Kebertetanggaan

Entah apa Bahasa Indonesia yang paling tepat untuk menggantikan judul di atas, intinya tentang bagaimana interaksi antar manusia bisa terjaga. Tulisan ini dipicu oleh obrolan pagi dengan seorang teman, tentang hal terkait kampung tempat dia tinggal.

Sebelumnya, aku mendapat curhatan dari seorang seniman yang membuat rumah di seputaran Purwomartani. Dia pusing karena mendapati ternyata makam di kampung dekat perumahannya tidak bisa digunakan oleh penghuni perumahan. Bukan semata aturan tetapi memang kejadian, ketika salah seorang penghuni perumahan meninggal dunia, warga kampung menolak pemakaman jenazah itu di makam kampung mereka.

Kegelisahan temanku ini sangat bisa kupahami, bagaimanapun dia ingin tinggal di situ sampai akhir hayatnya. Paling tidak, dia tidak perlu lagi memusingkan tentang hal-hal terkait masa depan, di masa ketika dia sudah tidak bisa lagi berjalan sendiri. Terbayang betapa galaunya aku kalau membayangkan nanti ketika aku meninggal, anak istriku harus pusing mengurus pemakaman. Sigh..

Kenapa?

Pertanyaan ini yang segera saja menyeruak di kepalaku. Pertanyaan ini kulontarkan pula ke dua orang temanku yang curhat di waktu yang berbeda, dan tinggal di daerah yang berbeda pula. Satu temanku, yang tinggal di daerah Purwomartani, mengatakan bahwa memang orang-orang di perumahan tempat dia tinggal, tidak membaur dengan penduduk setempat. Meskipun aku masih bertanya-tanya, karena bagiku “menyengsarakan” orang yang ditinggal mati keluarganya adalah hal kejam, tetapi kemudian aku bisa membayangkan apa yang terjadi. Ini akan kubahas lagi nanti.

Nah, menariknya temanku yang lain mengatakan bahwa hal semacam itu sudah menjadi peraturan di kampung itu. Hal itu bukan hanya berlaku bagi penghuni perumahan, tetapi semua pendatang. Artinya, kalau benar demikian, kalau misalnya aku beli tanah di situ, tinggal di situ, meskipun aku belinya di tanah perkampungan, aku tetap tidak bisa jadi warga situ. Aku akan tetap berpredikat pendatang. Dan dadaku mendadak sesak memikirkan ini.

Tetapi, mari kita renungkan, dengan alasan apapun, pertanyaan di atas masih tetap berlaku. Aku melempar issue ini di facebook, dan beberapa tanggapan muncul, kesemuanya mengarah ke masalah komunikasi. Dalam hatiku dan otakku, aku mengamini hal itu. Salah satu sahabat baikku malah mengingatkanku bagaimana ketika ibunya meninggal, warga kampung Janti bergotongroyong membantu.

Mungkin..

Aku tentu tidak bisa menggugat masyarakat yang entah bagaimana ceritanya hingga memunculkan peraturan seperti itu, karena daerah itu juga jauh dari jangkauan keseharianku. Meskipun tentu saja aku berharap kita tidak berlaku sedemikian kejam, karena jenazah siapapun itu wajib hukumnya untuk diperlakukan dengan hormat, paling tidak ini yang diajarkan oleh agamaku –yang aku cukup yakin merupakan agama mayoritas pula di kampung itu. Oh bahkan, aku sangat yakin ini ajaran di semua agama.

Namun aku sekali lagi hanya bisa menggapai kawan-kawanku, dan hanya sedikit –itupun kalau boleh– memberikan masukan. Hal seperti itu bisa didekati dengan komunikasi kok. Kalau kamu baik, tentu ada tempat untukmu. Sebagai gambaran, aku juga pendatang di kampungku sekarang, tetapi karena aku ikut kegiatan kampung, masyarakat –menurutku– menerimaku. Paling tidak, ukuranku sederhana saja, berkat jagongan sampai ke rumahku. 🙂

Dan kalau kamu mau sedikit merelakan waktumu, warga kampung justru membutuhkan tenaga dan pikiranmu. Menjadi pengurus kampung bisa jadi satu pintu masuk paling mudah untuk mengakses hati penghuni kampung. Jadi, bersabar saja ya kawan..

vale, demi kebertetanggaan

el rony, masih berharap kisah ini tidak terjadi di tempat lain

3 thoughts on “Kebertetanggaan

  1. Srawung.. setau saya sih itu modal paling utama dalam bermasyarakat, dan

    berkat jagongan sampai ke rumahku

    Itulah salah satu indikator hasil srawung dengan enkripsi besek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *