HAKABEPE

Istilah ini pertama kali kukenal dari @bayupamura . Istilah yang muncul ketika membahas atau tepatnya ngrasani teman-teman yang kebetulan memiliki bapak yang terkenal.Ya, istilah itu awalnya kurang lebih kependekan dari Himpunan Anak Kabotan Jeneng Bapak. Tetapi dalam tulisan kali ini, aku menggeser kepanjangannya menjadi Himpunan Anak Kabotan Pengarep-arep.

Anak adalah Harapan

Sebagaimana nama anak disebut-sebut sebagai doa orang tua, sehingga mencari nama anak biasanya melalui proses yang panjang, semua proses yang dilalui dalam hubungan orang tua-anak adalah proses menyantolkan harapan, bahkan hingga pilihan orang tua dalam menyekolahkan anak. Semua itu pada intinya mengarah kepada harapan-harapan yang coba dibangun oleh orang tua.

Kalau mengingat bagaimana orang tua saya menjalani proses itu, dari mulai memberi nama hingga cara mendidik, maka harapan-harapan itu lekat di sana. Dan saya, mungkin juga semua anak demikian, rasanya ingin membalas budi kebaikan orang tua yang sudah merawat kita dengan mengabulkan harapan-harapan tadi.

Harapan ini kemudian melahirkan kebanggaan pada sisi orang tua, ketika kemudian tercapai dan mungkin diukur sebagai prestasi oleh hampir semua kalangan. Taruh kata orang tua saya menginginkan saya menjadi anak pintar, makanya tiap jam 5 sore saya sudah “dijemput” dari tempat bermain. Selama perjalanan pulang –yang biasanya telinga saya menempel di jari bapak saya– kata-kata yang diulang adalah mengingatkan soal pentingnya belajar dan mengaji. Maka ketika kebetulan — ya memang kebetulan kok — saya ranking 3 besar terus menerus, orang tua saya mengungkapkan kebanggaannya di depan teman-temannya (biasanya saya mendengar hal ini kalau ada teman orang tua saya yang bertamu).

Hal yang melintas di kepala saya waktu itu, senang. Tetapi hanya bertahan hingga kelas 3 SD. Saya mulai jengah, dan dengan berdalih pingin melihat bagaimana rasanya berada di ranking bawah, saya pun terjun ke ranking 5. Perasaan jengah ini berlanjut sehingga saya memilih sendiri SMP dan SMA serta tempat kuliah. Tak peduli bahwa NEM saya berada di ranking bawah. Ya, sesekali unjuk kebolehan sih apa boleh bikin, namanya anak muda. Tapi nangkring tiga besar sekali dua kali saja sudah cukup, biar orang tua tidak terlalu sedih. Ini yang saya rasakan dan lakukan waktu itu.

Yang menggaris bawahi judul tulisan kali ini justru perasaan jengah tadi, yang nampaknya cukup mewarnai perjalanan hidup. Tentunya tiap orang berbeda-beda, tapi ketika ada istilah kabotan jeneng bapak, aku kok cukup yakin, ada juga keadaan yang boleh disebut kabotan pengharapan.

Agar tidak kabotan

Bagi saya, sependek pengalaman saya juga, yang namanya kabotan itu beban. Dan memelihara beban di pundak anak itu menurut saya kok ndak oke. Ini terkait pula dengan pilihan tidak memiliki hutang, termasuk kartu kredit, tetapi itu hal lain sih.

Maka, agar tidak kabotan, sebisa mungkin saya berusaha tidak menonjol-nonjolkan capaian-capaian anak. Hal yang sulit dikoordinasikan dengan kakek neneknya, karena nampaknya ini sudah default ada di tiap manusia. Tetapi paling tidak, saya memulai dari keluarga saya saja. Memberi penghargaan tentu perlu, supaya anak jadi bersemangat, tetapi tidak perlu membangga-banggakan di depan khalayak.

Yang tampil di khalayak kemudian hanyalah hal-hal yang terkait dengan capaian bersama. Bukan capaian individu. Sehingga harapan saya (lagi-lagi harapan), saya tidak membebani anak saya dengan mimpi-mimpi saya sebagai orang tua.

Namun tentu saja ini juga belum terbukti. Sebagai orang tua, saya baru menjalani 6 tahun saja. Dan baik sebagai orang tua maupun sebagai teman bermain anak, sepertinya juga belum memberikan bukti apapun atas pilihan ini.

Maka dari itu, saya share pikiran ini di sini, siapa tahu ada tanggapan dari pembaca. Kalau ada. Kalau diampiri orang juga. Ya, lagi-lagi apa boleh bikin, ini juga bukan terminal tempat orang nunggu bis.

vale, demi kemerdekaan

el rony, berusaha mengurangi beban

One thought on “HAKABEPE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *