) lho, Mas. 😀

    Masalah justru muncul ketika ada baser yang nggak jujur, misalnya pakai aja enggak tapi bilang produknya bagus… Trus piyeee? Hahaha…

    Cuma, ketika ada yang bilang, “Ah kamu kan nggak biayai hidupku to,” ya udah, mau diapain lagi? Paling banter ya unfollow.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *