Apa sih salahnya gagasan pak mentri?

Dua hari ini media sosial sedang membahas, salah satunya, mengenai gagasan Bapak Menteri Pendidikan kita, Bapak Muhajir Effendy. Beliau menyampaikan kegelisahannya terkait dengan kenakalan-kenakalan remaja yang semakin hari tampak semakin memprihatinkan. Dalam sebuah kesempatan, beliau mengemukakan apa yang menurut beliau layak dipertimbangkan sebagai solusi, full day school.

“Anak-anak muda zaman sekarang masih banyak yang bermental lembek dan tidak tahan banting”, demikian alasan lain yang dikemukakan beliau terkait dengan gagasan tersebut, seperti dimuat di harian online Republika (07/08/2016).

Dalam pandangan beliau, dengan belajar sehari penuh di sekolah, juga bisa memberi solusi bagi orang tua yang bekerja hingga sore. Nantinya diharapkan anak akan pulang bersamaan dengan kepulangan orang tuanya, sehingga anak akan selalu berada di dalam pengawasan, baik pihak sekolah sebagai perwakilan orang tua maupun oleh orang tua itu sendiri di rumahnya.

Sekilas tawaran beliau ini menarik. Terlebih lagi dengan kenyataan saat ini dimana trend sekolah full day semakin banyak ditawarkan oleh lembaga-lembaga yang mengusung tema pendidikan sebagai core business-nya. Lantas apa salahnya?

Ketersesatan Nalar

Sebuah gagasan yang dikemukakan oleh pejabat di muka umum, apalagi hingga menyinggung permasalahan teknis seperti permen dan sejenisnya, sudah barang tentu keluar dari hasil pemikiran dan pertimbangan yang bersangkutan. Sependek apapun waktu berpikirnya, gagasan itu tentu sudah dalam pertimbangan sebagai yang terwangun.

Hanya saja dalam hal ini, pak menteri yang orang desa ini, sepertinya lupa bahwa permasalahan yang dia bidik berada di rimbun beton kota-kota, dan dengan kebijakannya kelak, tak bisa dihindari akan menyentuh desa-desa yang asing dengan permasalahan tersebut. Lebih parahnya lagi, masalah yang dibidik itu coba diselesaikan dengan pola pikir infrastruktur dan lingkungan perdesaan. Mawut sekali.

Di desa, kami tidak memiliki permasalahan mengenai pengawasan. Benar bahwa di desapun banyak remaja-remaja yang berkelakuan tidak baik. Namun untuk melihat letak permasalahannya, musti dilihat juga seperti apa lingkungan si anak. Kalau dari SD sudah diberi motor oleh orang tuanya, sedangkan aturan bahwa pengendara harus dilengkapi dengan SIM dan syarat SIM adalah usia dewasa, jelas permasalahannya bukan di lingkungan sekitar dan pergaulan semata, tetapi justru di pusat, di orang tuanya.

Di kota, kesibukan orang tua dan rawannya lingkungan urban adalah kombo yang membuat orang tua harus extra hati-hati. Permasalahannya kemudian ketika mencoba menyelesaikannya dengan menahan anak agar berada di sekolah, hingga orang tuanya pulang. Ada permasalahan transportasi di sana, ada permasalahan tenaga pengajar dan sebagainya. Alih-alih harapan atas pengawasan terlaksana, yang ada semua capek dan terkuras energinya.

Jadi, sebenarnya, solusi apa yang ditawarkan dari gagasan tersebut? Tidak ada.

Anak dipandang sebagai Obyek Penderita.

Ketika dunia pendidikan sedang mengarah ke memanusiakan manusia, menteri pendidikan kita justru menggagas hal yang menempatkan anak sebagai playdoh, obyek penderita. Tangan-tangan penguasa, guru dan orangtua, berusaha sedemikian rupa membentuk dan menentukan akan menjadi apa anak-anak kelak.

Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang cukup jelas, “Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” sudah dianggap usang. Pola pendidikan keteladanan, membangun bersama dan mengiring serta mensupport dari belakang, mungkin dianggap gagal total dan bahkan bisa jadi ditempatkan sebagai penyebab “kerusakan” moral generasi muda.

Kata-kata Kahlil Gibran tentang anak panah dan busur, adalah kata-kata abad yang telah silam. Filosofi atasnya karenanya menjadi tidak relevan lagi untuk masa sekarang.

Tidak perlu lagi sepertinya seorang anak bergaul dengan temannya, bermain bersama di lingkungannya. Bersepeda, main lego, mancing, atau sekedar mengejar capung di sawah. Hal yang dilakukan oleh anak saya ini tampaknya sudah lewat jamannya.

Setiap hari saya mengantar anak ke sekolah. Dan ketika sampai di halaman sekolah, sebelum anak saya pamit berlari ke kelasnya, saya pasti berucap, “selamat bersenang-senang!”. Saya lakukan ini dari semenjak dia TK hingga sekarang setelah dia kelas 3 SD. Jika gagasan pak menteri ini jadi kebijakan, tampaknya saya harus merevisi kata-kata saya. “Semoga sabar ya nak, orang-orang dewasa merasa tahu apa yang kamu butuhkan, padahal mereka hanya ingin membayar rasa berdosa atas kegagalan mereka memahami duniamu”. Panjang, dan menyesakkan.

vale, demi apalah

el rony, tidak habis pikir.

7 thoughts on “Apa sih salahnya gagasan pak mentri?

  1. memang sangat “bias kota” sekali gagasan pak menteri ini. Di desa, sepulang sekolah anak-anak banyak yang masih harus bantu orangtua di ladang, bantu ibu, dsb. Lembek dan tidak tahan banting dimana?

  2. Apik-apik wae asal ada perjanjian atau UU bahwa anak sekolah akan diurus dan dibesarkan oleh negara. Tapi itu juga tambah sesat pikir dan lebih berbahaya sangat. Karena meneruskan menteri lama yang nyuruh nganter anak sekolah tapi nggak nyuruh njemput. Kudune kan mampir mondok ngono malah jelas.

    Lucune mentri saiki, nggak ngurus kualitas pendidikan tapi malah ngurusi hal-hal sing raono kaitane dg kualitas pendidikan opo kurikulum sing justru memberatkan sekolah dan anak peserta didik.

    Ning walah kui kan urusane pak mentri, kene mbayar SPP separo wae ben siang-siang anake iso dijemput mulih dolanan karo bapakne mbokne.

  3. Pertama : Apakah sangat menjamin kalo anak anak berada disekolah lebih lama akan lebih baik….buktinya banyak anak2 yang bisa bolos keluar dari sekolah diwaktu jam sekolah belum usai. Kedua : bagaimana anak2 yang masih di desa terpencil yang utk ke sekolah aja harus naik gunung nyebrang sungai, berjalan kaki 2 jam ke sekolah…bagaimana mereka ???? Bisa pulang jam berapa sampai rumah.??? Ketiga : peraturan anak pulang sekolah sampe sore itu hanya pemikiran dari orang tua yang gak mau pusing mengjadapi anak2nya. Rumah adalah tempat terbaik bagi anak belajar hidup. Kenapa gak malah mengadakan sekolah buat orang tua yang merasa tidak mampu mendidik anak dengan baik.JANGANLAH MEMBEBANKAN ANAK DENGAN KESALAHAN2 DARI CARA BERFIKIR ORANGTUA YANG TIDAK MAU REPOT.

Leave a Reply to Maman Gacol Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *