Sejarah Langgam dan Ketidakpedulian Kita

Pada tulisan kali ini saya mencoba menulis sekelumit hal tentang aliran musik langgam. Tentu banyak di antara kita yang sudah mengenal kata itu, dan mungkin juga sering menggunakan istilah tersebut, tetapi apakah hal itu sudah tepat jika diterapkan pada sejarah musik? Saya bukan ahli musik, tetapi saya peduli dengan sejarah kemusikan dan budaya –terutama budaya jawa, karena saya orang jawa–.

Sebelum terlampau jauh, saya kutip dulu pengertian langgam yang sudah diadaptasi oleh KBBI, sebagai berikut:

langgam

Nomina (n)

  1. gaya; model; cara: — permainannya khas, sukar ditiru orang lain
  2. adat atau kebiasaan: — orang di daerah itu kalau berkata dengan suara keras, tetapi hatinya baik dan suka berterus terang
  3. bentuk irama lagu (nyanyian): penyanyi lagu pop belum tentu dapat menyanyikan lagu —

definisi tersebut bisa anda lihat di kateglo.

Nah, karena saya sedang membahas budaya jawa, maka saya fokus pada pengertian nomer 3, bahwa langgam adalah bentuk irama lagu. Irama lagu yang seperti apakah yang bisa disebut langgam?

Jawa dan Segala Aturannya

Di dalam masyarakat Jawa, produk apapun yang dihasilkan dari budayanya selalu dilekati dengan aturan-aturan dan kaidah-kaidah. Apalagi di dunia musik. Aliran musikal dalam adat Jawa pada awalnya kurang lebih terbagi menjadi empat bagian, yaitu: Tembang Gedhe, Tembang Tengahan, Tembang Macapat dan Tembang Dolanan.

Tembang Gedhe dan Tengahan mungkin jarang kita dengar, yang paling sering kita dengar adalah Macapat –yang sering diartikan sebagai maca papat-papat, membaca empat demi empat– dan tembang dolanan. Masing-masing tembang tersebut memiliki aturan-aturan sendiri, kita ambil contoh saja macapat. Macapat yang terbagi menjadi pocung, sinom, asmaradhana dan lain-lain, masing-masing juga memiliki aturan lagi.

Seseorang bisa memakai nada-nada yang mirip dengan pocung misalnya, tetapi kalau tidak memenuhi aturan:
– Guru Wilangan (jumlah suku kata) 12, 6, 8, 12
– Guru Lagu (akhiran vokal) u,a,i,a
maka itu bukan Pocung. Jika tidak memenuhi syarat untuk macapat yang lain, maka jelas itu juga bukan Macapat.

Perkembangan politik di negeri ini, pada akhirnya memunculkan kreativitas di kalangan pemusik tradisional Jawa. Pada masa-masa awal kemerdekaan kita itulah, muncul irama langgam Jawa. Tokoh yang merintis irama ini adalah seperti Dharmanto, Ki Narto Sabdo, Gesang, Anjar Any, Waldjinah, dan masih banyak lagi. Berdasarkan penuturan Nyi Andjar Any sendiri, langgam ini terlahir karena waktu itu presiden Soekarno mendorong para pemuda untuk meninggalkan musik ngak-ngik-ngok.

Langgam Jawa pada dasarnya adalah adaptasi musik keroncong ke tradisi gamelan dan tembang Jawa. Maka oleh karenanya, langgam Jawa ini juga memiliki aturan-aturan, tidak sembarang lagu bisa disebut sebagai Langgam Jawa.

Aturan Langgam Jawa adalah sebagai berikut:

  • Matra atau ukuran biramanya 4/4.
  • Temponya moderato.
  • Terdiri dari empat kalimat masing-masing delapan bar, sehingga dalam satu langgam terdapat 32 bar.
  • Susunan keempat kalimatnya adalah A-A-B-A

Berdasar dari sejarah permusikan Jawa, maka ketika seseorang terdengar menggunakan nada-nada seperti langgam tetapi tidak mengikuti aturan tersebut, sudah pasti itu bukan langgam dalam artian lagu Jawa.

Perkembangan selanjutnya langgam jawa ini dibuat lebih nakal oleh generasi Manthous dengan komposisi yang lebih nge-pop dan menanggalkan aturan-aturan di atas. Kalau dalam bahasa saya yang bukan ahli musik, campursari ini adalah tipe lagu dolanan yang lebih serius. Dia bisa saja dimulai dengan bawa (lagu) dari macapat, atau bisa langsung ke model keriangan ala campursari.

Apakah Kita Peduli?

Pertanyaan ini muncul di kepala saya, ketika beberapa waktu lalu orang ribut-ribut mengenai seseorang yang membaca dengan alunan yang akrab dengan telinga orang Jawa. Ramai-ramai semua mengatakan bahwa itu langgam Jawa.

Mungkin para pendekar langgam jawa sudah capek dengan ketidakpedulian kita, sehingga mereka hanya diam dan mungkin mengurut dada. Jelas-jelas itu bukan langgam jawa. Apakah biramanya 4/4? apakah terdiri dari empat kalimat delapan bar? apakah susunannya A-A-B-A?

Kalau Anda menyebut itu langgam jawa, dalam artian nomer 1 di KBBI: gaya/model/cara, maka saya tidak akan memprotes. Tetapi yang jadi permasalahan ketika kemudian mengkait-kaitkan dengan aturan-aturan per-lagu-an, dimana apa yang dibaca itu tidak boleh sembarang dilagukan menirukan irama lagu dan seterusnya. Saya bilang, tolong hentikan, itu bukan langgam jawa dalam artian irama lagu jawa! Sama sekali tidak masuk dalam aturan langgam Jawa.

Bagi saya, itu adalah murni gaya atau model pembacaan, sebagaimana –meskipun kata-katanya sama, panjang pendek kalimatnya sama–, tetapi masing-masing masjid ketika tiba saatnya TPA, nada yang keluar sama sekali berbeda: TEMAN TEMAAAAN DI.HA.RAP.DA.TANG.KE.MAS.JID  UN.TUK.TEPEA. KA.RE.NA HA.RI SU.DAH. SO.RE

Perhatikan lagi, panjang pendeknya sama, tetapi sebenarnya ada perbedaan nada karena ada perbedaan mulut yang mengucapkannya. Maka itulah gaya, model, yang lahir murni karena justru ada panjang pendek kalimat tersebut.

Paham?

vale, demi te pe a

el rony, sinau iqra’

5 thoughts on “Sejarah Langgam dan Ketidakpedulian Kita

  1. Saya nangkepnya “langgam Jawa” yang dimaksud itu ya seperti yang pertama, Mz. Yaitu gaya atau model Jawa, malah ngga tau kalau ada yang menyangkut-pautkan dengan langgam dalam aliran lagu.

    Orang-orang seperti itu pasti penganut aliran bintang kecil di langit yang biru.

  2. Nuwun sudah berbagi, mas.

    Ngomong-ngomong, saya kok curiga bahwa langgam sebagai bentuk musik dipengaruhi oleh bentuk lagu AABA yg awam dipakai di lagu-lagu “jazz standard” tahun 1920an hingga sekarang. Sedangkan AABA sendiri adalah sebuah modifikasi dari bentuk “ternary” ABA, yang dipakai di musik klasik Eropa berbentuk Sonata.

    • bisa jadi demikian mase. dan apalah saya dibanding dirimu yang ublekulek di dunia musik 😀 situ mbok bikin tulisan yang lebih komprehensif, tesis sampeyan soal itu menarik untuk dikupas lho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *