Generasi Tanggal

Saya menggunakan kata tanggal untuk menggantikan kata ‘detached’. Sejujurnya, saya masih belum menemukan padanan kata paling tepat untuk kata tersebut, terlebih untuk dijadikan kalimat judul seperti ini, yang bisa menggambarkan apa yang saya maksud. Maka jadilah.

Kemarin malam, saya seperti biasa ngobrol santai bersama istri. Dan seperti biasa juga, obrolan sampai kepada hal-hal yang kami merasa tak paham terkait sikap beberapa orang, akhir-akhir ini, terutama di media sosial.

Salah satu hal yang membingungkan bagi kami adalah bagaimana dengan mudah orang mempercayakan hal-hal terkait dirinya sendiri, kesehatan misalnya, kepada sebuah akun yang bahkan mereka tidak tahu siapa yang mengelola. Konsultasi, demikian mungkin bahasanya, hanya saja kami tidak melihat hal itu sebagai konsultasi ketika lawan bicaranya bukanlah orang yang memang expert di bidangnya.

Detach!

Obrolan panjang kami membuat saya mengusulkan satu tolok ukur agar lebih bisa memahami. Generasi Detached, demikian istilah tersebut, untuk membedakan dengan generasi kami, yang kemudian saya namakan Generasi Attached. Mengapa demikian?

Bagi generasi kami, syarat berkonsultasi itu cukup ribet. Kami harus tahu betul bahwa yang kami ajak konsultasi itu manusia dengan kapasitas paling pas untuk menganalisa permasalahan kami. Kami harus bertatap muka supaya kami yakin bahwa kami tidak berkonsultasi dengan aktor. Kami harus.. dan seterusnya.

Sehingga tidak mudah bagi kami untuk menanyakan hal-hal yang personal dan detil kepada orang yang tidak kami kenal, apalagi tidak bertemu langsung, apalagi kalau yang kami hadapi hanya akun. Karena kami sadar betul, akun media sosial apapun itu belum tentu dipegang oleh orang yang memang berada di kapasitasnya, thanks to google and wikipedia.

Hal yang berbeda terjadi di generasi detached. Generasi ini justru bermasalah dengan interaksi langsung. Sebisa mungkin apapun harus berjarak, sehingga mereka bisa jadi apa saja, bisa bersembunyi ketika harus sembunyi.

Bagi generasi detached, bahkan ketika ditanya tentang “kalau tak bersosial, bagaimana pas kalian mati nanti?” akan menjawab dengan “kan ada jasa pemakaman”.

Bagi mereka, menyerahkan segala permasalahannya kepada sebuah akun bukanlah hal aneh, bahkan mungkin ilustrasinya bisa seperti ini, “dok, rambut kemaluan saya sebelah kiri kalah lebat dibanding sebelah kanan, kenapa ya dok?”. Perhatikan bahwa mereka juga fasih menyebut “dok” kepada sebuah akun yang bisa saja ternyata diadmini oleh lulusan SMP.

Menjadi Apa Saja

Sepertinya memang inilah kuncinya. Dan ketika sedang menjadi seseorang atau sesuatu, generasi ini akan all out. Ketika dia sedang menjadi konsultan bisnis, 50 tab browser mungkin mereka buka, tab-tab berisi informasi wiki dan hal lain hasil googling. Ketika sedang menjadi ustadz, lebih mudah lagi, cukup berbekal sama ditambah dengan duduk nyaman di posisinya. Peran menjadi penentu halal/haram, surga/neraka, dan seterusnya ini adalah peran yang paling nyaman bagi mereka, karena mereka memposisikan diri benar dan yang lain salah. Tolok ukurnya? Dirinya sendiri.

Pada generasi ini juga membuat mereka tak segan-segan seakan-akan mengetik sambil mengepalkan tangan, sambil menombak-nombak layar dengan bambu runcing, demi membela kelompok, politisi ataupun idolanya.

Lantas Bagaimana?

Kami tidak bisa menyimpulkan, mungkin karena kami memang model generasi attached, yang bahkan tidak bisa dengan enteng menghakimi benar salah.

Hanya saja kalau boleh, saya berharap generasi detached ini tidak ada. Bagaimana kita bisa disebut hidup kalau kita melepaskan diri dari tanggung jawab sosial? Sependek yang kutahu, yang begini ini masuknya ke kategori parasit.

vale, demi mengisi waktu

el rony, sakjane yo embuh

10 thoughts on “Generasi Tanggal

  1. Mungkin padanannya “Generasi Jarak”? Karena dengan social media semua seperti tak berjarak ^^

    BTW kalau aku sakit juga biasanya ke dokter tetep, cuma nanya doang di timeline punya dokter yang bisa direkomendasikan gak? hihihi~

    • eh nganu, konsultasi sih semua juga konsultasi. tetapi yang model kayak kalau konsultasi offline gitu itu nanyanya itu lho. piye ya nulise 😀

      konsultasi online justru bagus, kalau ke expertnya kan? misale mau periksa, tapi bisa chatting dulu ke dokternya, oke itu 😀

  2. Masalah detach dan attach mungkin ada di segala umur.

    Jadi tinggal milih jadi generasi tanggal muda, atau generasi tanggal tua.

    *terus ke ATM*

  3. Menarik. Ini mungkin tanda teknologi tidak bisa keep-up dengan keinginan manusia.

    Mungkin juga tanda pergeseran definisi ukuran-ukuran yang dipakai waktu bersosialisasi.

    Bentuk sosialisasi juga mungkin agak berubah karena ada temuan baru yang lebih efektif dan ekonomis.

    Duit mungkin lebih dipuja dibanding dulu-dulu atau ada jenis kebutuhan baru yang naik prioritasnya.

    Gih bikin panel diskusi, aku pengen melu ngrungokke :p

  4. Pingback: Web Log 1 – 15 November 2015 | Provita Prima

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *