Makna Pengembalian Nama Jalan di Yogyakarta

Sejujurnya, nah ini repot, sebuah tulisan yang diawali dengan sejujurnya itu bisa diartikan menunjukkan bahwa tulisan-tulisan saya sebelumnya itu ndak jujur. Ning yo ben wae. Saya ingin menegaskan bahwa beginilah adanya perasaan saya. Ketika mendengar kabar perubahan nama jalan di Yogyakarta, saya spontan bilang “walah!”.

Kenapa walah? Karena “mengusik” kenyamanan. Seperti ketika Jalan Gejayan berubah menjadi Jalan Affandi, rasanya kok ngganjel mengubah kebiasaan menyebut Jalan Gejayan menjadi Jalan Affandi. Tetapi terus terang, penggantian nama jalan ini brilian semua. Contoh yang sudah terjadi ya itu, muncul nama Jalan Affandi, Jalan Nyi Tjondrolukito (jalan monjali), Jalan Tino Sidin (di Kadipiro), Jalan Gito-gati (di Denggung). Nama-nama yang muncul adalah nama-nama seniman. Ini jelas gerakan moral melawan militerisme. Bukan begitu? Biasanya yang dijadikan nama jalan itu nama pahlawan, dan biasanya yang disebut pahlawan itu yang mengangkat senjata. Padahal banyak pahlawan yang bukan semata mengangkat bedhil, tapi juga mengangkat harkat.

Margo Utomo – Malioboro – Margo Mulyo – Pangurakan.

Ruas jalan ini yang terakhir diubah namanya oleh Pemerintah Kodya, menggantikan jalan dari Tugu Yogyakarta ke selatan hingga Kraton. Nama jalan ini bukanlah nama baru, justru dikembalikan ke nama aslinya, sebelum orde baru. Lantas, apa kepentingannya?

Ada makna filosofis yang mendalam di situ. Merupakan satu kesatuan ajaran tentang bagaimana seorang manusia berproses. Sudah ada beberapa artikel di internet sebenarnya yang mengupas tentang hal ini, tetapi saya coba tuangkan juga di sini, karena wis kebacut mbukak editor hihi.

Tugu Yogyakarta, sudah jamak diketahui sebagai simbol pengingat atas Yang di Atas. Tugu yang aslinya berbentuk bulat, golong gilig, menyuarakan konsep manunggaling kawulo gusti. Nah, setiap kita sebenarnya berproses menuju manunggal ini. Monggo saja kalau mau mengatakan ini kejawen, tetapi harap diingat bahwa kita memang dibekali unsur ketuhanan: mencipta, merusak, mengarang dan seterusnya. Kalau diturunkan menjadi hubungan muamalah, maka konsep manunggaling kawulo gusti ini, tampil dalam hubungan yang intim antara pemimpin dengan rakyatnya.

Nah, proses untuk menuju itu, diawali dengan Margo Utomo. Jalan Keutamaan. Berlakulah menjadi orang baik, orang yang utama. Dengan berbekal niat mengingat Tuhan (tugu di belakang), berbuat baiklah kepada sesama. Ketika kita sudah menjadi orang yang utama, maka menjadilah Malioboro.

Dalam bahasa jawa, perintah atau ajakan atau sebutan yang diawali dengan huruf “w” melebur atau berubah menjadi “m”. Wédang berubah menjadi médang, wédok menjadi médok (doh!) dan seterusnya. Maka Malioboro adalah perintah untuk menjadi wali yang ngumboro, mengembara, menyebar. Wali ini bukan terus kyai, sunan dan seterusnya saja, wali selain bermakna wakil (dalam hal ini wakil Tuhan), atau kekasih, atau penolong, juga berarti bolo (menyitir Gus Mus). Seorang yang menjadi wali/aulia,  maka dia menjadi bolo-ne Gusti juga bolo-ne orang-orang di sekitarnya. Ada juga yang mengartikan malioboro sebagai ma-lima-oboro. Bakarlah mo-limo.  Ini mungkin tataran taktisnya. Bukan berarti membakari tempat-tempat molimo, tetapi kita menghindari molimo. Demikian menurut Marjuki (JHF).

Lalu semakin mendekati Kraton kita sampai pada Margo Mulyo. Ketika kita sudah menjadi bolo-né sepodho, kita meningkat menjadi menungso kan minulyo. Kemulyaan dalam arti tidak lagi terbelenggu oleh keduniaan. Orang kaya belum tentu mulia, karena begitu ketahuan dia kaya dari korupsi, ya tak lebih dari maling saja. Di sini juga mengandung makna agar kita senantiasa memuliakan alam sekitar. Kalau dalam agama Islam jadinya rahmatan lil ‘alamin. Tujuan dasar diciptakannya manusia muslim.

Kemudian kita sampai pada Pangurakan. Melepas dari semua hal-hal duniawi. Hal-hal yang bersifat nafsu-nafsu angkara atau nafsu-nafsu kejelekan. Di sini manusia sudah berada di atas derajat kemuliaan. Maka seorang raja jawa dituntut untuk menjadi seseorang yang derajatnya lebih tinggi dari kemulyaan. Kalau kita sudah melepas nafsu-nafsu negatif (semoga ada nafsu positif, karang bahasa ki liyak liyuk), maka tidak ada orang yang bisa merendahkan derajat kita.

Demikian sependek yang saya tahu dan rangkum tentang pergantian nama jalan di Yogyakarta. Hal yang luar biasa dari semua ini, bahwa ternyata semakin mempelajari tentang Sultan HB IX, semakin tampak bahwa semua hal itu sudah dilampaui oleh beliau. Sehingga kemudian terumuskan menjadi Tahta untuk Rakyat.

vale, demi apapun

el rony, mikir karo mbathik.

n.b. buat yang harus mengurus ulang H.O dan lain-lain, sabar nggih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *