Ngudang Anak

Saya mulai cerita kali ini dengan ucapan Alhamdulillah. Iya, saya bersyukur diberi kepercayaan oleh Allah SWT, diberi momongan lagi. Lengkap sudah kalau kata orang Jawa, anak pertama, Mata Air, laki-laki, sementara anak kedua perempuan, Cahaya Mata.

Sedikit berbeda antara bayi laki-laki dengan perempuan, setidaknya itu yang saya alami. Mata Air ketika bayi minumnya sangat kuat, maka tak heran dalam hitungan minggu beratnya bertambah dengan sangat cepat. Sementara Cahaya Mata keinginannya yang kuat, beberapa kali ASI terpaksa dimuntahkan kembali karena ternyata kepenuhan. Dan bundanya yang kadang kerepotan karena ASI melimpah sementara daya tampung tidak sebanding. Tapi tidak mengapa, daripada kurang, ya kan?

Nah tetapi ada juga yang sama dari kedua anak saya, ya mungkin karena orang tuanya sama sih ya, dua-duanya suka ditembangi. Saya memang suka menggendong anak saya sambil nembang. Dengan modal suara pas-pasan kayak punya saya ini, paling pas memang hanya untuk anak-anak bayi, yang tidak bisa teriak “Ayah! diam! suaramu jelek!”.

Masalahnya kemudian memang di koleksi lagu/tembang yang saya miliki, maka jadilah anak pertama dan kedua saya mendapatkan lagu darah juang sebagai pengantar tidur. Tetapi saya tak kurang akal, toh mereka belum bisa protes kan? Jadi saya mengarang tembang (karena tidak hafal) tak lelo lelo ledhung. Dulu pernah aku posting kayaknya, tapi ndak nemu linknya. Intinya karena serba sedikit yang saya ingat dari lagu tersebut terasa kurang pas di hati dan pikiran saya, jadilah saya tidak mencari dengan googling lirik tembang itu, tapi lebih memilih mengarang sendiri, toh nadanya sederhana saja. Maka demikianlah tembang saya:

tak lelo lelo lelo ledhung
cup menengo putr(a/i)ku cah (bagus/ayu)
tak lelo lelo lelo ledhung
enggal bobok mangke mundhak ngantuk

tak gadhang bisa urip mulyo
kinayungan urip kang prasaja
dadiya satria utama
tansah jujur, pendekaring bangsa

Berbekal lagu karangan itu, mengulang dua atau tiga kali, biasanya si anak udah tenang, lalu sambil digoyang-goyang dia akan jatuh tertidur. Namun ternyata Cahaya Mata akhir-akhir ini butuh lagu lebih panjang. Sebagai penyanyi profesional tingkat rumah tangga, saya tentunya bahagia mendapatkan tanggapan. Tapi lantas lagu apa?

I shot the sherif dan Buffalo Sholdier akhirnya menjadi andalan. Tidak hapal juga sebenarnya, tetapi nadanya cukup pas buat goyang-goyang. Kebetulan Mata Air juga suka nadanya, jadilah dia ikut ber woyooo yoo woyooo yoo.

Ini sebenarnya baru kejadian kemarin sore. Setelah Cahaya Mata tidur, aku tarik Mata Air duduk di karpet, dan aku ceritakan siapa itu Bob Marley. Ngayawara sampai ke Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi. Jadi ibaratnya sekali tepuk dua tiga pulau terlampaui, jadi punya kesempatan juga ngobrol panjang tentang konsep dengan anak. Ah, sok sok an, intinya ya ngobrol saja.

Jadi, bagaimana dengan kalian, yang sudah berputra/putri tentunya ya?

vale, demi kesehatan

el rony, kadang nembang sioo mamae beta so rindu mau pulange..

Pertemuan dengan Para Pendekar

Entah kapan terakhir saya berkesempatan terlibat satu forum berbagi ide dengan Sang Pendekar dari Timur. Roem Topatimasang nama beliau, adalah seorang pegiat sosial yang dari jaman baheula peduli dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat Indonesia di belahan timur. Di usia beliau yang sudah tidak bisa dibilang muda, nyatalah bahwa kepedulian itu tidak pernah padam.

Hari Sabtu, 1 Februari 2014 kemarin, saya berkesempatan sekali lagi satu forum dengan beliau. Berdiskusi bersama dengan tokoh-tokoh muda pejuang bangsa. Ada Akhmad Nasir pegiat radio komunitas sekaligus tokoh di balik Jalin Merapi, juga ada Savicali, tokoh muda di balik NU Online (dan banyak yang lain tentunya), juga ada Heru penggagas gerakan lingkungan hidup, Mas Catur dari Internet Sehat juga hadir, serta tentu saja mbak Ambar, istri mas Nasir yang juga aktif di dunia gerakan sosial Indonesia. Di antara orang-orang hebat ini, banyak hal yang bisa saya pelajari.

Sorak

Suara Orang Kampung, demikian kegiatan di belahan Indonesia Timur yang digagas Pak Roem beserta INSIST, lembaga yang beliau dirikan bersama almarhum Mansour Fakih. Ide suara orang kampung ini, menurut beliau, adalah kenyataan dibutuhkannya sarana komunikasi antar penduduk di wilayah-wilayah yang terhalang kontur geografis. Keberadaan handphone di desa-desa di sana, memberi inspirasi bagi beliau untuk menggagas sebuah sarana komunikasi melalui SMS. SMS dipilih karena ini adalah sarana paling murah dan paling mudah. Dengan kualitas sinyal yang jauh di bawah kualitas paling jelek di kepulauan Jawa, maka SMS juga menjadi sarana paling tepat untuk itu.

Maka lahirlah Sorak ini. Hadir selain dalam bentuk website, juga dalam newsletter bulanan. Beliau bercerita bahwa Sorak telah berhasil menjadi bagian dari masyarakat di Papua. Penentu kebijakan di sana, memakai Sorak sebagai landasan ketika membahas langkah-langkah untuk menyejahterakan penduduk di sana.

Rangkuman tiga bulanan dari Sorak ini juga dipakai oleh berbagai konstituen, termasuk lembaga keuskupan.

Media Komunitas Angkringan

Di belahan lain, di Yogyakarta selatan, mas Nasir dan mbak Ambar juga membagikan pengalaman mereka mengelola Media Komunitas Angkringan. Media ini kurang lebih mirip dengan Sorak, dimana SMS menjadi sarana utamanya. Beruntung sekali saya terlibat dalam pengembangan Media Komunitas ini, sehingga saya juga bisa melihat perkembangan penggunaannya.

Salah satu kisah sukses adalah ketika ada jalanan rusak di wilayah Timbulharjo. Tidak berapa lama berselang, setelah banyak penduduk (anggota MK-160 berjumlah kurang lebih 12.000 orang) melaporkan, PEMDA-pun segera bertindak menambal jalan yang berlobang.

Permasalahan

Pertemuan ini kemudian mengidentifikasi ada berbagai permasalahan di negeri ini, yang salah satunya membutuhkan dukungan teknologi untuk penanganannya. Atau lebih tepatnya, bagaimana mengakali teknologi agar bisa dimanfaatkan dengan tepat.

Ada sekitar 2.000.000 (dua juta) petani cengkeh di Indonesia yang kesulitan mengakses informasi harga, ada 40.000 (empat puluh ribu) nelayan di Jawa Timur yang membutuhkan informasi kelautan selain juga masalah harga, lalu ada juga petani karet dan lain-lain.

Pak Roem memetakan permasalahan yang dihadapi berdasar pengalaman beliau, juga berdasar pengalaman mas Nasir, ada empat komponen:

  • Software. Dibutuhkan perangkat lunak yang mudah dioperasionalkan, murah dan mudah direplikasi, serta memiliki fitur-fitur yang lengkap.
  • Orang. Dalam hal ini maksudnya adalah administrator, karena bagaimanapun juga dibutuhkan admin untuk mengurus dan mengolah hal-hal yang tidak bisa diselesaikan oleh software
  • Pulsa. Karena peraturan USO Kominfo, membuat kelimpungan mereka yang bergerak di lapangan tanpa bantuan dana darimanapun ini.
  • Basis. Tentunya basis yang solid dan bersetia mendukung ‘gerakan’ ini sangat dibutuhkan. Pengelolaan basis juga dibutuhkan di sini.

Solusinya?

Saya, jujur saja, sebagai kodinger langsung memanas tubuhnya. Rasanya pingin segera koding untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan itu. Juga untuk kebutuhan Sorak sendiri misalnya, yang saat ini masih sangat manual untuk mengolah datanya. Maka permasalahan nomer satu, saya rasa bukan permasalahan. Apalagi kalau ada di antara pembaca yang bersedia bersama-sama saya, wuih, beris thok!.

Mengenai masalah orang, saya tidak punya ide. Tetapi mas Catur, mas Nasir dan mas Savicali bercerita bahwa ada kemungkinan untuk bekerja sama dengan telco sehingga masalah pulsa dan orang bisa diakali. Syukur kiranya ada pembaca di sini yang bisa mengusulkan solusi untuk hal ini. Bayangkan saja, untuk basis yang dikelola mas Nasir saja (12.000 orang), maka tiap kali broadcast message, mas Nasir dan teman-temannya harus menyediakan 12000 x 350 (harga satu kali sms). Hal ini tentu berat bagi mereka, apalagi ini bukan mereka-mereka yang digelontori uang APBN seperti tikus-tikus senayan.

Sementara mengenai permasalahan basis, mas Heru dan Mas Savic tidak melihat sebagai masalah, sebagaimana Pak Roem juga tidak melihatnya sebagai masalah. Masalah ini akan menjadi masalah, bila ada yang ingin mereplikasi model ini di tempat lain tanpa memperhatikan masalah kebutuhan basis.

Maka, demikianlah, saya sudah panas. Kapan kita koding?

vale, demi perbaikan

el rony, ngeslah sublime

Gemetar Pak Tua

Pagi ini, seperti biasa, menempuh perjalanan membelah kota dari arah pinggir timur menuju tengah. Mengantar anak sekolah kembali menjadi rutinitas pagi, setelah masa liburan usai. Perjalanan lancar-lancar saja, sepeda motor melaju nyaris tanpa hambatan. Hingga akhirnya harus berhenti sejenak di lampu merah perempatan Polsek Depok.

Sesaat ketika kendaraan-kendaraan berhenti, seorang bapak-bapak tua sedang dibantu turun dari sebuah becak. Si bapak berdiri di samping jalan, di depan becak, sementara bapak tukang becak mengambil sebuah perlak (karpet plastik).

Tubuh si bapak tua tergetar-getar, capingnya goyang kesana-kemari. Tongkat bambu yang dipegang olehnya, tak mampu meredam gempa yang lahir dari usianya. Tak lama kemudian, karpet plastik terhampar. Lalu si bapak tua ini dipandu oleh bapak tukang becak menuju karpet tadi, yang ternyata adalah singgasana bagi si bapak tua.

Tampak kesusahan ketika tubuh renta itu berusaha mengangkat kakinya, menapak lantai trotoar yang sebenarnya ‘hanya’ sekitar 10cm saja tingginya. Pelan-pelan si bapak didudukkan oleh pak becak, tubuh yang renta itu gagal mendarat di tengah singgasana. Luruh seketika di sudut karpet. Seketika pula, magnitude gempa seolah mengombak. Getaran semakin hebat, si bapak tua belum berani melepaskan tongkat bambunya meskipun pantatnya sudah berhasil menyentuh lantai.

Tangan kiri yang berpegangan pada tongkat bambu itu, lalu turun pelan-pelan. Seiring tangan kanannya meraih sesuatu dari tas lusuh yang ternyata dia selempangkan di dadanya. Pelan, lebih pelan dari getaran gempa usianya, lebih pelan juga dari detikan pergantian warna lampu di dekatnya, hingga akhirnya tangan kanan itu berhasil mengeluarkan sebuah toples plastik.

Si bapak tukang becak tampak tidak nyaman, dan sibuk memeriksa becaknya. Mungkin becaknya bermasalah, mungkin juga hatinya yang bermasalah.

Lampu sudah hijau, semua kepala pengendara seketika berubah arah. Motor dan mobil kembali melaju. Getaran kendaraan oleh tidak halusnya jalanan, mungkin mengingatkan getaran gempa usia yang tadi singgah di perempatan. Paling tidak, itu yang terjadi padaku.

vale, demi apapun

el rony, menimbang harga diri.

Query MySQL sebagai dictionary menggunakan Python

Hai, halo..

Tulisan ini sekedar catatan saja, kebetulan baru saja memindah bahasakan program buatan Uda @ivanlanin (SELAMAT ULANG TAHUN!) yang berbasis PHP di sini, menjadi bahasa Python.

Sebelumnya, perlu saya sampaikan bahwa repository github di atas adalah repository corpus Bahasa Indonesia untuk keperluan Natural Language Processing. Perlu saya ceritakan sedikit juga bahwa corpus itu dibangun oleh om Jim Geovedi untuk keperluan robot-robot yang dia bikin. Dalam penyusunan corpus tersebut, om Jim dibantu oleh Uda Ivan salah satunya dengan menyediakan data lexicon Bahasa Indonesia.

Berkas kode dari Uda Ivan di dalam repository tadi sebenarnya adalah dump data dari MySQL menjadi berkas json. Saya sebagai cheerleader tentu saja merasa perlu untuk ikut ngrusuhi –yak mulai di sini saya sudah capek ber-EYD. maafkan saya haha–.

Fetch All

Bagi Anda yang sudah terbiasa dengan pemrograman PHP, tentu tidak asing dengan fungsi fetchall baik ketika menggunakan pdo maupun cli. Fungsi ini mengembalikan query sql menjadi array.

Di Python, fungsi inipun ada juga. Dalam hal ini saya menggunakan MySQL-python untuk koneksi ke MySQL. Tetapi ada “kelemahan” dari fungsi ini di Python, dimana keluaran dari fungsi tersebut adalah list (list juga array sih..tapi..) bukan dictionary (semacam list dengan key,value. bodhone ngono, aku kan bodho).

Nah, karena di baris-baris di dalam kode Uda Ivan banyak menggunakan key value ini, maka saya bikinlah script ini, agar query database keluar sebagai dictionary. Berikut scriptnya:

def FetchAllAssoc(cursor, sql):
    try:
        result = []
        cursor.execute(sql)
        cols   = tuple([field[0].decode('utf8') for field in cursor.description])
        for row in cursor.fetchall():
            result.append(dict(zip(cols,row)))
    except Exception as e:
        result = {"error": str(e)}
    return result

Penggunaannya tentu saja mudah, misalnya saja kode di atas disimpan sebagai file utils.py, maka begini:

import MySQLdb #you'll get this module by installing MySQL-python

from utils import FetchAllAssoc 

db = MySQLdb.connect('host','user','pass','dbname')
cur = db.cursor()

sql = "SELECT a,b FROM c WHERE a IS NOT NULL"

result = FetchAllAssoc(cur,sql)

#if you want to see the result, use pprint to get nice output
from pprint import pprint
pprint(result)

#or you can iterate the value
for row in result:
    print row['key']

Demikian, nggak ada yang istimewa bukan? Gapapa, yang istimewa itu Jogja.

vale, demi senam otak

el rony — tunggal guru, tunggal ngelmu, ojo nggeguyu

woya kelupaan, fork saya belum dimerge. kalau mau lihat fork-fork-an saya, di sini

Jalinan Persahabatan

Postingan kali ini postingan cepat saja, hanya ingin merespon tulisan dari @argamoja di sini. Saya merasa perlu menuliskan ini, bukan sekedar komentar di blog dia, karena saya merasa sebenarnya tidak ada kontribusi yang signifikan dari saya atas proses dia. Tapi sebelumnya, terimakasih Arga, saya tersanjung. Dan selamat atas kelulusanmu 😀

Kelindan Persahabatan

Kurang lebih begitu judul yang aku angkat. Ketika membicarakan hal ini, aku tidak bisa melupakan sahabatku yang sudah lebih dulu menghadap Yang Kuasa, Sridewa. Kawan satu ini paling suka mengingat-ingat, proses pertemanan menjadi perhabatan terjadi. Mungkin dia sudah merasa bahwa hidupnya tidak akan lama, atau bisa jadi memang karena dia adalah hacker aneh yang bahkan dalam kondisi tak bisa ngapa-ngapainpun dia koding pake pensil dan kertas.

Dalam kaitan tulisan ini, maka ingatanku justru kembali ke masa-masa sebelum social media, masa ketika IRC masih berjaya dan egroup baru saja bergeser menjadi yahoogroup. Pada masa itu, sekumpulan manusia dengan berbagai latar belakang, berkumpul di satu tempat, berdiskusi tentang apa saja, berbagi tentang apa saja. Karena warna yang amat sangat beragam dari orang-orangnya, kamipun menamakan diri sebagai Jalinan Persahabatan.

Seiring proses menjalani hidup, saya semakin menemukan esensi indahnya jalinan persahabatan ini. Apa yang ditulis Arga adalah salah satu hal yang mungkin bisa diukur karena menghasilkan selembar ijazah, sehembus nafas lega sang penulis dan sangat mungkin seulas senyum bahagia dari orang tuanya.

Kelindan persahabatan di situ sebenarnya sangatlah kompleks, dimana ada @jogtug di sana, ada jaringan onliners untuk merapi –yang merupakan bentukan mendadak karena ada bencana Merapi, dan di dalamnya ada mereka-mereka yang aku lihat bersemangat bersahabat tanpa pamrih. Hamid, Enthong, Veta, Ilham, Leksa, Sita, banyak sekali yang sangat sulit disebutkan satu per satu. Karena juga kalau disebutkan satu per satu tulisan ini kayaknya akan jatuh menjadi obituari, dan menjadi sangat lucu karena kelindan persahabatannya sampai sekarang masih juga belum mati.

Maka sebaiknya kusudahi saja tulisan kali ini dengan menjura kepada teman-teman dan siapa saja, yang masih menempatkan persahabatan di tempatnya yang semestinya. Tanpa kepentingan, tanpa tedeng aling-aling.

Mari bersahabat dengan siapa saja 🙂

vale, demi persahabatan

el rony, masih percaya dengan persahabatan

Makna Pengembalian Nama Jalan di Yogyakarta

Sejujurnya, nah ini repot, sebuah tulisan yang diawali dengan sejujurnya itu bisa diartikan menunjukkan bahwa tulisan-tulisan saya sebelumnya itu ndak jujur. Ning yo ben wae. Saya ingin menegaskan bahwa beginilah adanya perasaan saya. Ketika mendengar kabar perubahan nama jalan di Yogyakarta, saya spontan bilang “walah!”.

Kenapa walah? Karena “mengusik” kenyamanan. Seperti ketika Jalan Gejayan berubah menjadi Jalan Affandi, rasanya kok ngganjel mengubah kebiasaan menyebut Jalan Gejayan menjadi Jalan Affandi. Tetapi terus terang, penggantian nama jalan ini brilian semua. Contoh yang sudah terjadi ya itu, muncul nama Jalan Affandi, Jalan Nyi Tjondrolukito (jalan monjali), Jalan Tino Sidin (di Kadipiro), Jalan Gito-gati (di Denggung). Nama-nama yang muncul adalah nama-nama seniman. Ini jelas gerakan moral melawan militerisme. Bukan begitu? Biasanya yang dijadikan nama jalan itu nama pahlawan, dan biasanya yang disebut pahlawan itu yang mengangkat senjata. Padahal banyak pahlawan yang bukan semata mengangkat bedhil, tapi juga mengangkat harkat.

Margo Utomo – Malioboro – Margo Mulyo – Pangurakan.

Ruas jalan ini yang terakhir diubah namanya oleh Pemerintah Kodya, menggantikan jalan dari Tugu Yogyakarta ke selatan hingga Kraton. Nama jalan ini bukanlah nama baru, justru dikembalikan ke nama aslinya, sebelum orde baru. Lantas, apa kepentingannya?

Ada makna filosofis yang mendalam di situ. Merupakan satu kesatuan ajaran tentang bagaimana seorang manusia berproses. Sudah ada beberapa artikel di internet sebenarnya yang mengupas tentang hal ini, tetapi saya coba tuangkan juga di sini, karena wis kebacut mbukak editor hihi.

Tugu Yogyakarta, sudah jamak diketahui sebagai simbol pengingat atas Yang di Atas. Tugu yang aslinya berbentuk bulat, golong gilig, menyuarakan konsep manunggaling kawulo gusti. Nah, setiap kita sebenarnya berproses menuju manunggal ini. Monggo saja kalau mau mengatakan ini kejawen, tetapi harap diingat bahwa kita memang dibekali unsur ketuhanan: mencipta, merusak, mengarang dan seterusnya. Kalau diturunkan menjadi hubungan muamalah, maka konsep manunggaling kawulo gusti ini, tampil dalam hubungan yang intim antara pemimpin dengan rakyatnya.

Nah, proses untuk menuju itu, diawali dengan Margo Utomo. Jalan Keutamaan. Berlakulah menjadi orang baik, orang yang utama. Dengan berbekal niat mengingat Tuhan (tugu di belakang), berbuat baiklah kepada sesama. Ketika kita sudah menjadi orang yang utama, maka menjadilah Malioboro.

Dalam bahasa jawa, perintah atau ajakan atau sebutan yang diawali dengan huruf “w” melebur atau berubah menjadi “m”. Wédang berubah menjadi médang, wédok menjadi médok (doh!) dan seterusnya. Maka Malioboro adalah perintah untuk menjadi wali yang ngumboro, mengembara, menyebar. Wali ini bukan terus kyai, sunan dan seterusnya saja, wali selain bermakna wakil (dalam hal ini wakil Tuhan), atau kekasih, atau penolong, juga berarti bolo (menyitir Gus Mus). Seorang yang menjadi wali/aulia,  maka dia menjadi bolo-ne Gusti juga bolo-ne orang-orang di sekitarnya. Ada juga yang mengartikan malioboro sebagai ma-lima-oboro. Bakarlah mo-limo.  Ini mungkin tataran taktisnya. Bukan berarti membakari tempat-tempat molimo, tetapi kita menghindari molimo. Demikian menurut Marjuki (JHF).

Lalu semakin mendekati Kraton kita sampai pada Margo Mulyo. Ketika kita sudah menjadi bolo-né sepodho, kita meningkat menjadi menungso kan minulyo. Kemulyaan dalam arti tidak lagi terbelenggu oleh keduniaan. Orang kaya belum tentu mulia, karena begitu ketahuan dia kaya dari korupsi, ya tak lebih dari maling saja. Di sini juga mengandung makna agar kita senantiasa memuliakan alam sekitar. Kalau dalam agama Islam jadinya rahmatan lil ‘alamin. Tujuan dasar diciptakannya manusia muslim.

Kemudian kita sampai pada Pangurakan. Melepas dari semua hal-hal duniawi. Hal-hal yang bersifat nafsu-nafsu angkara atau nafsu-nafsu kejelekan. Di sini manusia sudah berada di atas derajat kemuliaan. Maka seorang raja jawa dituntut untuk menjadi seseorang yang derajatnya lebih tinggi dari kemulyaan. Kalau kita sudah melepas nafsu-nafsu negatif (semoga ada nafsu positif, karang bahasa ki liyak liyuk), maka tidak ada orang yang bisa merendahkan derajat kita.

Demikian sependek yang saya tahu dan rangkum tentang pergantian nama jalan di Yogyakarta. Hal yang luar biasa dari semua ini, bahwa ternyata semakin mempelajari tentang Sultan HB IX, semakin tampak bahwa semua hal itu sudah dilampaui oleh beliau. Sehingga kemudian terumuskan menjadi Tahta untuk Rakyat.

vale, demi apapun

el rony, mikir karo mbathik.

n.b. buat yang harus mengurus ulang H.O dan lain-lain, sabar nggih 🙂

Serba-serbi Apple Krowak

Postingan ini ya postingan selo saja, ndak ada yang istimewa. Sudah lama ndak ngeblog, jadinya ya seadanya yang pingin diblogkan saja. Postingan ini sebenarnya dipicu —halah— oleh risinya saya karena file .DS_Store yang selalu muncul di desktop. Sebagai orang visualhalah maneh— ini kan sangat mengganggu. Maka sayapun mencari cara untuk menanggulanginya, maka –lagi-lagi maka– inilah olah kanuragan selanjutnya —halahraimundes–.

Baiklah, semuanya berawal dari kebutuhan saya untuk memunculkan semua hidden files di Finder Mac. Kebetulan saya sedang senang bermain-main dengan bahasa kaum slytherin, Python. Nah, saya merasa nyaman bekerja di bawah virtual environment (virtualenvs). Namun ada kalanya saya perlu juga mengedit file core module yang di folder virtualenvs ini, yang mana sebenarnya bisa dengan mudah diakses dengan terminal, tapi karena saya ini bukan preman kayaknya kok perlu juga sekali-sekali ndak nongkrong di terminal. Nah karena virtualenvs ini foldernya hidden, agar muncul di Finder saya jalankan perintah ini:

defaults write com.apple.finder AppleShowAllFiles TRUE

Maka muncullah semua file hidden di Finder, sehingga saya bisa klik kanan dan jalankan sublime text untuk mengedit file-file hidden maupun di dalam folder hidden itu. Tapi ya itu tadi, lantas muncul file .DS_Store di desktop. Mengganggu banget!

Apa sih file .DS_Store ini? Sebenarnya ini file semacam Thumbs.db di Windows. Tugasnya cuma menyimpan settingan finder saja. Jadi kalau kita pingin misalnya view as thumbnails di folder A, view as list di folder B, dan seterusnya, informasi ini disimpan di file .DS_Store ini. Penting? ya penting buat kamu yang pingin nyimpen informasi itu, sehingga ke depan settingan per foldermu tidak berubah. Tapi bagi saya, lebih penting kalau desktop bersih dari file ini. hihi. Bagaimana caranya? Dua langkah yang harus dijalankan, yang pertama adalah mendisable pembuatan .DS_Store, dengan script ini:

defaults write com.apple.desktopservices DSDontWriteNetworkStores true

dan yang kedua adalah mendelete semua file .DS_Store di dalam komputer apel krowak kamu. Atau ya sebenarnya bisa saja delete di folder yang ingin kamu delete sih, tapi karena ini saya ingin sharing apa yang saya lakukan, jadi saya lakukan ini:

sudo find / -name ".DS_Store" -depth -exec rm {} \;

Nah, sekarang bersih sudah.

Kalau nanti kamu pingin meng-hide lagi file-file hidden dari Finder, ya tinggal mengubah script untuk show file hidden tadi dari True menjadi False. Kalau ingin mengaktifkan .DS_Store, ya tinggal mengubah DSDontWriteNetworkStores dari true menjadi false juga.

Begitu ya, vale ini, demi keselonan tentu saja.

HAKABEPE

Istilah ini pertama kali kukenal dari @bayupamura . Istilah yang muncul ketika membahas atau tepatnya ngrasani teman-teman yang kebetulan memiliki bapak yang terkenal.Ya, istilah itu awalnya kurang lebih kependekan dari Himpunan Anak Kabotan Jeneng Bapak. Tetapi dalam tulisan kali ini, aku menggeser kepanjangannya menjadi Himpunan Anak Kabotan Pengarep-arep.

Anak adalah Harapan

Sebagaimana nama anak disebut-sebut sebagai doa orang tua, sehingga mencari nama anak biasanya melalui proses yang panjang, semua proses yang dilalui dalam hubungan orang tua-anak adalah proses menyantolkan harapan, bahkan hingga pilihan orang tua dalam menyekolahkan anak. Semua itu pada intinya mengarah kepada harapan-harapan yang coba dibangun oleh orang tua.

Kalau mengingat bagaimana orang tua saya menjalani proses itu, dari mulai memberi nama hingga cara mendidik, maka harapan-harapan itu lekat di sana. Dan saya, mungkin juga semua anak demikian, rasanya ingin membalas budi kebaikan orang tua yang sudah merawat kita dengan mengabulkan harapan-harapan tadi.

Harapan ini kemudian melahirkan kebanggaan pada sisi orang tua, ketika kemudian tercapai dan mungkin diukur sebagai prestasi oleh hampir semua kalangan. Taruh kata orang tua saya menginginkan saya menjadi anak pintar, makanya tiap jam 5 sore saya sudah “dijemput” dari tempat bermain. Selama perjalanan pulang –yang biasanya telinga saya menempel di jari bapak saya– kata-kata yang diulang adalah mengingatkan soal pentingnya belajar dan mengaji. Maka ketika kebetulan — ya memang kebetulan kok — saya ranking 3 besar terus menerus, orang tua saya mengungkapkan kebanggaannya di depan teman-temannya (biasanya saya mendengar hal ini kalau ada teman orang tua saya yang bertamu).

Hal yang melintas di kepala saya waktu itu, senang. Tetapi hanya bertahan hingga kelas 3 SD. Saya mulai jengah, dan dengan berdalih pingin melihat bagaimana rasanya berada di ranking bawah, saya pun terjun ke ranking 5. Perasaan jengah ini berlanjut sehingga saya memilih sendiri SMP dan SMA serta tempat kuliah. Tak peduli bahwa NEM saya berada di ranking bawah. Ya, sesekali unjuk kebolehan sih apa boleh bikin, namanya anak muda. Tapi nangkring tiga besar sekali dua kali saja sudah cukup, biar orang tua tidak terlalu sedih. Ini yang saya rasakan dan lakukan waktu itu.

Yang menggaris bawahi judul tulisan kali ini justru perasaan jengah tadi, yang nampaknya cukup mewarnai perjalanan hidup. Tentunya tiap orang berbeda-beda, tapi ketika ada istilah kabotan jeneng bapak, aku kok cukup yakin, ada juga keadaan yang boleh disebut kabotan pengharapan.

Agar tidak kabotan

Bagi saya, sependek pengalaman saya juga, yang namanya kabotan itu beban. Dan memelihara beban di pundak anak itu menurut saya kok ndak oke. Ini terkait pula dengan pilihan tidak memiliki hutang, termasuk kartu kredit, tetapi itu hal lain sih.

Maka, agar tidak kabotan, sebisa mungkin saya berusaha tidak menonjol-nonjolkan capaian-capaian anak. Hal yang sulit dikoordinasikan dengan kakek neneknya, karena nampaknya ini sudah default ada di tiap manusia. Tetapi paling tidak, saya memulai dari keluarga saya saja. Memberi penghargaan tentu perlu, supaya anak jadi bersemangat, tetapi tidak perlu membangga-banggakan di depan khalayak.

Yang tampil di khalayak kemudian hanyalah hal-hal yang terkait dengan capaian bersama. Bukan capaian individu. Sehingga harapan saya (lagi-lagi harapan), saya tidak membebani anak saya dengan mimpi-mimpi saya sebagai orang tua.

Namun tentu saja ini juga belum terbukti. Sebagai orang tua, saya baru menjalani 6 tahun saja. Dan baik sebagai orang tua maupun sebagai teman bermain anak, sepertinya juga belum memberikan bukti apapun atas pilihan ini.

Maka dari itu, saya share pikiran ini di sini, siapa tahu ada tanggapan dari pembaca. Kalau ada. Kalau diampiri orang juga. Ya, lagi-lagi apa boleh bikin, ini juga bukan terminal tempat orang nunggu bis.

vale, demi kemerdekaan

el rony, berusaha mengurangi beban

Bangsa Archipeklepto

Screen Shot 2013-08-27 at 10.35.16 AMBeribu-ribu pulau di Indonesia, dengan jumlah penduduk yang luar biasa banyaknya, memungkinkan munculnya sosok-sosok kreatif yang layak untuk dicatat sejarah. Namun ada hal yang layak disayangkan, dimana muncul pula mental-mental pencuri yang tidak kalah semarak. Pencurian ini dari mulai yang skalanya besar seperti koruptor, hingga skala kecil berupa klaim. Tulisan kali ini saya ingin membahas soal klaim-klaiman karya, terutama karya mas @krisnapurna.

Lagu “Bukak Sithik Joss”

Lagu yang bertema dangdut ini adalah lagu yang menjadi soundtrack film besutan Eddie Cahyono dengan judul “Cewek Saweran”, yang ditulis oleh Ifa Isfansyah. Lagunya sederhana saja, tetapi menyentil pendengar, karena liriknya yang tak kalah sederhana seolah menggugat kenapa para penikmat musik dangdut suka sekali melontarkan kalimat “bukak sithik joss“.

Tanpa harus menghitung tahun, lagu inipun menyebar secara viral. Lagu ini seakan menjadi pembuka wajib bagi sebuah konser dangdut, terutama dangdut pantura (sebutan bagi genre lagu yang berasal dari daerah pesisir pantai utara). Tidak ada kesepakatan apapun, apalagi royalty, dengan sang pencipta lagu, mas @krisnapurna. Itu sependek yang saya tahu, dan sepengetahuan saya pula, sang pencipta tidak berkeberatan dengan hal itu.

Mungkin karena mas krisna ini berada di lingkungan Yogyakarta, maka hal-hal seputar legowo dan “e yo wis rapopo” sudah menjadi bagian darinya. Namun hal ini menjadi lain, ketika sebuah stasiun TV menggunakan lagu itu sebagai lagu pembuka wajib. Ada unsur komersil yang tidak besar kecil di situ tentunya, sehingga hal ini menjadi kegelisahan kawan-kawan mas Krisna. Mas Krisna sendiri sih kayaknya tidak terlalu ambil pusing ya, entahlah. Akhirnya kabar terakhir yang saya dapat, pihak stasiun TV sudah mengontak Mas Krisna secara langsung dan sepertinya sudah ada kesepakatan-kesepakatan.

Hal yang menjadi ganjalan bagi saya adalah kenapa bagian comot mencomot tanpa ijin ini seakan menjadi hal lumrah di negeri kita ini ya? Tapi mungkin ini tidak terlalu dipusingkan oleh mas Krisnapurna, karena yang dia lakukan justru hal yang di luar perkiraan.

Sebelum pihak stasiun TV menghubungi beliau, mas Krisna sudah membuktikan dulu bahwa dialah yang mengaransemen lagu tersebut. Caranya? dengan meng-cover lagu Metallica.

Metallica  Open Little George!

Konser Metallica di Jakarta sudah mendekati waktunya, gegap gempita para fans juga sudah membanjiri timeline Twitter maupun Facebook. Lantas mas Krisna membuat ini:

Metallica, Open little george!

Sangar! Cover song itu seakan-akan benar-benar Metallica menyanyikan lagu “Bukak sithik joss”. Ditambah dengan aransemen lagu yang dibuat jadi sangat metal dan ngerock. Video inipun langsung tersebar secara viral.

Tapi apa lacur? Begitu konser Metallica berjalan, ada pula yang memanfaatkan moment itu dengan meng-crop video mas Krisnapurna dan meng-aku menjadi miliknya. Ini maling sudah tak bermoral, tak punya estetika pula. Wagu tenan. Silakan lihat video ini:

Metallica rip-off

Mengapa sih sedemikian parahnya mental klepto di negara ini? Yang seperti ini tidak bisa diselesaikan oleh satu dua tokoh macam Jokowi atau Ahok. Yang seperti ini hanya bisa dihancurkan dengan menanamkan pada diri sendiri, jangan klepto!

Akhir kata, mas Krisna, sabar nggih.

vale, demi kejelasan

el rony, #openlittlegeorge

p.s. sempat ada kesalahan link rip off, sudah saya perbaiki. mohon maafkan 😀

Aplikasi Mobile Khusus Curhat Yang Mahal Itu..

ba2b77bdb62bf60ca15c484dc61533d3_viewDari tulisan Mas Jun ini, aku kok jadi teringat-ingat lagi, soal tulisan bak truk. Sudah lama tulisan bak truk ini menjadi bahan perbincangan, terutama karena memang tulisan di sana memunculkan kata-kata ajaib yang catchy di telinga. Lihat saja kata “Kutunggu Jandamu” dan “Lali Rupane, Eling Rasane“.

Media Curhat

Iya, ini adalah aplikasi mobile paling mahal. Bayangkan, untuk bisa curhat di bak truk, kamu harus menyisihkan uang ratusan juta, harus punya truk dulu. Setelah punya truk, bisa deh kamu akhirnya menuliskan curhatanmu, dan curhatanmu itu akan melanglang menjajah negeri, beredar dari satu kota ke kota lain.

Betapa repotnya ya curhat jaman dulu? Tetapi karena effort yang tidak sedikit itu, jadilah media curhat itu sebagai ajang adu kreativitas pula. Dari mulai pilihan kata-kata hingga dari segi artistik. Aku membayangkan proses pemilihan font-pun butuh beberapa hari.

Beda dengan jaman sekarang. Semua orang bisa dengan mudah bikin akun sosial media, lalu curhat lah di sana. Murah, makanya curhatannyapun murahan. Apa boleh bikin.

Motivasi

Ini selalu yang dipertanyakan orang-orang, termasuk Mas Jun tadi, tentang mengapa curhatan itu muncul di bak-bak truk. Aku sendiri justru memilih berpikir lain, menurutku seperti yang sudah kutuliskan di atas, yang terjadi justru sebaliknya.

Para juragan pemilik truk itu memilih memiliki truk, agar mereka punya papan curhat berjalan. Bahwa kemudian itu jadi papan curhat supir (yang biasanya anak buahnya) tak jadi soal. Yang penting dia berhasil memiliki papan curhat mobile.

Dengan memiliki papan curhat mobile, dia sudah memberi media penyaluran, baik bagi unek-uneknya sendiri yang selalu jadi “buronan mertua”, maupun orang lain, minimal sopirnya. Dan efek inipun sifatnya viral, menyebar.

Kegelisahan supir yang “pergi karena tugas, pulang karena beras”, dituangkan dalam media papan curhat mobile, dengan desain dan font yang menakjubkan, telah pula menyumbangkan senyum simpul hingga bahan obrolan, bahkan bahan tulisan seperti postingan ini.

Jadi, motivasi pemilik papan curhat berjalan itu sudah jelas, agar menjadi rahmatan lil ‘alamin. Maturnuwun, juragan truk.

vale, demi apapun

el rony, nabung nggo tumbas papan curhat mobile.

nb. foto diambil dari sini http://www.mobypicture.com/user/Andi_MK/view/9791137