Enjah: Turuti, atau Tak Kembali

coverPagi ini, ditemani segelas teh, saya membaca komik karya Beng Rahadian. Sebenarnya bukan karya dia sendiri juga, karena ternyata di dalam komik tersebut dijelaskan bahwa pemilik ide maupun konsep tadinya adalah teman Beng yang — sedihnya– meninggal ketika akan menggarap komik ini. Beng juga dibantu oleh mas Thomas Soejakto, tetapi sayangnya saya belum mengenal mas Thomas, jadi saya tidak banyak cerita tentang beliau.

Sebelum menyentuh komiknya, saya merasa perlu menyampaikan sedikit yang saya tahu tentang Beng. Beng adalah sosok muda Indonesia yang seakan tak pernah lelah menggeluti dunia komik. Dari mulai karya hingga berkomunitas. Paling tidak, itu yang saya selalu dengar baik dari Windu (seniman lukis yang sekarang jadi desainer cover), Agung Arif Budiman (entah dia dimana sekarang dengan arixx-nya) maupun Mail (komikus yang menasional dengan sukribo-nya). Selain itu, saya juga “mengenal” Beng karena kecintaannya pada kopi. Satu kalimat yang selalu saya ingat (walaupun lupa persisnya) mengenai kopi dari Beng adalah bahwa hidup ini seperti menyeduh kopi. Larutkan yang pahit, aduk pelan-pelan, masukkan manisnya sedikit demi sedikit, agar sesedikit apapun manisnya hidup bisa kamu nikmati.

Kupikir, itu saja yang bisa saya ceritakan tentang Beng. Maka kini mari kita menuju ke komiknya. Enjah.

Komik Horor

Demikian yang beredar di social media ketika orang membicarakan Enjah, judul komik ini. Pertama mendengar, maka yang terlintas di kepala saya adalah “komik neraka”. Mungkin dari kalian ada yang pernah melihat, membaca atau mendengar tentang komik yang saya maksud ini. Sebuah komik yang dulu beredar bebas dari tangan satu anak ke anak lain, sementara isinya sungguh luar biasa.

Komik neraka adalah komik yang menggambarkan “kondisi” di dalam neraka. Bagaimana seorang pelacur dimasuki alat kelaminnya dengan besi panas, bagaimana penipu diguyur timah panas, bagaimana pengadu ayam diadu oleh ayam, dan seterusnya. Gambar di dalam komik itu cukup detil, hingga ke puting yang memanjang dan melilit pemiliknya. Setiap teringat dengan komik ini, saya selalu tak habis pikir bagaimana ceritanya komik ini bisa beredar bebas di kalangan anak-anak waktu itu. Dan paragraf yang saya tulis ini adalah gambaran paling halus yang bisa saya lakukan untuk mendeskripsikan isi komik tersebut.

Kenapa saya teringat dengan komik itu? Karena komik yang lain yang saya ingat kalau sudah menyangkut kata “horor” adalah komik lucu-lucuan seperti gareng petruk dengan jurig situ entah, dan sejenisnya. Atau mentok di komik strip (panel beberapa kotak) dari satu majalah berbahasa jawa, Djoko Lodhang. Maka ketika membicarakan komik horor, yang saya bayangkan adalah kondisi seperti itu.

Paling tidak, gambaran saya adalah tentang wajah-wajah menyeramkan dengan –jangan pernah lupa– taring dimana-mana. Dan ya, gambaran saya salah total. Tentu saja, karena dari sedikit yang saya tahu tentang Beng, gambaran itu jelas melenceng terlalu jauh.

Tapi dengan begitu, saya jadi senang, Beng ternyata “masih” dengan semangat komik Indonesianya, tanpa jatuh ke wilayah yang –bagi saya– remeh. Terlebih lagi, setelah melihat visualisasi komik Enjah, saya sama sekali asing. Dalam konotasi positif tentu saja. Saya yang sudah “terlanjur” terpapar oleh komik-komik manga Jepang (dan menikmatinya! tolong dicatat!), seakan dibawa ke wilayah yang jauh tapi di satu titik lantas diingatkan sendiri bahwa ini ada di sekitarku, demikianlah wajah-wajah orang Indonesia.

Sampai pada titik ini, saya mencatat satu kata “selamat” untuk Beng dan timnya. Tetapi ini mari kita simpan dulu, karena kita belum sampai kepada isinya.

Enjah

Judul komik ini sendiri memberi interpretasi yang berbeda dalam diri saya. Terus terang, tanpa membaca isi komik ini, aku tidak akan pernah teringat bahwa perjalanan bahasa di negeri ini mengalami evolusi yang panjang. Tadinya saya berpikir, karena disebut sebagai komik horor, Enjah adalah nama hantu dari satu daerah di satu tempat di Indonesia.

Tadinya, bahkan sampai ke halaman hampir akhir dari komik ini, saya masih bertanya-tanya bagaimana hantu asing itu sampai ke Yogyakarta, wilayah yang menjadi setting dari cerita di komik ini. Hingga kemudian saya baru bisa bilang “oh!!” ketika tokoh Sofie menyampaikan kata itu dengan bahasa yang lebih bisa dimengerti oleh otak lambat saya.

Saya sedang berusaha untuk tidak menjadi spoiller di sini, jadi saya tidak akan menceritakan detilnya, tetapi mungkin Anda semua sudah menangkap maksud saya. Judul itu, mendapat satu kata “selamat” juga dari saya, karena judul itu membentangkan lini masa dari periode di tiap halaman komik. Jarak antar tokoh, jarak antar peristiwa dari tiap halaman, menjadi “tergamblangkan”. Mungkin saya terlalu berlebihan, tetapi ya ini memang otak lambat saya yang menangkapnya demikian.

Maka Enjah adalah satu peristiwa yang tidak berhenti dari sejak jaman kuda gigit besi hingga jaman modern dimana HP cukup menjadi tempat diskusi tanpa harus tatap muka di kedai kopi.

Ada yang kurang

Tentu saja, saya manusia, maka merasa kurang adalah sifat wajib. Satu hal yang saya catat sebagai kekurangan dari komik ini adalah lintas antar peristiwa terlalu cepat. Pola flashback forward flashback (ini yang saya tangkap) cukup mengasyikkan, tetapi sebagai pembaca yang model bacanya (terutama membaca komik) kemaruk dan nggragas, maka saya merasa sudah kehabisan makanan bahkan sebelum perut saya bercita-cita untuk kenyang. Komik ini terlau cepat habis dalam sekali kunyah.

Saya tentu juga nggak suka model komik yang nggladrah dan bertele-tele, apalagi seperti komik-komik jepang model inuyasha, bleach, dan beberapa model cerita lain, yang sebegitu mangkelinya karena terlalu sering mandeg ketika sedang hampir mencapai puncak, sehingga saya malas lagi meneruskan bacaan saya. Chinmi juga melakukan itu, tetapi chinmi sedikit lebih baik dimana tidak ada episode sisipan yang seakan menggambarkan sang pencerita sudah kelelahan fisik maupun mental. Bagi Anda pecinta bleach, tentu Anda mengerti maksud saya. Ah cukup dengan komik Jepang.

Maka menurut saya, Enjah mestinya hadir dalam bentuk novel grafis, atau komik berseri. Dengan dua point kata “selamat” tadi, ditambah dengan buncahan-buncahan harapan di kepala saya, tentu saya akan berlangganan.

Demikian review saya mengenai Enjah. Tidak banyak, tetapi biarlah yang lain Anda alami sendiri dengan membacanya. Menurut saya, komik ini layak dibaca. Anda akan diajak menjelajah satu dunia yang sudah lekat dengan kehidupan kita sejak dulu, tetapi dengan pendekatan yang lebih halus dan tidak jatuh remeh seperti karya-karya akharpunjadi rotanpunjadi.

vale, demi menggambar

el rony, teringat eyang kakung.

p.s.: mengenai kaitan judul ini dengan isi tulisan, tentu saja tidak ada 😀 kaitannya hanya bisa diketahui kalau sampeyan membaca komiknya 😀

2 thoughts on “Enjah: Turuti, atau Tak Kembali

    • kemarin dapat pas ada diskusi komik ini sih, tapi coba cari di togamas atau gramedia, kayaknya sudah ada juga di sana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *