Frameworks, sebuah kitab baru bagi CTO

Tidak semua CTO tentu saja, hanya satu orang CTO yang mempublish tulisan tidak bermutu. Di tulisannya, dia bilang,”dear programmers, please don’t use your own frameworks”. Sudah ada balasan komentar di postingan tersebut, dan sudah mewakili apa yang ingin saya bicarakan sebenarnya, tetapi saya merasa perlu menulis ulang dalam bahasa Indonesia mengenai hal ini. Oh iya, postingan itu bisa Anda cari sendiri melalui google dengan judul dalam tanda kutip tadi.

Jadi begini..

Mas CTO, frameworks itu tak lebih hanyalah satuan kode saja, rangkuman dari sekian library yang membuat proses pembuatan software/web menjadi lebih cepat. Oleh karenanya, frameworks itu dibikin oleh programmers juga. Kenapa? Karena programmers juga yang tahu apa saja yang dibutuhkan olehnya untuk membuat sebuah produk.

Sebuah frameworks bisa jadi dianggap sebagai sebuah produk jadi ketika frameworks tersebut sudah dipakai oleh banyak orang, diendorse oleh banyak community. Tetapi penentu baik atau tidaknya sebuah frameworks tentu bukan semata-mata karena hal ini, titik utamanya adalah bagaimana programmers bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan sesedikit mungkin bugs. Tentu dengan mengingat pentingnya masalah security.

Menyinggung masalah security, ketika sebuah frameworks tidak dikenal oleh orang banyak, maka dia memiliki satu keuntungan, algoritma kodenya tidak banyak diketahui orang, sehingga sedikit ada harapan “lebih aman”. Sedikit. Harapan. Tanda kutip. Karena tentu hal itu jelas terkait pada kualitas kodingnya.

Maka mas CTO..

Mengejar keuntungan itu sah-sah saja. Anda pingin cepat kaya, programmers Anda perah supaya segera menghasilkan susu. Tapi kalau Anda terus menerus memeras dan bahkan mengekang programmers Anda, maka kehilangan besar ada di depan mata Anda.

Seorang programmers menemukan satu cara workaround, katakanlah itu reinventing the wheels, tetap adalah satu proses bagi dia. Ibaratnya dia belajar berjalan, maka dia sudah siap berlari. Proses ini tidak boleh dimatikan, oleh alasan apapun. Oh Anda mungkin akan berkata, “itu tidak berlaku untuk proses produksi”. Tetapi apa yang akan terjadi jika seorang programmers hanya mengenal satu atau dua atau tiga frameworks saja? Mereka tak lebih seperti kera yang tidak berani makan pisang karena tiap kali mau makan pisang Anda semprot dengan air dingin.

Dan ketika nantinya muncul bugs (oh bugs adalah sahabat tiap frameworks, dear CTO), karena kreativitasnya sudah Anda kekang, yang terjadi adalah proses memakan waktu yang lebih mahal dibanding kalau sang programmers sudah dibebaskan kreativitasnya sejak awal.

Programmer yang cerdas, kreatif, adalah asset mahal. Anda menjadi CTO tanpa memahami hal ini, maka Anda tak lebih hanyalah manager yang salah memegang peta.

Dear CTO, please learn how to behave

vale, demi kreativitas

el rony, memintal kode

3 thoughts on “Frameworks, sebuah kitab baru bagi CTO

  1. Hi, Lantip…
    kalo di Indonesia, anggapan itu benar.
    Tapi di sini (dan Amerika kebanyakan), tiap programmer kebanyakan memang harus ‘dilucuti’ dan wajib mengikuti framework tertentu.

    Alasannya, supaya kalau sewaktu-waktu sang programmer keluar atau sabotase program, kontinuitas dari pemeliharaan aplikasi tak mengalami kendala yang berlebihan karena kesamaan framework itu tadi.

    Waktu pertama kali aku datang kemari aku juga mencak-mencak kenapa aku mesti pake jumla 🙂 Tapi ketika tanya-tanya ke mana-mana, memang di sini biasa seperti itu.

    Programmer jadi terkekang? Yes! Tapi nek menurutku itulah tantangan para CTO untuk membuat tantangan yaitu bagaimana supaya programmer mampu bikin add-on/plugin/components over the framework.

    Masalah bug, yes itu memang tak terhindarkan tapi sebenarnya (sekali lagi ini dalam konteks iklim industri di sini lho ya) itu justru yang membuat business wheel still rolling karena dengan demikian selalu ada pemeliharaan ke depan, proyek jadi berkelanjutan dan dari CTO dan programmer dapat makan 🙂

    Tulisan ini sangat menarik! Saestu!

  2. Eh sik, imbuh yo…
    Aku teriritasi banget lho dengan begitu banyaknya kawan yang tau2 jabatannya CTO, CTO dan CTO 🙂 Kenapa ngga senior programmer gitu aja yak.. 🙂

    Apa baser ngono kan luwih gampang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *