Belajar Diam

Ngomong, entah kenapa menjadi hal yang sepertinya sangat menyenangkan bagi sebagian orang. Jika masih hidup filsuf-filsuf terkenal itu, mungkin akan muncul kata-kata “aku ngomong maka aku ada”. Seakan justru malu kalau tidak ngomong, meskipun tidak tahu atau tidak paham dasar omongannya.

Kasus terbaru tentunya mengenai menteri pendidikan kita. Namun sebelum beliau, kita juga sudah berkali-kali diterpa oleh celotehan marzuki alie, ataupun pejabat lain. Beberapa mungkin bisa dilihat di sini, kebetulan ada orang yang mengarsipkan omongan-omongan tidak jelas pejabat kita.

Nah, mengenai menteri pendidikan kita, saya merasa perlu menyoroti, karena bagaimanapun saya termasuk orang yang percaya bahwa kemajuan sebuah bangsa dilandasi oleh kuatnya wilayah pendidikan. Maka ketika seorang menteri, yang notabene dulunya adalah rektor ITS, sebuah perguruan tinggi yang cukup diperhitungkan di negeri ini, berbicara seakan tanpa rem, saya terpukul sekali.

Kebetulan kasusnya adalah kasus yang cukup sensitif, pemerkosaan. Kasus yang secara fisik luar tidak terlihat perubahan dari sisi korban (kecuali kalau kemudian hamil), tapi secara psikologis menghantam keras. Belum lagi dengan pandangan orang sekitar. Maka ketika secara tidak langsung sang menteri justru bernada “menyalahkan” si korban, ini salah sejak pemikiran.

Tidak ada perlunya menteri pendidikan mengatakan “bagaimana kalau ternyata suka sama suka?” atas sebuah kejadian perkosaan. Mengapa? Karena hal itu tugas polisi/penyidik. Tugas seorang menteri apalagi bidang pendidikan, dimana kebetulan korbannya juga anak didik, adalah melindungi dan memastikan anak didik mendapatkan hak pendidikan.

Tidakkah sudah cukup berat beban si anak didik, dimana dia menjadi korban dari sebuah superioritas kelelakian? Dan tidakkah terbayang pedih dan beban mental si anak didik ketika nanti harus melakukan reka ulang mengingat demikianlah kinerja penyidik?

Pembelaan diri biarlah dilakukan oleh si pelaku. Penyidikan biarlah dilakukan oleh lembaga yang terkait. Tugas menteri adalah memberi gambaran jelas kepada masyarakat bagaimana mestinya sebuah institusi pendidikan menanggapi peristiwa seperti ini.

Saya menyayangkan sekali omongan itu, tidak cukup menurut saya sikap tidak bertanggungjawab dengan bersembunyi melalui kata maaf, apalagi disertai dengan pembelaan diri yang terus menerus. Kalau memang minta maaf, minta maaflah dengan tulus, bukan sekedar lipstick.

Dari peristiwa ini, saya semakin yakin bahwa pejabat kita harus belajar diam. Diam bukan diamnya bumega ataupun diamnya abu rizal bakrie atas tuntutan warga lapindo. Tetapi diam yang bertujuan, daripada ngomong tapi menyakiti.

Hal ini tentunya juga berlaku buat kita, kalau memang kita tidak paham atas suatu permasalahan, tidak perlu kita ikut-ikutan membahas apalagi menghujat. Demikian nggih, mas, mbak, pak M Nuh.

vale, demi kebenaran

el rony, sudah lama belajar diam alias tidak ngeblog

 

2 thoughts on “Belajar Diam

  1. Aku teringat sebuah pepatah asal Zimbabwe, pepatah itu isinya sih intinya kalau gak iso ngomong nggenah menengo. Lek gak salah bunyinya “Cangkem bedho karo sil…” ah sudahlah, lupa aku 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *