Ngudang Anak

Saya mulai cerita kali ini dengan ucapan Alhamdulillah. Iya, saya bersyukur diberi kepercayaan oleh Allah SWT, diberi momongan lagi. Lengkap sudah kalau kata orang Jawa, anak pertama, Mata Air, laki-laki, sementara anak kedua perempuan, Cahaya Mata.

Sedikit berbeda antara bayi laki-laki dengan perempuan, setidaknya itu yang saya alami. Mata Air ketika bayi minumnya sangat kuat, maka tak heran dalam hitungan minggu beratnya bertambah dengan sangat cepat. Sementara Cahaya Mata keinginannya yang kuat, beberapa kali ASI terpaksa dimuntahkan kembali karena ternyata kepenuhan. Dan bundanya yang kadang kerepotan karena ASI melimpah sementara daya tampung tidak sebanding. Tapi tidak mengapa, daripada kurang, ya kan?

Nah tetapi ada juga yang sama dari kedua anak saya, ya mungkin karena orang tuanya sama sih ya, dua-duanya suka ditembangi. Saya memang suka menggendong anak saya sambil nembang. Dengan modal suara pas-pasan kayak punya saya ini, paling pas memang hanya untuk anak-anak bayi, yang tidak bisa teriak “Ayah! diam! suaramu jelek!”.

Masalahnya kemudian memang di koleksi lagu/tembang yang saya miliki, maka jadilah anak pertama dan kedua saya mendapatkan lagu darah juang sebagai pengantar tidur. Tetapi saya tak kurang akal, toh mereka belum bisa protes kan? Jadi saya mengarang tembang (karena tidak hafal) tak lelo lelo ledhung. Dulu pernah aku posting kayaknya, tapi ndak nemu linknya. Intinya karena serba sedikit yang saya ingat dari lagu tersebut terasa kurang pas di hati dan pikiran saya, jadilah saya tidak mencari dengan googling lirik tembang itu, tapi lebih memilih mengarang sendiri, toh nadanya sederhana saja. Maka demikianlah tembang saya:

tak lelo lelo lelo ledhung
cup menengo putr(a/i)ku cah (bagus/ayu)
tak lelo lelo lelo ledhung
enggal bobok mangke mundhak ngantuk

tak gadhang bisa urip mulyo
kinayungan urip kang prasaja
dadiya satria utama
tansah jujur, pendekaring bangsa

Berbekal lagu karangan itu, mengulang dua atau tiga kali, biasanya si anak udah tenang, lalu sambil digoyang-goyang dia akan jatuh tertidur. Namun ternyata Cahaya Mata akhir-akhir ini butuh lagu lebih panjang. Sebagai penyanyi profesional tingkat rumah tangga, saya tentunya bahagia mendapatkan tanggapan. Tapi lantas lagu apa?

I shot the sherif dan Buffalo Sholdier akhirnya menjadi andalan. Tidak hapal juga sebenarnya, tetapi nadanya cukup pas buat goyang-goyang. Kebetulan Mata Air juga suka nadanya, jadilah dia ikut ber woyooo yoo woyooo yoo.

Ini sebenarnya baru kejadian kemarin sore. Setelah Cahaya Mata tidur, aku tarik Mata Air duduk di karpet, dan aku ceritakan siapa itu Bob Marley. Ngayawara sampai ke Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi. Jadi ibaratnya sekali tepuk dua tiga pulau terlampaui, jadi punya kesempatan juga ngobrol panjang tentang konsep dengan anak. Ah, sok sok an, intinya ya ngobrol saja.

Jadi, bagaimana dengan kalian, yang sudah berputra/putri tentunya ya?

vale, demi kesehatan

el rony, kadang nembang sioo mamae beta so rindu mau pulange..

9 thoughts on “Ngudang Anak

  1. Mas, mbok tembange di-upload ke Soundcloud. Saya paling seneng dengar tembang Jawa yang dinyanyikan dengan suara ala kadarnya. Terdengar lebih nge-soul.

    Eh sumpah ini bukan ngece lho ya!

  2. sumprit, jadi penasaran lagunya mas, coba di aplut lah.
    berhubung senasib tak bisa nembang apalagi nyanyai, lawong ngomong saja fals, tapi tetep kadang pas anak minta gendong tak bikin ‘rengeng2’ kalau sudah tak tau liriknya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *