Nggetih

Sebelum saya menulis panjang lebar, ada baiknya tulisan kali ini saya awali juga dengan disclaimer. Saya bukanlah pengusaha sukses, dan barang tentu saya termasuk generasi mereka yang tidak update terutama terkait gaya berbisnis. Maka tulisan saya ini murni pandangan saya yang sekiranya Anda termasuk mereka yang mengamini pendekatan ala startup, maka tulisan ini akan sedikit banyak menyinggung “keimanan” sampeyan, oleh karenanya saya minta maaf terlebih dahulu.

Tahun ini adalah tahun ke-14 semenjak pertama kali saya menyatakan diri membakar kapal, terjun bebas ke dunia belantara yang bermoto “daily struggle“. Sampai detik ini tidak ada tolok ukur yang bisa mengatakan bahwa saya termasuk mereka yang berhasil –terutama jika diukur dari sisi materi — maka bisa jadi dan sangat mungkin saya ini terlanjur salah memilih “keimanan”.

Sependek pengalaman saya berusaha bertahan hidup, saya melalui berbagai model usaha. Dari mulai usaha yang sifatnya non-pemerintah, semi-altruistic, hingga murni materialistik. Dari mulai kerjaan kasar, hingga pekerjaan di belakang monitor — yang sebenarnya tak lebih halus dari pekerjaan sebelumnya. Hingga pada tahun 2001 akhir, saya bergabung dengan teman-teman yang memiliki mimpi sama, berdiri di atas kaki sendiri dengan bermodal pengetahuan semampu kami di bidang IT. Kami berlima akhirnya mencar sendiri-sendiri, tetapi inilah yang membentuk sejarah diri saya.

Pengalaman yang masih serba sedikit, dengan perahan darah dan keringat yang tak bisa dibilang sedikit, mengajarkan diri saya sendiri, tentang makna membakar kapal yang sesungguhnya. Tidak ada titik balik bagi mereka yang sudah membakar kapal. Pilihannya tinggal maju berperang, dengan resiko mati di medan laga, atau nekat berenang dengan resiko yang jauh lebih pasti, mati konyol tenggelam.

Kondisi yang seperti ini entah kenapa justru hal yang sangat saya nikmati. Sehingga perjalanan ini pula yang membuat saya menjadi semakin keras dalam bersikap. Sikap yang oleh sebagian orang dipandang sebagai sebuah ideologi yang kaku. Tidak menerima pekerjaan membuatkan situs judi, porno, MLM bahkan situs pemerintah yang mengharuskan saya memarkup dana. Tidak peduli seberapa kondisi butuh uangnya saya, tidak peduli seberapapun besar reward yang ditawarkan, kalau harus meninggalkan pilihan itu, saya memilih untuk tidak. Alhamdulillah saya masih bisa survive sampai sekarang.

Sikap ini akhirnya merembet ke pekerjaan saya sendiri. Sebagai contoh ketika saya harus mengerjakan sebuah situs — dulu sering saya harus memperbaiki beberapa situs milik orang, baik yang saya kenal langsung maupun tidak, yang seringkali sampai ke meja saya dalam keadaan sudah babak belur– saya akan sepenuh hati bekerja jika saya tahu bahwa si pemesan memang mempertaruhkan hidupnya di situ. Satu perusahaan retail di Amerika, misalnya, saya ikut andil membuat sistem informasi untuk penjualannya, dan saya pantau sistem tersebut bahkan ketika harus dideploy ke cabang-cabangnya yang tersebar di tiga negara bagian, tanpa saya minta charge lebih. Sekian ribu dollar yang jika dikonversikan ke besaran energi dan perhatian serta waktu yang saya curahkan jadinya tidak sebanding. Tetapi saya all out karena saya tahu mereka nggetih. Dan saya turut bahagia ketika akhirnya mereka jadi semakin besar dan bahkan menularkan keberhasilan mereka untuk membidani perusahaan-perusahaan baru di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Sifat nggetih ini juga saya rasakan di teman-teman NOKNbag, di teman-teman SolusiCamp, di teman-teman APSI Jogja. Sifat nggetih saya juga tersalur bersama teman-teman ARDWORT. Dengan mereka, saya teramat sangat nyaman bekerja bersama.

Sifat nggetih ini juga ada di teman-teman relawan merapi, sehingga ketika ada kebutuhan membuat gerakan, saya bisa membuatkan situs untuk mereka, lengkap dengan sistem geo-location dan API, hanya dalam dua hari. Tidak ada uang yang berbicara di sini.

Pada mereka-mereka yang nggetih, saya akan ikut nggetih.

Hal inilah yang membuat saya sangat kurang paham, bagaimana mungkin orang membuat sebuah usaha, dengan pola pikir bahwa usaha tersebut nantinya akan dia jual. Exit strategy, bahasa kerennya. Setiap kali saya mendengar kata exit, dahi saya berkernyit.

Benar, mungkin karena saya bukanlah pengusaha seperti mereka. Maka hidup saya ya biasa-biasa saja, rumah seadanya, kendaraan seadanya. Tidak bergelimang harta melimpah seperti mereka. Tetapi demikianlah saya, bagi saya setiap kodingan seperti anak yang lahir dari tangan-tangan saya. Sedih sekali ketika apa yang sudah saya bangun nantinya hanya akan ditinggalkan, tanpa benar-benar dimaksimalkan proses optimasinya. Tanpa benar-benar dimanfaatkan potensinya.

Beberapa dari klien saya tentu paham maksud saya, mereka merasakan naik turunnya semangat saya, dan saya pastikan semangat saya turun semenjak saya merasa bahwa mereka bikin perusahaan hanya untuk dijual. Ibaratnya saya mengotori tangan saya untuk mereka yang sejak awal ingin menjual bayinya. Bergidik saya.

Tidak adakah lagi mereka yang benar-benar nggetih dalam pilihannya? Apakah memang sudah jamaknya begitu sehingga aneh justru ketika orang-orang sedemikian nggetihnya dalam usahanya?

Mungkin saya tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang sesuai dengan harapan saya, tetapi melalui tulisan ini, saya membuka diri kepada Anda semua. Monggo, bagi siapa saja yang nggetih dengan pilihannya, saya selalu terbuka untuk berbagi pikiran. Mungkin tidak tenaga, karena saya sudah mencebur nggetih bersama orang-orang keren yang tidak mungkin lagi saya tampung beban tambahan. Tetapi saya selalu siap berdiskusi, apapun yang Anda hadapi, asalkan saya mampu membantu atau membagi jalan keluar, saya akan bantu. Silakan kontak melalui email saya, lantip at gmail dot com.

Keyakinan saya, apapun tipe kendala yang akan kita alami, kita hanya akan selamat kalau kita nggetih.

vale, demi kemerdekaan

el rony, macak nggetih.

4 thoughts on “Nggetih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *