Menjadi Preparat

Image saya ambil dari: http://n1nt1.blogspot.co.id/2010/12/teknik-pembuatan-sediaan-pemeriksaan.html

Image saya ambil dari: http://n1nt1.blogspot.co.id/2010/12/teknik-pembuatan-sediaan-pemeriksaan.html

Kira-kira begitulah posisi manusia saat ini. Para pandai menempatkan kita di sebuah preparat kaca, dan dengan mikroskopnya menganalisa kulit kita, tulisan kita, gaya bicara kita, aksi dan reaksi kita. Pengamatan ini dilakukan dengan saksama sekali, memantau setiap geliat dari makhluk di kaca preparat, mencatat dengan runtut di sebuah jurnal, lantas untuk kemudian tersaji rapi jali dalam sebuah laporan, opini.
 
Ada jenjang yang berbeda, antara peneliti dengan preparatnya. Ada jarak yang signifikan antara obyek dengan subyek. Dan jelas, ruang menganga memisahkan antara cendekia dengan bahan uji labnya.
 
Spektrum yang diamati juga bermacam-macam, tentang agama, tentang suku dan rasnya, hingga tentang dewasa dan tidaknya. Sebagai obyek, manusia yang berada di preparat, hanya bisa pasrah dan jelas tidak punya hak untuk sekedar resah.
 
Lantas para cendekia berlomba mempresentasikan jurnal penelitiannya, opininya. Melalui media-media, melalui apa yang kelak mungkin boleh disemat sebagai karya. Presentasi ini kemudian disebar ke mereka yang bukan obyek preparat saat ini. “Oh, begitu rupanya”, gumaman mereka, target preparat selanjutnya, entah kapan.
 
Namun, obyek preparat itu manusia. Maka satu dua di antara mereka, menggugat para cendekia. Label demi label ditolaknya, karena pada dasarnya sang obyek tidak suka melabeli manusia. Tetapi itu tentu saja tak berguna. Sang cendekia sudah final, kita memang harus dan selayaknya berkonflik horisontal.
 
Baiklah, tuan cendekia. Tulisan dari obyek preparat ini tak perlu diperpanjang lagi kiranya, dengan harapan, semoga obyek-obyek preparat ini tak termakan hasutan berbalut analisa. Mohon tuan cendekia jangan kecewa, karena kami manusia.
 
Ngono yo ngono ning ojo ngono.
Saya tutup dengan kalimat ini, agar sah kiranya saya, sebagai obyek preparat manusia jawa.