Matinya Sopan Santun di Dunia Marketing

Maafkan kalau judul saya seperti itu, maafkan juga kalau ternyata tidak semua seperti itu. Sebenarnya pikiran ini sudah lama mencuat, semenjak ramainya keluhan pengguna telfon seluler atas ‘serangan’ para marketer asuransi. Tidak main-main, perusahaan ini langsung masuk ke ranah privat, menggedor pintu saat kita meeting, tidur siang atau bahkan saat kita sedang di WC. Wajar kan kalau marah?

Tentu saja, permasalahannya ada banyak, terkait hingga ke perusahaan telco dan bagaimana mereka menjaga ranah privasi pelanggannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa nomor-nomor diperjualbelikan. Bisa jadi oleh orang dalam telco, bisa jadi juga oleh para penjual jasa isi pulsa elektronik. Tetapi saya tidak sedang ingin membahas hal ini saja, saya ingin membahas tentang dunia marketing pada umumnya.

Bad News is still a News

Kurang lebih begitu kalau di dunia pemberitaan. Dan tentu saja, ketika sesuatu menjadi viral, maka impresi dan engagement bisa tampil dalam grafik yang ciamik. Iya, di masa-masa sekarang, kata-kata itu paling sering muncul dan digunakan. Lihat saja sekarang semakin banyak jasa-jasa analitik seperti Klout dan sejenisnya, yang menyajikan data-data seperti itu.

Lantas apa kaitannya dengan sopan santun? Ya tentu saja ada. Customer dieksploitasi hingga ke titik terendahnya. Bahkan ketika customer atau calon customer misuh-misuhpun, para marketinger bisa dengan mudah mengatakan bahwa dia sudah berhasil membuat produk marketingnya menjadi viral.

Contoh terdekat adalah logo TOGUA, dan memang hal itu juga yang mendorong saya menulis ini. Bukan ingin menyalahkan pihak manapun sebenarnya, tetapi ungkapan-ungkapan seperti di berita ini membuat saya tersinggung. Saya kutip ya, “..Kalau dalam teori marketing, branding yang berhasil itu memang harus menimbulkan banyak pertanyaan..”. Nah, apakah Anda setuju dengan kata-kata itu? Kita bicara logo, bicara simbol, bicara perwakilan visual atas sesuatu. Memang benar bahwa ada logo yang ‘aneh’ tetapi membuat orang selalu teringat, justru karena keanehannya. Nah tapi kalau desainnya jelek dan tidak eye catching?

Tidak Sopan sekaligus Tidak Santun

Di sinilah saya semakin yakin bahwa sopan santun di dunia marketing itu diharamkan untuk digagas. Saat ini keberadaan logo dikatakan bahwa masih dalam tahap uji publik. Lantas akan ada forum untuk merembug. Tentu saja ini termasuk dalam rangkaian marketing itu tadi. Dengan model jawaban seperti di atas, apakah masukan-masukan akan dipakai? Saya kok yakin tidak. Kenapa? Karena angkuh dan sama sekali tidak sopan sekaligus tidak santun.

Ibaratnya kita berbuat salah, lantas dibahas semua orang, lalu kita enteng bilang “saya sengaja begitu, biar orang tahu itulah contoh yang salah”. Merasa berada di atas, merasa lebih tahu. Ini bagi saya menyebalkan, apalagi saya sudah sangat terbiasa dengan budaya Jawa, dan dari kecil dinasehati oleh simbah dan bapak saya, “ojo rumongo pinter, pintero rumongso“.

Jadi saya bukan dalam rangka ingin mengatakan bahwa bapak pemasar yang terhormat adalah total salah, tetapi saya mau bilang bahwa mbok yao serius sedikit dalam memberi ruang bagi penduduk yang sedang dijual kotanya ini. Apalagi ini untuk sesuatu yang sifatnya visual, di kota ini banyak para ahli visual lho. Terbukti mahasiswa UGM menang lomba poster tingkat internasional, mahasiswa ISI menang lomba cover album, dan masih banyak lagi. Kok ya mentolo cuma ditempatkan di-preparat lantas distabilo dengan kata “sudah saya duga”.

Apakah memang sedemikian brutal dunia marketing? Sementara di dunia UX dan UI sendiri, assessment itu sesuatu yang mutlak, bahwa pengguna adalah penentu baik-buruknya sebuah desain. Kegagalan komunikasi antara sebuah produk desain dengan penggunanya, adalah kegagalan seorang designer UI maupun UX. Bukankah semestinya di dunia marketingpun begini?

Mengejar impresi dan viral tanpa memikirkan bahwa produknya menyakiti pengguna, adalah kejahatan. Menurut saya demikian. Oh iya, slogan “Jogja, asia yang tak pernah selesai” itu juga tidak jelas maunya apa dan hasilnya seperti apa. Maka, akankah hal seperti ini diulang terus?

vale, demi kesantunan

el rony, dolanan inkscape

p.s. : kuburan marketing ki ngendi to?

p.p.s: awas, arwah pemasaran.

5 thoughts on “Matinya Sopan Santun di Dunia Marketing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *