Bertualang

Menjelajahi daerah asing, kalau diingat-ingat, adalah satu hal yang memiliki daya tarik besar dalam hidupku. Hasrat untuk mengembara, mungkin dipicu oleh cerita-cerita silat yang kubaca dari kecil. Ya, mungkin karena cerita silat itu, karena aku ingat, aku dulu juga mengumpulkan potongan-potongan kertas, aku gambari dengan postur-postur ninja dengan berbagai pose lalu kuberi judul “Kitab Rahasia”. Itu waktu SD.

Ke Sekaten!

SMP adalah masa dimana jangkauan kaki tidak lagi cukup dipuaskan dengan jarak sepuluh kilometer. Buncahan rasa ketika menelusuri kampung menuju peternakan sapi poang (demikian kami menyebut sapi perah), berjarak sekitar 10 kilometer dari kampungku, membekas dalam sekali. Hasrat ini segera saja menguat ketika satu temanku SMP, Sudaryanto namanya, mengajakku bertualang bersama, menuju sekaten.

Kampungku berjarak kurang lebih 26 kilometer dari pusat keramaian Sekaten. Maka berjalan kaki jelas tidak masuk hitungan, pun mengendarai sepeda onthel. Jadilah kami berdua memilih naik angkutan umum, biskota. Postingan ini berkisah tentang masa-masa itu, jika berkenan silakan dibaca.

Persiapan.

Aku yang masih kecil waktu itu –ketika SMP postur tubuhku terhitung pendek (dan kurus) dibanding teman-teman sebayaku. Temanku tak kalah kecilnya. Namun kami bertekad untuk berangkat berdua saja. Waktu pamit ke kedua orangtuaku, aku ingat, ibukulah yang paling berkeberatan. Sementara ayahku justru mendorong.

Celana panjang yang kupakai, dirobek kecil di bagian sabuk, di bagian dalam, oleh ayahku. Di situ, beliau menyelipkan beberapa lembar uang –yang aku tidak tahu berapa persis jumlahnya hingga sekarang. Aku sendiri tidak meminta, karena aku sudah cukup yakin dengan uang tabungan yang aku punya.

Dulu, waktu SD, aku berjualan apa saja. Layang-layang, mata pancing (yang kubuat pakai kawat, yang akhirnya menuai protes karena ternyata tidak bisa tenggelam), juga jual beli burung merpati, demi memperbanyak tabungan. Maka ketika SMP dan berniat bertualang, tabunganku cukup sekali kalau sekedar untuk membayar ongkos transportasi dan uang makan alakadarnya.

Berangkat.

Aku lupa, waktu itu kami berangkat dari rumah Daryanto atau dari rumahku. Yang jelas, aku cuma ingat kami berangkat naik bis. Sore kami berangkat, sehingga maghrib kami baru sampai di lokasi Sekaten. Masjid adalah tujuan pertama.

Selesai sholat maghrib, kamipun mulai menjelajahi Sekaten. Menonton orang naik komidi putar, melihat-lihat buku, melihat-lihat permainan, dan terakhir menonton pertunjukan penjual akik. Demonstrasi yang menakjubkan bagi kami waktu itu, dimana ada orang yang diguyur air panas (terlihat mendidih — meskipun kemudian aku yakin itu tipuan), hingga orang disayat pakai belati tidak apa-apa.

Pertunjukan ditutup dengan si penjual akik mendemonstrasikan kekuatan akiknya. Aku yang naif waktu itu, membeli satu buah batu akik juga. Batu akik dibungkus dengan plastik, di dalamnya ada satu lembar kertas bermantra. Konyolnya, batu akik yang kubeli tidak ada batu-nya, jadi akupun kembali ke penjual dan menukar. Sungguh satu hal yang konyol untuk sesuatu yang disebut batu sakti.ย Sekian hari kemudian, batu akik dan kertas mantra itu aku kencingi ๐Ÿ˜€

Mengantuk

Hari sudah semakin malam. Kami berdua tidak pernah berpikir mengenai penginapan, mana ngerti anak SMP jaman itu tentang penginapan? Yang kami pikirkan cuma menggeletak di Masjid. Namun, apadaya masjid ditutup gerbangnya. Kami bingung, tak mungkin kami tidur di rerumputan.

Ketika kami sedang kebingungan, seorang bapak yang baik hati menawari kami tidur di bangku komidi putar. Tak kuingat apakah aku cukup nyaman tidurnya waktu itu. Yang kuingat aku cukup gelisah menjaga “kekayaanku”. Uang titipan ayahku tidak boleh berkurang barang sepeserpun, ini sudah tekadku.

Temanku kulihat tenang, tidur di kursi seberang. Aku yang juga sudah sangat capek, akhirnya tertidur juga. Lalu kami terbangun oleh hiruk pikuk pagi.

Pulang

Tidak sempat kami sholat subuh, temanku sudah mengajak untuk menyegat bis di Ngabean. Akhirnya aku sholat di dalam bis, semacam musafir saja.

Pengalaman ini masih terpatri hingga kini, entah temanku masih ingat atau tidak. Dan pengalaman ini, baru saja aku ceritakan kepada anakku, menjelang dia tidur. Agar nanti dia juga mengembara, melihat dunia lebih luas.

vale, demi pengembaraan dan pencarian

el rony, ke maluku adalah versi dewasaku mengunjungi sekaten.

nb: kalian punya cerita petualangan?

ย jaman semono, sangu 3rb, iso tekan negoro ( daryanto, mengenang masa itu)

4 thoughts on “Bertualang

  1. Apa setelah jenengan ngencingi batu akik jadi sakti? Mungkin karena ngencingi batu akik itu sampeyan jadi sakti bikin avatar *loh. Kalau cerita saya waktu sekolah dulu, saya suka dengan kungfu, semacam gelut-gelutan. Lalu saya mempraktekkan tendangan dengan teman saya di sekolah. Alkisah tendangan pun saya praktekkan. Mungkin saking mantapnya celana saya kakrak panjang sampe kelihatan sempaknya :|. Dan sialnya lagi, saya dikerjain teman saya. Teman-teman ndak mau ngizinin saya ke guru, saya sendiri yang harus ketemu dengan kondisi robek gitu -____-“.

  2. fihuhuhu nyenengke mas! ๐Ÿ˜€

    aq malah dadi lali, kapan yo mulai dijak neng sekaten mbonceng *pitung karo Bapak..

    btw, 26km kie ngendi jeh..

    ketoke sek paling membekas :
    ” Sekian hari kemudian, batu akik dan kertas mantra itu aku kencingi ๐Ÿ˜€ “

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *