Mantri

Di desa kalian, adakah orang berprofesi sebagai mantri? Atau jangan-jangan kalian belum tahu apa itu mantri? Mantri itu profesi sejenis perawat, tetapi setahuku mereka tidak memiliki ijasah keperawatan. Mantri mungkin bisa dibilang salah satu profesi yang berangkat dari otodidak.

Pada masa-masa tahun 1980-an atau sebelumnya, profesi ini cukup gemilang. Tidak banyak memang yang berkesempatan menjadi mantri, dan saya juga tidak tahu bagaimana seseorang bisa menjadi mantri. Maksud saya, saya tidak tahu apakah ada proses seleksi, tes, atau sejenisnya. Tetapi yang jelas, saya pernah mendapati sebuah cerita, seorang dokter merekrut salah seorang warga yang paling dekat dengannya, paling mudah diajak komunikasi dan menuruti kemauan si dokter, untuk dijadikan mantri. Saya berpikir, mungkin pola inilah yang terjadi di banyak tempat.

Dokter tentunya juga manusia biasa, ada perasaan lelah, kadang mungkin juga emosi, maka pada banyak kasus dia akan membutuhkan bantuan untuk sekedar, misalnya, mengelap keringatnya, mengambilkan kain kasa, hingga membantu menyuntik pasien.

Suntik

Alat inilah yang paling akrab dengan mantri. Tidak semua mantri diperbolehkan menyuntik, setahuku begitu, tetapi pada banyak kejadian, kalau orang datang ke mantri untuk meminta pengobatan, mereka akan mendapatkan treatment ini, suntik. Tunggu dulu, menyuntik? Orang berobat ke mantri? Itu mungkin pertanyaan sebagian kalian, mari saya jelaskan.

Pada masa-masa tahun 80-an atau sebelumnya, jumlah dokter belumlah sebanyak sekarang. Meskipun PUSKESMAS sudah ada di tiap kelurahan, tetapi tidak seluruh PUSKESMAS dijaga oleh dokter. Jangankan dokter dengan spesialisasi tertentu, dokter umumpun belum tentu ada. Pada masa itu, satu orang dokter bisa saja membawahi sekian PUSKESMAS, atau minimal 1 PUSKESMAS sekaligus dinas di 1 Rumah Sakit. Terbayang bukan? Keberadaan dokter tidak bisa diharapkan selalu ada setiap hari, bahkan mungkin seminggu sekalipun belum tentu.

Dengan keadaan itu, sementara orang sakit tidak mengenal jadwal, maka keberadaan perawat menjadi tumpuan. Tentunya pendidikan keperawatan juga belum sebanyak sekarang, lulusan akademi keperawatan juga belum banyak, maka pilihanpun jatuh ke Mantri. Maka para Mantri ini, entah belajar sendiri dengan bertanya ke dokter, atau bisa jadi juga diajari, akhirnya bisa menentukan resep.

Mantri tidak menuliskan resep di secarik kertas, resep dia sudah berupa satu ampul berisi kapsul. Obat racikan di dalam kapsul itu apa, hanya mantri dan Tuhan yang tahu. Dan yang tidak kalah penting, suntik itu tadi. Sakit apapun kamu, suntik adalah obatnya. Nenekku almarhumah termasuk salah satu orang yang setia dengan mantri. Ketika mantri di desaku sudah semakin paham tentang bahayanya malpraktik, dan juga bahayanya salah obat (kukira begitu), beliau tidak lagi memberi suntik. Akibatnya? Nenekku marah-marah. Pokoknya harus suntik!

Jaman Kejayaan

Sekarang mungkin profesi Mantri sudah tidak ada lagi, terutama di Jawa. Entahlah, tetapi seingatku, berita yang muncul di koran terakhir adalah tahun 2000-an awal, yang memberitakan seorang korban meninggal setelah berobat ke mantri. Waktu itu, semua orang di sekitarku, yang kira-kira seumuran denganku, sama-sama memiliki satu pertanyaan, “lho, masih ada yang ke mantri?”.

Maka tahun 90-an akhir, sependek yang kutahu, adalah masa akhir kejayaan para mantri. Masa kejayaan, artinya masa dimana mereka dicari-cari, menjadi tumpuan harapan, teras rumahnya selalu dipenuhi orang yang antri untuk berobat. Setelah itu, hilang tak berbekas. Teras-teras rumah para mantri semakin sepi, kursi panjang di sanapun sudah berubah menjadi tempat nongkrong orang-orang sehat, untuk ngobrol mengenang masa kejayaan.

Tak kurang tetangga saya, Pak Kaji, demikian orang di kampungku mengenal beliau. Kenapa Pak Kaji? Karena ketika beliau masih muda, berkat menjadi mantri, beliau berkesempatan mengunjungi tanah suci. Waktu itu bahkan beliau sudah memiliki satu buah motor vespa, dan sebuah mobil ompreng, station wagon.

Saya merasakan tangan dingin Pak Kaji, waktu saya masih kecil. Pantat saya, baik kiri maupun kanan, sudah menjadi langganan jarum suntik beliau. Entah karena flu, atau demam yang tidak hilang dengan dikerok punggungnya, pasti jarum suntik Pak Kaji akan dengan sigap menggantikan posisi koin benggol. Alhamdulillah, entah karena sugesti atau entah karena memang obat dosis tinggi, saya selalu kembali sehat keesokan harinya. Hingga kemudian di kampungku datang satu penyakit kota yang asing, typhus. Obat dari Pak Kaji gagal mengalahkan virus tipes. Apa boleh bikin, orang-orang akhirnya berpindah ke dokter.

Adalah satu kebetulan, di dekat kampung waktu itu datang dokter muda. Maka kesaktian ilmu pengobatannya pun segera terdengar. Demam tinggi? Lidah memutih? Perut keras? Datang ke dokter saja, jangan ke pak Mantri. Pak Mantri wis ora mandi. Semenjak itu, satu per satu pasien Pak Kaji berkurang. Lalu satu per satu pula, dokter-dokter dan perawat berdatangan ke kampung sekitar. Teras Pak Kaji tidak lagi jadi tempat menarik untuk mereka yang sedang sakit. Apa boleh bikin.

Selamat Jalan Pak Kaji

Siang ini saya mendapat sebuah SMS. Pak Kaji, orang yang saya hormati dan terus menerus saya terimakasihi karena menyelamatkan nyawa banyak orang (mungkin terlalu heroik, tapi biarlah), meninggal dunia. Langsung terbayang di ingatan saya, bagaimana dulu saya diantar dengan vespa beliau untuk berangkat ke sekolah TK. Saya satu TK dengan anak beliau, maka tiap pagi saya mendapat anugerah berdiri di salah satu sayap vespa. Sayap sebelah dipakai Robbani, sahabat terbaikku ketika kecil yang sudah dipanggil lebih dulu menghadap Allah SWT. Robbani dipanggil ketika pulang subuhan, melalui sebuah serudukan truk yang zigzag karena sopirnya ngantuk.

Ingat Pak Kaji, selalu mengingatkanku pada Robbani. Tiga hari tiga malam, kata ibuku, aku menangisi dan tidak percaya sahabat terbaikku meninggal. Kini, Pak Kaji menyusul. Aku tentu tidak menangis seperti waktu itu, tetapi ada satu bagian kecil di hatiku, yang sepertinya luruh dan hanyut entah kemana.

Maka saya tutup saja kisah ini dengan, Selamat Jalan Om Sudal.

vale, demi kemerdekaan

el rony, berharap menjadi mantri dan menyuntikkan semangat untuk merdeka di nadi setiap generasi muda.

 

14 thoughts on “Mantri

    • sak elingku memang ada berbagai macam mantri. mantri suntik, mantri sunat, begitu. berarti nang nggonmu onone mantri sunat. dokter wis ono ya?

      • Ada dokter juga, tapi ndak selalu ada, biasane ngenteni ndek puskesmas, sing keliling door to door ki mantrine :D. Mantri ki tetep ono gawe urusan sing “sederhana” koyok watuk, pilek, demam sing ngonoolah. Dokter ki nek urusan sing rodo “abot” koyok njahit luka, demam berdarah bangsane ngoono. Tapi yo podo akure. Macem dukun beranak po bidan

  1. setahuku, mantri dulu ada sekolahnya. mereka mendapatkan sertifikat sebelum diperbolehkan mengobati orang lain. Kami masih mengalami masa bertemu Mantri ketika kerja praktek di Gedeh, Cianjur pada tahun 2002. Tapi ya ndak brani disuntik karena tidak tahu apa yang ada di dalam alat suntiknya itu (kebetulan temanku yg sedang sakit itu anaknya dokter di Jakarta). hihihii…

  2. Mantri iku perawat senior le.bukan tiba2 ngobati ae.ada sekolahnya.sekolah perawat.aq ini mantri lulusan 2015.mantri modern skrang namae bukan mantri tpi ners……S.kep.gelare sarjana keperawatan.kulaie 4 taun pendidikan dikampus.1taon praktek lapangan dirumah sakit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *