Gemetar Pak Tua

Pagi ini, seperti biasa, menempuh perjalanan membelah kota dari arah pinggir timur menuju tengah. Mengantar anak sekolah kembali menjadi rutinitas pagi, setelah masa liburan usai. Perjalanan lancar-lancar saja, sepeda motor melaju nyaris tanpa hambatan. Hingga akhirnya harus berhenti sejenak di lampu merah perempatan Polsek Depok.

Sesaat ketika kendaraan-kendaraan berhenti, seorang bapak-bapak tua sedang dibantu turun dari sebuah becak. Si bapak berdiri di samping jalan, di depan becak, sementara bapak tukang becak mengambil sebuah perlak (karpet plastik).

Tubuh si bapak tua tergetar-getar, capingnya goyang kesana-kemari. Tongkat bambu yang dipegang olehnya, tak mampu meredam gempa yang lahir dari usianya. Tak lama kemudian, karpet plastik terhampar. Lalu si bapak tua ini dipandu oleh bapak tukang becak menuju karpet tadi, yang ternyata adalah singgasana bagi si bapak tua.

Tampak kesusahan ketika tubuh renta itu berusaha mengangkat kakinya, menapak lantai trotoar yang sebenarnya ‘hanya’ sekitar 10cm saja tingginya. Pelan-pelan si bapak didudukkan oleh pak becak, tubuh yang renta itu gagal mendarat di tengah singgasana. Luruh seketika di sudut karpet. Seketika pula, magnitude gempa seolah mengombak. Getaran semakin hebat, si bapak tua belum berani melepaskan tongkat bambunya meskipun pantatnya sudah berhasil menyentuh lantai.

Tangan kiri yang berpegangan pada tongkat bambu itu, lalu turun pelan-pelan. Seiring tangan kanannya meraih sesuatu dari tas lusuh yang ternyata dia selempangkan di dadanya. Pelan, lebih pelan dari getaran gempa usianya, lebih pelan juga dari detikan pergantian warna lampu di dekatnya, hingga akhirnya tangan kanan itu berhasil mengeluarkan sebuah toples plastik.

Si bapak tukang becak tampak tidak nyaman, dan sibuk memeriksa becaknya. Mungkin becaknya bermasalah, mungkin juga hatinya yang bermasalah.

Lampu sudah hijau, semua kepala pengendara seketika berubah arah. Motor dan mobil kembali melaju. Getaran kendaraan oleh tidak halusnya jalanan, mungkin mengingatkan getaran gempa usia yang tadi singgah di perempatan. Paling tidak, itu yang terjadi padaku.

vale, demi apapun

el rony, menimbang harga diri.

One thought on “Gemetar Pak Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *