Dunia yang Mengkerut

Tiba-tiba semua menjadi terasa sesak. Segala berhimpitan. Jarak antara satu masalah dengan masalah yang lain, mendadak jadi hitungan detik saja, tidak lagi sepeminuman teh. Kegelisahan yang lebih sering dipicu oleh ketidakberdayaan ketika menghadapi satu kendala.

Lalu melintas-lintas, bagaimana hal-hal yang sudah dilakukan, upaya-upaya yang sudah diambil, luruh satu-satu. Semacam anak panah yang sudah mencapai tujuan, tetapi luruh tanpa tertancap. Pada saat seperti ini, seolah sia-sia saja semuanya.

Lalu melintas-lintas pula, orang yang sibuk menyombongkan diri, menginjak-injak segala upaya yang sudah dibangun. Orang yang menyelamatkan diri dan keluarganya dari jurang masalah saja gagal, tapi tanpa perasaan bersalah, tanpa rikuh pakewuh, menggerogoti apa yang diperjuangkan dengan keringat, dan koar-koar membangga-banggakan seolah-olah dia berhasil dengan pencapaian.

Saat seperti ini, jiwa terkuatpun merapuh. Saat seperti ini, lari seakan menjadi pilihan paling ideal. Saat seperti ini, kerelaan yang tak akan pernah dihargai oleh siapapun, tak akan dipandang oleh siapapun, tak akan dicatat oleh siapapun, harus diambil.

Maka, ambil sebuah alat musik, mainkan nada-nada paling menyayat, tenggelamlah dalam umpatan yang paling suram, tumpahkan pada malam. Agar larut dan menguap bersama embun-embun. Lalu lupakan.

Karena, semarah apapun, orang yang tak punya perasaan dan hanya diliputi hasrat sombong dan berbangga-bangga, tak akan sedikitpun merasa. Semarah apapun, muka tembok tak akan luntur dan luruh dalam kepahaman. Sia-sia.

Saat ini, pelan-pelan, aku mengajak hatiku sendiri, keluar dari himpitan dunia yang mengkerut. Semoga bisa, semoga.

el rony, larut bersama malam

vale, demi segala keterbalikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *