Gaya Kepemimpinan

Semakin hari semakin tampak perbedaan mencolok antara gaya kepemimpinan saat ini dengan periode-periode sebelumnya. Sebenarnya, gaya kepemimpinan ini juga tampak di era Gus Dur, tetapi sayang beliau belum sempat sampai akhir menunaikan tugasnya. Saya yang bukan orang sospol ini menyebutnya sebagai gaya kepemimpinan sipil, untuk membedakan gaya kepemimpinan militer seperti periode-periode lain di negeri ini.

Dalam periode kepemimpinan sipil ini, banyak –termasuk saya– yang gagap karena sepertinya sistem komando tidak berjalan. Kita yang sudah terbiasa dengan apa yang diinginkan sang pemimpin harus segera terlaksana esoknya –kalau enggak maka binasa– jadi merasa agak gimana gitu ketika kejadiannya tidak seperti itu.

Hal yang menarik kemudian, meskipun seakan-akan apa yang menjadi keinginan pemimpin seperti mendapat tantangan –yang di mata awam seperti saya maka kesimpulannya jelas: gagal — ternyata kok tidak. Meskipun selalu “lambat” tetapi pada akhirnya terjadi juga apa yang diperintahkan. Saya menggunakan tanda petik di sini, karena meskipun disebut lambat, tetapi terjadi, berbeda dengan ala militeristik sebelumnya yang kayaknya cepat dan segera mewujud tetapi ternyata kenyataannya terbengkelai.

Penentuan prioritas juga tampak berbeda. Jikalau pada kepemimpinan militeristik maka hal-hal yang sifatnya simbolis atas nama kewibawaan yang dikedepankan, di masa ini justru hal-hal yang tidak populis yang dikedepankan. Mungkin memang inilah khasnya kepemimpinan sipil, ketika meyakini bahwa memang itu permasalahannya maka tidak perlu lagi memutar. Contoh kasus di sini tentu saja subsidi BBM.

Menimbang hal ini, maka ketika banyak di antara para pegiat online menyerukan melengserkan presiden terpilih, saya kok tidak merasa gimana-gimana. Bagi saya, kalau memang rakyatnya maunya begitu, ya ikuti saja rakyatnya. Kalau rakyatnya lebih suka model dicocok hidungnya, ya apa hendak dikata?

Saya sudah cukup puas dengan warna gaya kepemimpinan saat ini. Prestasi bukanlah berupa capaian-capaian fisik bagi saya, apalagi bicara soal kesejahteraan rakyat. Lha sudah 6 (enam) kali¬†pergantian¬†kepemimpinan kita saja masih belum bisa merata kesejahteraannya, kok yang baru mau bekerja sudah dituntut begini, maka nalar saya ya cuma bilang “ya jelas ndak mungkin”.

Meminta mereka yang tidak suka dengan gaya kepemimpinan ala sipil begini agar mendukung dan menyukai tentu saja tidak mungkin. Seperti sudah kusinggung tadi, ketika sudah terbiasa dengan dicocok hidungnya, disuapi, ya tentu sulit diajak berubah. Apalagi mereka yang terbiasa kongkalingkong, dengan kepemimpinan ala militer di mana tembok istana adalah wilayah sakral tak tersentuh, tentu akan lebih leluasa memainkan bisik-bisiknya. Justru ketika kondisinya seperti saat ini, mereka yang mau kongkalingkong juga kesulitan, istilah sederhananya mereka sibuk kuda-kuda, ragu untuk melangkah. Tentunya celah untuk kongkalingkong tetap ada, gila saja, kita masih di Indonesia gitu loh.

Jadi, sekedar menutup catatan ringan ini, saya hanya mau bilang, terimakasih rakyat Indonesia, sudah memberi kesempatan sebuah warna yang berbeda di balik tembok istana. Jika njenengan semua seperti saya, lebih suka merdeka dan bebas tidak tercocok hidungnya, ya mari bersabar. Kebiasaan jam karet kita yang membuat dua pekan menjadi berbulan-bulan, satu saat nanti pasti akan berubah. Mengubah budaya itu butuh proses.

Namun jika njenengan semua tidak sepakat dengan saya, monggo turun ke jalan. Kalau memang seluruh rakyat menghendaki dipimpin ala militer lagi misalnya, ya saya tidak akan melawan rakyat. Saya sendiri tidak berubah dari dulu hingga sekarang, mata pena dan mata kata saya selalu dan selalu mengarah lurus ke penguasa.

vale, satu saat nanti mungkin harus teriak lagi hal sama, “Ya Basta!”

el rony, menikmati kopi

2 thoughts on “Gaya Kepemimpinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *