Merasa Salah

Apa yang menjadi judul tulisan ini sama sekali jauh dari sifat manusiawi kita. Kenapa? Karena pada dasarnya setiap manusia itu punya kecenderungan egosentris, bahkan semenjak sebelum Galileo lahir. Dengan sifat bawaan egosentris itu, maka setiap manusia memiliki keyakinan penuh bahwa dirinya paling benar.

Lantas kenapa? Adakah yang salah dengan hal itu? Tentu saja tidak. Sifat manusiawi yang lumrah itu, adalah modal awal bagi manusia untuk menemukan hal-hal baru bagi dirinya, yang bisa jadi berguna bagi masyarakat ataupun lingkungannya. Sebagai contoh, hampir semua penemuan-penemuan teknologi itu didasari oleh sifat itu. Tanpa merasa paling benar, Newton tentu tidak akan cukup yakin untuk mengemukakan tentang gravitasi. Ya, ini tarikan benang yang agak semena-mena, tetapi bukankah demikian adanya?

Sekali lagi, Lantas Kenapa?

Pertanyaan yang kedua ini ditujukan kepada judul tulisan ini, kenapa saya memilih kata itu. Sebagai latar belakang, mari saya ceritakan kejadian kemarin. Seorang paman saya, kebetulan beliau memimpin satu paguyuban trah keluarga, mengungkapkannya kepada kami semua, anggota trah. Ini bukan trah-trah kraton, hanya trah yang menunjukkan bahwa keluarga kami sudah sak gotrah (akeh banget).

Menurut paman saya itu, dan yang memang saya setujui juga, perasaan paling benar ketika diterapkan dalam hubungan horisontal antar individu, tidak akan membawa kita kepada satu kesimpulan. Namun, perasaan paling bersalah, akan membawa kita ke wilayah merunduk, introspeksi dan terbuka atas segala kritik.

Dengan bekal perasaan itu, maka tidak akan ada lagi kata dendam dan perasaan lebih tinggi. Sifat congkak, takabur, seperti yang banyak ditunjukkan oleh pejabat kita, tentu tidak akan terjadi. Jika dia merasa salah sejak awal, sikap andhap asor yang akan muncul, sehingga tidak mungkin akan menimbulkan pergunjingan. Hal ini patut diharapkan, meskipun bisa saja manusia tetap menggunjing, namun paling tidak kans untuk menggunjing sudah banyak berkurang.

Pejabat kita lain, pejabat kita memilih memaki dan menuding orang lain, dengan tak segan-segan memberi cap kepada siapa saja bahwa apa yang dia lakukan itu benar sementara semua orang itu salah. Hal ini bisa terus terjadi pada tipe orang seperti ini, mudah marah bahkan ketika dia “ditegur” oleh peristiwa tumpahnya anggur merah. Orang seperti itu memang ada, yang keahlian satu-satunya hanyalah membuat masalah.

Tetapi kita bukan orang seperti itu bukan?

Mari..

Saya mengajak diri saya sendiri, dan juga sidang pembaca sekalian (macak khotib jumatan), untuk lebih mendahulukan rasa ini. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh merasa benar, selama ada dasarnya tentu hal itu sangat boleh, bahkan harus. Tetapi ketika kita ingin menuju ke satu titik persahabatan yang tanpa pagar, maka mari mengingatkan diri kita bahwa kitapun punya salah.

Saya merasa bersalah telah berpikir bahwa pak pejabat itu harus dimusuhi, bisa jadi harusnya kita mengasihani dia. Siapa tahu dia membuat masalah karena hanya itu yang dia bisa, karena membuat anakpun dia tidak bisa. Maka, mari kita doakan saja, semoga pak pejabat itu, mendapat limpahan berkah, untuk segera bertemu denganNya.

Lalu kita bisa bersalaman tanpa ada dendam. Atau membawa rangkaian bunga dengan tentram.

vale, demi persahabatan

el rony, berangkat menuju pak puspo.

7 thoughts on “Merasa Salah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *