Letakkan Masalah pada Tempatnya

Tulisan ini sebenarnya refleksi saja. Dari pengalaman hidup yang baru sepenggal ini, dan sudah pasti belum layak untuk menasehati orang lain, maka ya saya hanya membagi nasehat saya kepada diri sendiri. Siapa tahu, ada diri lain yang bisa memberi pencerahan.

Keinginan menulis hal ini sebenarnya sudah cukup lama, hanya saja kemalasan lebih menguasai saya, jadilah baru ditulis sekarang. Adalah kebetulan saat ini sedang ada ramai-ramai, oh lebih tepatnya sih sebenarnya tiap hari kita ada ramai-ramai. Tentang apa? Tentang apa saja. Saya jadi berfikir, begitu pandai kita membuat apa saja menjadi bahan eyel-eyelan.

Lalu saya kembali melihat diri saya sendiri, mencoba mengingat-ingat lagi, pendekatan seperti apa yang saya lakukan ketika menemukan sebuah masalah. Dan seperti sudah saya duga sebelumnya, kebanyakan polanya adalah menempatkan masalah di luar diri.

Sudah sejak lama sebenarnya saya memilih mengubah cara pandang. Setiap ada masalah, upaya pertama adalah menemukan kesalahan saya sendiri dimana. Dan kalau tidak ketemu, tetap hati-hati ketika menempatkan kesalahan ada di diri orang. Lantas kalau memang kesalahan ada di diri orang lain, pilihannya ada dua, menegoisasi penyelesaian atau membiarkan. Kenapa membiarkan? Karena ada beberapa hal yang memang hanya akan memperlebar masalah ketika dibahas. Taruh contoh misalnya mengenai tanah.

Apakah ini sifat pengecut? Setelah saya menimbang lebih jauh, saya tidak keberatan disebut pengecut. Iya, saya adalah pengecut ketika menyangkut konflik horisontal. Ini memang pilihan.

Lantas apa kaitannya dengan ontran-ontran yang selalu ada? Aku pikir masalahnya ada di penempatan kesalahan yang tidak tepat. Menempatkan kesalahan di luar diri itu paling mudah. Kita menjadi merasa aman, merasa tenteram dan menjadi pembenaran atas apapun yang kita lakukan. Benturan apapun yang terjadi atas tindakan kita, yang salah adalah orang lain. Saya melihat pola ini yang selalu terjadi.

Saya ambil satu contoh, ketika ada menteri yang hanya berijasah SMP. Reaksi yang muncul misalnya ilustrasi betapa pusingnya orang tua atau guru ketika seorang anak tidak mau sekolah,”menteri saja lulusan SMP kok”. Hal ini dibalas dengan, “mending mana, lulusan sarjana tapi korupsi apa lulusan SMP tapi kerja dan beramalnya bagus?”. Dua hal ini hanya akan menjadi eyel-eyelan yang sepertinya hanya akan selesai kalau gong kiamat dibunyikan.

Saya sendiri memiliki kakak yang berfikiran seperti yang pertama. Mungkin kakak saya sedang lupa bahwa adiknya ini juga tidak lulus kuliah, tapi itu tak mengapa. Bagi saya, kalau orang tua atau guru tidak berhasil menjalin komunikasi dengan seorang anak (contoh ilustrasi di atas adalah kegagalan komunikasi), maka yang salah adalah si orang tua atau si guru. Ketika gagal meyakinkan kepada si anak tentang satu nilai, lantas menempatkan kesalahan pada seseorang yang jauh dari dirinya (dalam hal ini seorang mentri yang sepertinya belum pernah sekalipun jadi tetangganya) adalah hal paling mudah. Lantas apa solusinya? Saya memilih mendiamkan. Kesesatan berfikir tidak perlu dibalas dengan kesesatan berfikir lain, seperti argumentasi kedua. Karena keduanya ibarat berkelahi hanya disebabkan oleh perandaian. Sungguh bodoh, menurut saya.

Jadi, intinya sih saya menuliskan ini agar menjadi pengingat kepada diri saya sendiri, supaya tidak dengan mudahnya menempatkan sebuah kesalahan kepada orang lain. Perbaiki diri sendiri. Kalau satu saat si menteri tersebut menyerukan, “semua orang tidak perlu sekolah tinggi-tinggi”, nah mari bersama-sama kita turun ke jalan, karena ini isunya sudah vertikal. Tetapi selama masih horisontal, gontok-gontokan seperti apapun tidak akan membuktikan apapun, hanya akan menunjukkan bahwa kita lebih enteng bicara daripada berkarya.

vale, hanya mengingatkan

el rony, mengingatkan diri sendiri

nb: ini juga berlaku untuk eyel-eyelan soal ktp. tukar kartunama saja belum jadi budaya, kok membayangkan perkenalan dengan tukar ktp.

nb.nb: berlaku juga untuk eyel-eyelan yang lain.

2 thoughts on “Letakkan Masalah pada Tempatnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *