Alon-alon waton gelis

self-drive-vehicle-halahMembaca postingan mas Wednes “Kayam” ini membuatku teringat obrolan dengan istriku tadi pagi. Kebetulan kami habis pulang dari acara Festival Gerobak di Lapangan utara Stadiun Maguwoharjo. Kami bersenang-senang sih, walaupun kepanasan. Terutama saya yang langsung nostalgia jaman-jaman masih kecil dulu. Teringat bagaimana dulu suka lumpat ke belakang gerobak, numpang tanpa ijin dari depan rumah sampai kali di selatan desa. Kadang dimarahi sopirnya, lebih sering juga tidak.

Semilir angin, klunthung-klunthung suara bel di leher sapi, dan gemeretak roda kayu (sekarang sih semua pake roda ban), selalu mengantar cepat ke alam pating thekluk. Istriku sih mungkin tidak merasakan itu, tapi paling tidak kesan itu masih bertengger hingga saat ini, betapa nyaman dan nyenengké-nya berada di atas gerobak.

Serba Cepat

Dalam obrolan tadi pagi, kami berandai-andai jika gerobak menjadi sarana transportasi umum (lagi). Tentunya hal ini terkait dengan wisata. Kebetulan kami juga masih hangat memperbincangkan ide tentang desa wisata, ditambah mas Wednesyuda di blognya juga pernah membahas konsep itu dengan pembanding kisah dari Vietnam.

Membayangkan para turis dihentikan waktunya, berayun-ayun di gerobak, merasakan semilir angin dengan bonus bau segar tléthong sapi :D. Sepertinya menarik, dan sepertinya pula para turis akan suka menikmati itu. Di negara mereka, hal-hal sederhana sudah dilupakan, maka mari kita tawarkan kesederhanaan yang bukan pura-pura.

Tetapi bayangan itu pupus ketika menempatkan wisatawan domestik di dalamnya. Andong menjadi lebih menarik dibandingkan gerobak. Kenapa? Karena Andong lebih cepat.

Negara kita mau tidak mau terimbas pula dengan teknologi. Kemajuan yang dijadikan tolok ukur kemudian bersinggungan dengan kecepatan. Upload cepat, download cepat, kerja cepat, apapun serba cepat. Lambat dan pelan menjadi momok. Maka berkendarapun jadi kehilangan sronto kalau menurut mas Yuda. Dan akibat dari ini pula, kelambatan yang bisa ditolerir hanya sampai pada kecepatan kaki kuda. Lebih lambat dari itu, tersiksa.

Maka, ide gerobak pupus.

Alon-alon Waton Gelis

Di sini letak anehnya Jogja, yang mungkin juga daerah lain (yang bukan metropolitan). Di kota metropolitan, apapun serba cepat, karena ada hambatan macet, kecelakaan, dan lain-lain. Tapi di daerah, ada satu kondisi magel, di satu sisi pingin alon-alon tapi di sisi lain butuh cepat.

Kondisi ini, biarkan sajalah. Hal yang saya sayangkan kemudian tinggal masalah tepo seliro. Saling menghargai, saling memahami. Yang butuh cepat, memahami bahwa blèyeran motornya mengganggu orang. Pilih-pilih tempat kalau mau mblèyer. Yang butuh alon-alon, minggir, kasih jalan pada yang pingin cepat.

Yang nantinya, saya harapkan, hal ini menjadi kebudayaan kita dalam berkendara, dalam berlalu lintas. Semua kemudian bisa alon-alon, tapi slamet dan gelis karena jalanan menjadi lancar. Harapan ini perlu saya sampaikan, mengingat hampir di setiap perempatan lampu merah, sekarang sering sekali terjadi bottle neck. Depan masih macet, yang belakang bukannya nunggu lampu hijau malah ikutan maju. Jadilah tidak maju-maju. Kurang Garuda Pancasila pokoknya.

Jadi, hm.. mau bicara apa saya tadi? Ah ya itu saja, tidak menanggapi, tidak menambahi, hanya berbagi saja. Tentang sronto dan alon-alon waton gelis. Semoga terjadi apa yang disemogakan.

vale, demi alon-alon ning gelis.

el rony, mblèyer motor ning dibatin.

14 thoughts on “Alon-alon waton gelis

  1. Mbuh ngapa. Kok rasane aku kudu komen ya? :mrgreen:

    Saya suwe yoja ki saya cepet mlakune ya sajake? Montor montor dha saya banter, kabeh kesusu. Sidane mah srobot-srobotan. Mangka merga srobotan kui malah dadi rakaru-karuan. Njuk malah dadi suwe tekan nggone.

    • ha yo kuwi. angger nang prapatan njuk malah mandeg mergo ora ono sing gelem ngalah. iki masalah sing kudu dirampungi karo cah-cah nom koyo awake dewe. *karang enom*

  2. Sebenernya saya pribadi sangat seneng dengan hal yang alon-alon..

    Tapi entah kenapa kok temen-temen saya malah jadi sering mengunekkan saya dengan istilah “kurang sat set” lah, “kurang tanggap” lah dan kurang2 lainnya apapun itu..

    Entahlah..

    El Thon9, alon-alon dan ketikkung.

  3. tulisan mas Lantip ini hanya berselang sekitar 30 menit dari di blog saya. Wedian… luar biasa gelisnya. Dalam waktu 30 menit lahir sebuah tulisan baru. Nek diberdayakan, dalam waktu 1 hari lak wis metu 1 buku… *mlayu…*

    • njuk nek wis nulis buku njuk ngopo mas? aku wis nulis (baca nerjemahke) buku che guevara mas, wis iso nggo ngado adiku kawin, wis kuwi wae cukup 😀

  4. Pingback: Alon-Alon Waton Nyandak | Wednes Aria Yuda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *