Missconception about UX and Design

First of all, I’m not really good at English, but I hope you’ll find the ideas. So, please bear with me. No, I’m not asking you to ‘bare with me’.

Lately, I’ve stumbled to a bunch of images like this (bellow), comparing between design and user experience. All of them showing that most designs are wrong in real live regarding to user experience. Let’s take a look.

hClOzhD

taken from http://www.reddit.com/r/funny/comments/2taxzn/workaround/

taken from http://cimota.com/blog/2015/05/12/ae-in-ni-a-problem-of-emergent-use-versus-public-service-development/

taken from http://cimota.com/blog/2015/05/12/ae-in-ni-a-problem-of-emergent-use-versus-public-service-development/

image002

taken from http://cimota.com/blog/2015/05/12/ae-in-ni-a-problem-of-emergent-use-versus-public-service-development/

So, what do you think? Is it true that the design is wrong? Or is it something else? As for me, this is my opinion:

It’s More About Ignorance, Not UX

In our live as a society member, we are bound to several unwritten rules. Rules that are not really give any impact to us if we ignored it. Those images are the very good example about that. People do ignore, and sometimes because they are lazy.

Why I come to this conclusion, you may ask. Well, because that was really happen. The road design has to be in the most effective form. And by effective, the road design should accommodate several things. Things including the land property and the city plans. And for that purpose, square is almost he most perfect form for it.

But most of the time, people are so unrasionalistically (pffttt.. what kind of word is it?) lazy and ignorance. They simply ignore the fact that they were ‘vandalize’ other rights. They simply reject the rules, by crossing other properties. Imagine if that was a private property, which in some country they take very seriously about it, those people who ignore the rules could be end in the hospitals, or worse cemeteries.

So, back to our main topic, I stand my position that there is no wrong with the road design and what people do about it is nothing to do with user experience.

If User Experience means the design should accommodate people laziness and ignorances, then the world will be in a chaos. Let’s bring this to web design mater, so we can discuss about it more widely.

In the web design, for example the e-commerce design, lazy people will ignore a bunch of form that we ask them to fill, like address form for example. So, if in the name of user experience we simply get rid of that form, or just ignore it if people left it blank and keep submit it to our system, will we be able to finish the transaction? Shipping the product for example? No, right?

So, long story short, please do distinguish between use experience issues and how people act. People tend to be lazy, ignorance and simply stubborn, but put that away if we want to discuss about user experience.

Discuss about UX are only match for nobble people who respect rules.

vale, el rony

sedang embuh

 

Sugeng Kondur, Mid

Hidup adalah ujian dan kematian adalah wisuda. Seberapa baik kita menjalani hidup, niscaya akan tampak bagaimana semesta menyikapi kepergian kita. Dan kamu telah winisudo, mid. Kalau boleh kubilang, insyaAllah kamu lulus dengan gemilang.

Engkau lahir menangis, diiring senyum bahagia orang-orang di sekitarmu. Kini engkau pulang –sempat kutengok wajahmu tadi di bangsal rumah sakit, seulas senyum khasmu masih melekat– dan orang-orang di sekitarmu kini menangis.

Tugasmu telah selesai, kawan, sahabat, adikku terkasih. Selamat pulang. Sejarah mencatat, kehadiranmu adalah jembatan. Dan sedikit banyak, kehadiranmu menyumbang warna, pada lanskap dunia IT Jogja. Semoga menjadi amal jariyah.

Kami, aku, akan masih terus melangkah.
Satu saat nanti, kita akan bersua kembali, gojeg kere tentang dunia yang betapa alangkah.

IMG_2015-05-20 20:22:13

vale, …

Jogja, 19 Mei 2015. Faith in Humanity Restored.

Postingan kali ini saya dedikasikan kepada Tim SAR, BNPB, BPBD, Relawan dan semua yang terlibat proses evakuasi korban yang jatuh ke kawah Gunung Merapi beberapa hari lalu. Oleh karenanya, saya tidak akan menulis panjang lebar, sekedar merangkum apa yang terekam dari cctv milik BPPTKG, sekedar mengingatkan diri saya sendiri dan siapa saja yang membaca, bahwa kita masih memiliki kemanusiaan. Sekaligus menjadi pengingat, atas aksi heroik yang mungkin oleh pelakunya sendiri (anggota tim dan relawan) “hanya” dilihat sebagai keseharian menjalankan misi kemanusiaan.

Seperti kita semua tahu, hari Sabtu kemarin, 16 Mei 2015, seorang mahasiswa sebuah kampus di Yogyakarta, jatuh ke kawah merapi setelah berfoto-foto di puncak garuda di bibir kawah. Meskipun sudah ada papan larangan serta diingatkan oleh petugas di tiap pos — tidak seperti yang diberitakan reportase trans7 bahwa tidak ada larangan– tetap saja banyak yang melanggar. Akibatnya, sekitar 100 orang (mungkin kurang,mungkin lebih) menjadi sibuk menerjang kawah panas yang sempat mencapai 160 derajat celcius, untuk mengevakuasi korban yang jatuh tersebut.

Dan setelah berjuang hampir tiga hari, akhirnya Tim Evakuasi berhasil mengangkat jenazah korban dari kawah, dan membawa turun gunung, dengan selamat. Maka, berikut detik-detik terakhir proses evakuasi tersebut.

01. 19 Mei 2015 - 12.15 wib

02. 19 Mei 2015 - 12.29 wib

03. 19 Mei 2015 - 12.35 wib

04. 19 Mei 2015 - 12.50 wib

05. 19 Mei 2015 - 12.55 wib

06. 19 Mei 2015 - 13.00 wib

 

 

vale, demi kemanusiaan

el rony, menjura sedalam-dalamnya.

nb. teruntuk mas ringgo yang membawa dan mengendalikan drone di puncak merapi, semoga kita bisa bertemu mas, saya pingin salaman kenceng 🙂

nb. woiya, terimakasih juga kepada tim @pasagmerapi @jalinmerapi dan @bpptkg, kalian adalah bukti bahwa onlan-onlen ki yo ono gunane *lho* 😀

Pak, Belikan Saya Laptop

Hari masih pagi, ketika saya berkesempatan bertemu lagi dengan seorang bapak di sebuah pojok kampung. Beliau masih ingat dengan saya, senyum lebar mengiringi ucapan selamat pagi. Saya sedang ingin melanjutkan pekerjaan semalam, maka setelah saling sapa, saya menggelar mesin ketik saya dan mulai membatik kode.

Selang beberapa saat kemudian, si bapak menghampiri, lantas bertanya,”mas, laptop itu harganya berapa ya?”. Respon sayapun spontan,”tergantung pak, bapak mau cari laptop yang seperti apa? atau laptopnya mau bapak pakai untuk apa?”. Semua dialog ini dalam bahasa jawa tentu saja.

Malu-malu si bapak menjawab, “bukan buat saya mas, buat anak saya”. Maka berceritalah beliau tentang anaknya. Kelas 1 SMA saat ini, dan sebentar lagi naik kelas. Si anak meminta laptop ke bapaknya untuk bekalnya menjalani pendidikan lanjut. Pikiran saya langsung teringat dengan perdebatan panjang beberapa tahun lalu, tentang pelaksanaan IT di sekolah-sekolah. Tentu saat ini sudah semakin besar tuntutan akses ke teknologi ini.

Si bapak ini pekerjaan utamanya adalah pemulung. Hampir setiap hari dia berkeliling mencari sampah plastik untuk dikumpulkan ke pengepul. Berapa penghasilannya tiap hari, aku tak bertanya. Saya bertemu dengan beliau karena rumah tempat saya nongkrong ini mempekerjakan beliau untuk membantu bersih-bersih di hari-hari tertentu. Dan juga untuk beliau menginap, kalau tidak salah. Karena beliau rumahnya di Magelang, bukan di Jogja. Ngiras pantes ikut jaga rumah, begitu kalau ndak salah kata yang empunya bangunan, teman saya.

Tidak bermaksud mengecewakan beliau, sayapun mulai browsing-browsing ke toko-toko komputer online. Saya buka beberapa tab browser sekaligus, sambil mengira-ira harga berapakah yang dimaksud oleh si bapak ketika beliau sempat bilang “yang murah saja”. Setelah sekian website terbuka, terpampanglah gambar-gambar laptop beserta harganya, aku pilih urutan dari yang harga terendah, dengan harapan beliau bisa menemukan yang dicari.

Setelah kurasa cukup, aku tunjukkan ke beliau laptop-laptop yang berhasil kupindai tadi. Paling murah 3 juta. Setelah aku bilang begini, tampak senyum tersirat di wajah si bapak. “laptop itu bisa buat macam-macam ya mas, saya ndak ngerti kayak gitu kayak gitu, ternyata bisa buat mencari tahu begini-begini juga. Kalau laptop mas ini pasti di atas lima juta ya”. Sayapun tersenyum.

“Yang di bawah satu juta nggak ada ya mas?”

Saya terdiam.

“Ya sudah mas, terimakasih banyak. Monggo lanjut kerja lagi, saya tak mbersihin halaman”.

 

Tiba-tiba saya kehilangan semangat koding. Laptop saya tutup. Saya ambil sebatang rokok, dan melamun.

vale, demi apapun

el rony, mengharap udara menjadi seribu kali lebih berat setelah ditimpa asap rokok, agar bisa menghela dengan kuat.

Belajar dari Pasemon Sunan Kalijogo

Beberapa waktu lalu, jelang tengah malam, saya menuliskan status di facebook saya. Ceritanya, saya sedang termangu-mangu waktu itu. Semenjak menenggelamkan diri ke kodingan, saya agak lama tidak mengunjungi sosial media baik fb, twitter apalagi googleplus. Dan ketika saya iseng menengok timeline facebook, betapa alangkah riuhnya. Lantas saya jadi teringat saudara beliau, Sunan Kalijogo.

Dari kecil, dari semenjak saya mulai bisa mandiri belajar hal-hal seputar agama dan keberagamaan, Sunan Kalijogo sudah menjadi satu tokoh yang terpatri dalam di diri saya. Awalnya sangat bisa jadi karena kisah kesaktian beliau, yang bisa mengimbangi kesaktian Syekh Siti Jenar: menembus bumi, mengeluarkan air dari batu, dan seterusnya.

Seiring pertambahan usia dan sedikit bertambah pengetahuan saya tentang ilmu-ilmu alam, segala kisah kesaktian tokoh apapun tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa.  Namun Sunan Kalijogo masih tetap mendapatkan ruang di hati saya. Bahkan ketika saya SMA dan mengenal satu kitab “Waliyullah wa Karomuhu” –saya lupa karangan siapa– yang mengangkat tentang mereka-mereka yang layak disebut wali/aulia (settingnya di arab, maka tokoh-tokoh yang ditulis juga tokoh-tokoh arab) beserta karomah (bahasa anak kecilnya sih kesaktian)nya, saya masih melihat ada sesuatu yang berbeda di Sunan Kalijogo, yang kemudian saat ini saya melihatnya sebagai ciri menonjol beliau sehingga beliau layak menyandang gelar wali.

Maka kali ini saya ingin menuliskan hal terkait status singkat di facebook saya tersebut. Keistimewaan yang dicontohkan oleh Sunan Kalijogo.

Anda semua tentu tahu bahwa Masjid Demak dibangun oleh para Wali. Seluruh wali menyumbangkan tenaga dan pikirannya waktu itu, juga mengirimkan jati terbaik untuk tiangnya. Beberapa kisah menyebutkan bahwa Sunan Kalijogo juga mendapat tugas untuk mengirimkan tiang penyangga masjid, namun beliau tidak melakukan apa yang dilakukan oleh wali yang lain, dan inilah yang saya tuliskan sebagai status di fb saya itu.

Masjid bagi kaum muslim, adalah rumah Allah, tempat suci dimana kita merasa paling dekat dengan Allah. Maka hal-hal di dalam masjid atau di seputar masjid, biasanya dipilih yang paling istimewa. Hal ini sepertinya wajar bagi manusia seperti kita, dari sejak jaman menyembah matahari, tempat peribadatan selalu mendapatkan bahan terbaik untuk menyusunnya.

Para wali mengirimkan jati mas, kayu jati yang sudah tua (matang) yang sangat lurus. Kayu jati mas adalah kayu jati terbaik. Jangankan untuk masjid, untuk rumah kita sendiripun pasti kita pilih tiang dari kayu jati yang lurus/baik. Kayu jati yang bengkok tidak mendapatkan tempat.

Namun selurusnya kayu jati tersebut, pasti ada bagian yang tidak rata, yang kemudian perlu diratakan. Akibatnya banyak sisa tatalan yang harus dibuang dari kayu yang diniatkan menjadi tiang masjid tersebut.

Di sini saya melihat halusnya perasaan Sunan Kalijogo. Bayangkan jika Anda adalah sang kayu jati tersebut. Anda terpilih menjadi tokoh utama untuk menyangga rumahnya Tuhan. Tentu Anda gembira bukan? Tetapi ternyata Anda adalah bagian dari kayu jati yang tidak rata, yang kemudian harus dipangkas, sehingga Anda gagal menjadi tiang masjid. Kecewa bukan?

Dan inilah peran seorang Sunan Kalijogo, beliau menata Anda-anda yang terbuang, yang dianggap tidak layak menjadi tiang masjid, yang dipandang memperjelek fungsi. Sunan Kalijogo meraup yang terbuang ini, menata pelan-pelan, seakan berdialog dengan tiap tatalan, dimana kiranya mereka ingin ditempatkan sehingga mereka bisa menyatu menjadi tiang yang rapih.

Dan berkat Sunan Kalijogolah, tatalan-tatalan, umat yang brocel-brocel seperti saya, mendapatkan kesempatan yang sama dengan kayu-kayu yang lurus dan mulus.

Dari beliau mari kita belajar, begitulah sebaiknya kita berseru. Ajaklah dengan jalan yang baik, karena semua berhak memperoleh kesempatan mengabdi kepada Tuhannya.

Doaku untukmu, kanjeng Sunan. Sungguh njenengan telah memberi contoh persis apa yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi terhadap sebuah pohon kurma tua. Silakan cari info mengenai ini, dan insyaAllah Anda setuju dengan saya.

vale, demi kebaikan

el rony, belajar dan belajar

Social Media di Kehidupan Nyata itu: Menyapa

Sore tadi, saya berkesempatan melewati satu ruas jalan di utara Perempatan Tajem, Jogja. Refleks kepala saya menoleh ke kiri, menyapu penjaja makanan yang membuka lapak di sepanjang jalan. Sekelebatan saya lihat ibu penjual gorengan itu ada di sana.

Di sepanjang jalan Tajem sebenarnya ada banyak sekali penjual gorengan, tetapi menurut lidah saya yang sudah sampai pada tahapan manja ini, gorengan ibu itu adalah yang paling nikmat. Tolok ukur saya sederhana saja, ada di ubi goreng tepungnya.

Ubi, dalam hal ini ubi jalar, adalah jenis makanan yang termasuk rakus memakan unsur-unsur tanah. Maka ketika pola bertanam kita sudah sedemikian amburadul, sehingga apa-apa harus pakai pupuk, ubi jalar menjadi satu benchmark bagi saya untuk menentukan apakah bahan pokok yang dipakai kebanyakan dipacu pupuk ataukah tidak. Gampang saja, kalau ubinya pahit, maka bisa dipastikan tanahnya sudah tercemar atau terlalu banyak dihajar dengan unsur-unsur kimia buatan. Biasanya hal ini baru terrasa setelah sang ubi yang sudah diubah menjadi ubi goreng tepung, mengendon selama satu malam. O iya, saya sering beli gorengan agak banyak, sehingga bisa untuk ngemil di pagi harinya setelah semalaman menemani lemburan.

Maknyus!

Nah, gorengan ibu ini, mak nyus. Enak ketika masih mangah-mangah, maupun ketika sudah adem. Bahkan khususon illa rukhi –halah– ubi goreng tepungnya, joss gandhos! Enak bahkan hingga di hari berikutnya. Tidak berair, menjadi bau dan yang penting tidak lantas menjadi pahit. Maka semenjak mengenal pertama kali si ibu itu, eh maksudnya gorengan si ibu itu, saya sudah memastikan akan menjadi pelanggan tetapnya.

Hanya saja, sudah dua minggu ini si ibu tidak jualan. Saya pikir si ibu yang jilbaban itu juga sedang merayakan liburan natal dan tahun baru, ya siapa tahu beliaunya termasuk gaul gitu, tetapi kok ya sudah lewat seminggu masih juga belum buka. Saya jadi khawatir. Khawatir si ibu ndak jualan lagi maksudnya, seperti mas Roti Bakar langganan yang sekarang entah kemana. Roti Bakar langganan itu juga sama, rotinya ndak pahit, enak, tapi menghilang setelahnya dan berganti dengan penjual baru, yang rasanya jauh banget berbeda. Ini sungguh membuat sedih saya, sebagai pandemen cemilan teman lemburan.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, maka malam tadi saya ngeslah sendal dan bergegas menuju ibu gorengan. Masih sore itungannya sebenarnya, karena baru sekitaran jam 19.30, tetapi gorengan sudah ludes, hanya bersisa tiga plastik kecil. Saya tanya apakah ubinya masih? Dan sudah menjadi kehendak Allah SWT, masih tersisa enam butir ubi goreng. Mantap sudah!

Lantas sambil mengais-ngais *halah karang kene ki pemulung* sisa gorengan, saya iseng bertanya kepada si ibu, kenapa lama tidak buka. Dan seperti sudah menunggu ditanya, langsung saja 14 lembar cerita dengan 2 spasi dan font 12pt keluar dari si Ibu. Ternyata mertua si ibu sakit, tumor paru-paru.

Beliau bercerita tentang bagaimana si ibu sudah 25 tahun ikut beliau, bagaimana kesakitan si ibu, bagaimana beliau pontang-panting mencari lab, dan sebagainya. Hingga di lembar ke 12 saya menyela sedikit, “..tapi ibu sudah ikut bpjs kan ya?” dan lantas 2 lembar berikutnya berisi bagaimana bersyukurnya beliau karena sudah ikut jamkesmas.

Saya teringat sekali, bapak RT tempat saya kebetulan bersemayam saat ini *duh bahasaku ki piye to* juga ndilalah mendapat anugrah tumor di rahang beliau. Kemoterapi yang beliau jalani, kurang lebih sama dengan yang dialami mertua ibu gorengan tadi, berkali-kali dan biayanya mahal sekali. Dan dari pak RT inilah saya pertama kali bertemu dengan agen marketing BPJS, yaitu beliau sendiri karena beliau sangat terbantu ketika memakainya. Beliau bukan orang BPJS, bukan pula agen dalam artian dibayar oleh BPJS untuk memasarkan produknya, beliau hanya pengguna yang terpuaskan. Tagihan yang mustinya berpuluh juta, jadi tinggal puluhan ribu rupiah saja dibayarkan oleh beliau. Itulah mengapa ketika si ibu gorengan bilang sudah ikut, seketika saya langsung…

Lega..

Kenapa lega? Karena si ibu gorengan menjalani profesinya itu untuk membiayai sekolah anak-anaknya, bukan untuk menghadapi biaya berpuluh-puluh juta. Karena saya masihlah makhluk lemah tak berdaya, yang hanya mampu menjadi pelanggan beliau, tidak mampu memberi lapangan kerja yang memadai untuk ribuan orang bahkan mungkin jutaan yang kebetulan bernasib seperti si ibu, ataupun pak RT, ataupun tetangga saya yang lain yang hanya buruh tani tak berlahan.

Pada saat seperti itu, saya sungguh bersyukur ketika negara hadir. Sehingga saya yang tampak angkuh namun sebenarnya rapuh ini, bisa menyandarkan sedikit hal-hal menyesakkan seperti di atas, pada institusi yang memang sudah selayaknya menjaga hak-hak warganya.

Sebagai bagian kecil –saya adalah yang terlemah– dari mereka yang bertarung menghadapi tembok tinggi kekuasaan, kali ini saya benar-benar hanya bisa membagi senyuman lega kepada si ibu gorengan. Meskipun kelegaan yang sejati masih jauh prosesnya, namun paling tidak si ibu tidak perlu buru-buru putus asa. Dan saya bisa berharap bertemu lagi dengan gorengan beliau di hari-hari berikutnya.

vale, demi kesehatan

el rony, menikmati 6 potong ubi, 1 buah pisang gorang, 2 butir pisang aroma, 1 helai tempe gembus.

nb. saya hanya bisa membantu berdoa ya bu

nb.nb. inilah sosial media, menurut saya.

 

Letakkan Masalah pada Tempatnya

Tulisan ini sebenarnya refleksi saja. Dari pengalaman hidup yang baru sepenggal ini, dan sudah pasti belum layak untuk menasehati orang lain, maka ya saya hanya membagi nasehat saya kepada diri sendiri. Siapa tahu, ada diri lain yang bisa memberi pencerahan.

Keinginan menulis hal ini sebenarnya sudah cukup lama, hanya saja kemalasan lebih menguasai saya, jadilah baru ditulis sekarang. Adalah kebetulan saat ini sedang ada ramai-ramai, oh lebih tepatnya sih sebenarnya tiap hari kita ada ramai-ramai. Tentang apa? Tentang apa saja. Saya jadi berfikir, begitu pandai kita membuat apa saja menjadi bahan eyel-eyelan.

Lalu saya kembali melihat diri saya sendiri, mencoba mengingat-ingat lagi, pendekatan seperti apa yang saya lakukan ketika menemukan sebuah masalah. Dan seperti sudah saya duga sebelumnya, kebanyakan polanya adalah menempatkan masalah di luar diri.

Sudah sejak lama sebenarnya saya memilih mengubah cara pandang. Setiap ada masalah, upaya pertama adalah menemukan kesalahan saya sendiri dimana. Dan kalau tidak ketemu, tetap hati-hati ketika menempatkan kesalahan ada di diri orang. Lantas kalau memang kesalahan ada di diri orang lain, pilihannya ada dua, menegoisasi penyelesaian atau membiarkan. Kenapa membiarkan? Karena ada beberapa hal yang memang hanya akan memperlebar masalah ketika dibahas. Taruh contoh misalnya mengenai tanah.

Apakah ini sifat pengecut? Setelah saya menimbang lebih jauh, saya tidak keberatan disebut pengecut. Iya, saya adalah pengecut ketika menyangkut konflik horisontal. Ini memang pilihan.

Lantas apa kaitannya dengan ontran-ontran yang selalu ada? Aku pikir masalahnya ada di penempatan kesalahan yang tidak tepat. Menempatkan kesalahan di luar diri itu paling mudah. Kita menjadi merasa aman, merasa tenteram dan menjadi pembenaran atas apapun yang kita lakukan. Benturan apapun yang terjadi atas tindakan kita, yang salah adalah orang lain. Saya melihat pola ini yang selalu terjadi.

Saya ambil satu contoh, ketika ada menteri yang hanya berijasah SMP. Reaksi yang muncul misalnya ilustrasi betapa pusingnya orang tua atau guru ketika seorang anak tidak mau sekolah,”menteri saja lulusan SMP kok”. Hal ini dibalas dengan, “mending mana, lulusan sarjana tapi korupsi apa lulusan SMP tapi kerja dan beramalnya bagus?”. Dua hal ini hanya akan menjadi eyel-eyelan yang sepertinya hanya akan selesai kalau gong kiamat dibunyikan.

Saya sendiri memiliki kakak yang berfikiran seperti yang pertama. Mungkin kakak saya sedang lupa bahwa adiknya ini juga tidak lulus kuliah, tapi itu tak mengapa. Bagi saya, kalau orang tua atau guru tidak berhasil menjalin komunikasi dengan seorang anak (contoh ilustrasi di atas adalah kegagalan komunikasi), maka yang salah adalah si orang tua atau si guru. Ketika gagal meyakinkan kepada si anak tentang satu nilai, lantas menempatkan kesalahan pada seseorang yang jauh dari dirinya (dalam hal ini seorang mentri yang sepertinya belum pernah sekalipun jadi tetangganya) adalah hal paling mudah. Lantas apa solusinya? Saya memilih mendiamkan. Kesesatan berfikir tidak perlu dibalas dengan kesesatan berfikir lain, seperti argumentasi kedua. Karena keduanya ibarat berkelahi hanya disebabkan oleh perandaian. Sungguh bodoh, menurut saya.

Jadi, intinya sih saya menuliskan ini agar menjadi pengingat kepada diri saya sendiri, supaya tidak dengan mudahnya menempatkan sebuah kesalahan kepada orang lain. Perbaiki diri sendiri. Kalau satu saat si menteri tersebut menyerukan, “semua orang tidak perlu sekolah tinggi-tinggi”, nah mari bersama-sama kita turun ke jalan, karena ini isunya sudah vertikal. Tetapi selama masih horisontal, gontok-gontokan seperti apapun tidak akan membuktikan apapun, hanya akan menunjukkan bahwa kita lebih enteng bicara daripada berkarya.

vale, hanya mengingatkan

el rony, mengingatkan diri sendiri

nb: ini juga berlaku untuk eyel-eyelan soal ktp. tukar kartunama saja belum jadi budaya, kok membayangkan perkenalan dengan tukar ktp.

nb.nb: berlaku juga untuk eyel-eyelan yang lain.

Matinya Sopan Santun di Dunia Marketing

Maafkan kalau judul saya seperti itu, maafkan juga kalau ternyata tidak semua seperti itu. Sebenarnya pikiran ini sudah lama mencuat, semenjak ramainya keluhan pengguna telfon seluler atas ‘serangan’ para marketer asuransi. Tidak main-main, perusahaan ini langsung masuk ke ranah privat, menggedor pintu saat kita meeting, tidur siang atau bahkan saat kita sedang di WC. Wajar kan kalau marah?

Tentu saja, permasalahannya ada banyak, terkait hingga ke perusahaan telco dan bagaimana mereka menjaga ranah privasi pelanggannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa nomor-nomor diperjualbelikan. Bisa jadi oleh orang dalam telco, bisa jadi juga oleh para penjual jasa isi pulsa elektronik. Tetapi saya tidak sedang ingin membahas hal ini saja, saya ingin membahas tentang dunia marketing pada umumnya.

Bad News is still a News

Kurang lebih begitu kalau di dunia pemberitaan. Dan tentu saja, ketika sesuatu menjadi viral, maka impresi dan engagement bisa tampil dalam grafik yang ciamik. Iya, di masa-masa sekarang, kata-kata itu paling sering muncul dan digunakan. Lihat saja sekarang semakin banyak jasa-jasa analitik seperti Klout dan sejenisnya, yang menyajikan data-data seperti itu.

Lantas apa kaitannya dengan sopan santun? Ya tentu saja ada. Customer dieksploitasi hingga ke titik terendahnya. Bahkan ketika customer atau calon customer misuh-misuhpun, para marketinger bisa dengan mudah mengatakan bahwa dia sudah berhasil membuat produk marketingnya menjadi viral.

Contoh terdekat adalah logo TOGUA, dan memang hal itu juga yang mendorong saya menulis ini. Bukan ingin menyalahkan pihak manapun sebenarnya, tetapi ungkapan-ungkapan seperti di berita ini membuat saya tersinggung. Saya kutip ya, “..Kalau dalam teori marketing, branding yang berhasil itu memang harus menimbulkan banyak pertanyaan..”. Nah, apakah Anda setuju dengan kata-kata itu? Kita bicara logo, bicara simbol, bicara perwakilan visual atas sesuatu. Memang benar bahwa ada logo yang ‘aneh’ tetapi membuat orang selalu teringat, justru karena keanehannya. Nah tapi kalau desainnya jelek dan tidak eye catching?

Tidak Sopan sekaligus Tidak Santun

Di sinilah saya semakin yakin bahwa sopan santun di dunia marketing itu diharamkan untuk digagas. Saat ini keberadaan logo dikatakan bahwa masih dalam tahap uji publik. Lantas akan ada forum untuk merembug. Tentu saja ini termasuk dalam rangkaian marketing itu tadi. Dengan model jawaban seperti di atas, apakah masukan-masukan akan dipakai? Saya kok yakin tidak. Kenapa? Karena angkuh dan sama sekali tidak sopan sekaligus tidak santun.

Ibaratnya kita berbuat salah, lantas dibahas semua orang, lalu kita enteng bilang “saya sengaja begitu, biar orang tahu itulah contoh yang salah”. Merasa berada di atas, merasa lebih tahu. Ini bagi saya menyebalkan, apalagi saya sudah sangat terbiasa dengan budaya Jawa, dan dari kecil dinasehati oleh simbah dan bapak saya, “ojo rumongo pinter, pintero rumongso“.

Jadi saya bukan dalam rangka ingin mengatakan bahwa bapak pemasar yang terhormat adalah total salah, tetapi saya mau bilang bahwa mbok yao serius sedikit dalam memberi ruang bagi penduduk yang sedang dijual kotanya ini. Apalagi ini untuk sesuatu yang sifatnya visual, di kota ini banyak para ahli visual lho. Terbukti mahasiswa UGM menang lomba poster tingkat internasional, mahasiswa ISI menang lomba cover album, dan masih banyak lagi. Kok ya mentolo cuma ditempatkan di-preparat lantas distabilo dengan kata “sudah saya duga”.

Apakah memang sedemikian brutal dunia marketing? Sementara di dunia UX dan UI sendiri, assessment itu sesuatu yang mutlak, bahwa pengguna adalah penentu baik-buruknya sebuah desain. Kegagalan komunikasi antara sebuah produk desain dengan penggunanya, adalah kegagalan seorang designer UI maupun UX. Bukankah semestinya di dunia marketingpun begini?

Mengejar impresi dan viral tanpa memikirkan bahwa produknya menyakiti pengguna, adalah kejahatan. Menurut saya demikian. Oh iya, slogan “Jogja, asia yang tak pernah selesai” itu juga tidak jelas maunya apa dan hasilnya seperti apa. Maka, akankah hal seperti ini diulang terus?

vale, demi kesantunan

el rony, dolanan inkscape

p.s. : kuburan marketing ki ngendi to?

p.p.s: awas, arwah pemasaran.

Kalau Tuhan Memberiku Kekuatan

..dan kemampuan, aku ingin membeli berhektar-hektar tanah sawah, dan membiarkannya menjadi sawah. Aku ingin membeli berhektar-hektar tanah pekarangan, dan menjadikannya hutan.

Logikaku bilang tidak mungkin, karena penduduk tidak berkurang. Mungkin itu sebabnya, Tuhan tak memberiku kekuatan.

vale, demi blog yang adalah taman curhat

Tentang “Eye Catching”

Beberapa hari ini saya bergulat dengan beberapa hal terkait dengan visual. Ada perdebatan-perdebatan dan asumsi-asumsi yang terbangun dari diskusi-diskusi ini. Dengan para NOKNwarrior saya berdiskusi tentang bagaimana tampilan sebuah website enak dipandang, nyaman dihinggapi pengunjung sekaligus berhasil mewakili kerennya produk mereka, NOKNbag. Selain itu saya juga terlibat pembicaraan yang cukup serius tetapi santai dengan teman-teman MojokCo. Walaupun lebih ke konten, tetapi pada akhirnya menyinggung juga tentang tampilan.

Hal yang selalu muncul adalah tentang sesuatu yang bagus, neat, simple, modern dan sejenisnya hingga style-style yang mengarah ke trend kekinian semisal flat design. Berdiskusi dengan mereka-mereka yang mengerti dan paham akan kebutuhannya tentunya memberikan pencerahan yang tak bisa dibilang sedikit.

Lantas pembahasan dengan tim software, kebetulan saya selama dua tahun ini terlibat pengembangan sebuah project yang super wangun yang sayangnya belum bisa saya bagi di sini, pokmen wangun wae, situ percaya waelah sama saya. Nah, project wangun itu juga butuh tampilan, bukan? Nah lagi-lagi hal-hal terkait UX dan UI menjadi pokok pembicaraan.

Lantas Makbedunduk Saya Tertampar

Tadi malam saya menemukan sebuah link yang bercerita tentang seorang S2 design yang gagal mendapatkan pekerjaan yang “sesuai” dengan kapasitas dia. Akhirnya mbak-mbak –yang cantik itu– terdampar pada pekerjaan menjadi pembuat banner situs porno.

Apa yang membuat saya tertampar? Ternyata ilmu yang penuh wiyu-wiyu dan super nehno dari dunia design tidak berlaku di dunia perpornoan ini. Mbak itu bercerita bahwa karya-karya awal dia ditolak mentah-mentah oleh perusahaan lendir tempat dia bekerja. Alasannya? Terlalu bagus dan terlalu profesional. Dhuengg!!

Bagi perusahaan porno, ternyata, karya desain yang dibutuhkan justru yang jelek, terasa “home made” — bedebah memang perusahaan ini, emangnya home made itu pasti jelek? fak — dan ini dia kata kunci penting “amateur“. Sudahlah merusak kata home made, masih juga rela merusak citra amatir. Fak adalah Fak!!

Maka jadilah si mbak-mbak — yang cakep ini– membuat karya-karya banner dengan kualitas apa adanya, font helvetica dibuang diganti dengan impact dan mungkin comics sans, warna-warna norak dan animasi-animasi ala web jaman geocities.

Efeknya? Klik yang didapat selalu super duper tinggi. Nah loh! Lantas apa kuncinya? Kata si mbak ini kuncinya adalah Eye Catching! Begitu tertangkap mata, entah oleh warna, font, atau typo — ini sih keahlian baba @rasarab dan tim ngonoo — selanjutnya orang tergiring untuk mengklik banner itu.

Kalau Kamu Kaya, Sejelek Apapun Kamu, Pasti Laku

Di dunia nyata mungkin itu padanannya. Dalam hal ini, situs porno memiliki kekuatan melebihi situs lain. Bisnis lendir yang usianya setua peradaban manusia ini, merupakan modal tersendiri yang oleh karenanya tidak lagi dibutuhkan copywriter handal, designer wiyu-wiyu super nehno. Tugas utamanya hanya agar orang melihat “woh apa ini? banner apa ini? kok jelek?” yang kemudian akan dilanjutkan sendiri oleh pesan di dalamnya yang ngawe-awe setiap orang dengan penawaran purbanya.

Mirip sekali dengan para bapak-bapak gaek tuwek berdagu panjang, tapi bisa menggandeng wanita sintal montok dan membawanya ke meldaifes. Ndak penting bentuk bungkusnya, yang penting berapa harga pembungkusnya, yo ra?

Lantas saya kembali ke si mbak itu, dan saya kembali manggut-manggut. Di dunia ini, kata dia, ada dua hal yang laku dan tak perlu endorsement super duper nehno, yaitu sex dan war.

Nah, yang kedua ini kemudian mengingatkan kembali ke situs-situs abal-abal ala piyungan dan sosok-sosok ala jonru. Mereka laku karena menjual perang. Maka tak penting kayak apa hancurnya wajahnya jonru, nggak penting seperti apa hancurnya layout website piyungan, yang penting ajakan perangnya. Laku.

Maka, bagi kita para visualist, tantangannya tinggal dua, bersetia dengan UI dan UX yang bagus mengikuti kaidah-kaidah GoodUI atau jualan perang/sex. Apapun yang kalian pilih, berhati-hatilah, jangan sampai terpeleset, apalagi kalau masuk bisnis lendir.

vale, demi visual

el rony, mencuci mata.

nb: link soal mbak itu ada di sini