Pak, Belikan Saya Laptop

Hari masih pagi, ketika saya berkesempatan bertemu lagi dengan seorang bapak di sebuah pojok kampung. Beliau masih ingat dengan saya, senyum lebar mengiringi ucapan selamat pagi. Saya sedang ingin melanjutkan pekerjaan semalam, maka setelah saling sapa, saya menggelar mesin ketik saya dan mulai membatik kode.

Selang beberapa saat kemudian, si bapak menghampiri, lantas bertanya,”mas, laptop itu harganya berapa ya?”. Respon sayapun spontan,”tergantung pak, bapak mau cari laptop yang seperti apa? atau laptopnya mau bapak pakai untuk apa?”. Semua dialog ini dalam bahasa jawa tentu saja.

Malu-malu si bapak menjawab, “bukan buat saya mas, buat anak saya”. Maka berceritalah beliau tentang anaknya. Kelas 1 SMA saat ini, dan sebentar lagi naik kelas. Si anak meminta laptop ke bapaknya untuk bekalnya menjalani pendidikan lanjut. Pikiran saya langsung teringat dengan perdebatan panjang beberapa tahun lalu, tentang pelaksanaan IT di sekolah-sekolah. Tentu saat ini sudah semakin besar tuntutan akses ke teknologi ini.

Si bapak ini pekerjaan utamanya adalah pemulung. Hampir setiap hari dia berkeliling mencari sampah plastik untuk dikumpulkan ke pengepul. Berapa penghasilannya tiap hari, aku tak bertanya. Saya bertemu dengan beliau karena rumah tempat saya nongkrong ini mempekerjakan beliau untuk membantu bersih-bersih di hari-hari tertentu. Dan juga untuk beliau menginap, kalau tidak salah. Karena beliau rumahnya di Magelang, bukan di Jogja. Ngiras pantes ikut jaga rumah, begitu kalau ndak salah kata yang empunya bangunan, teman saya.

Tidak bermaksud mengecewakan beliau, sayapun mulai browsing-browsing ke toko-toko komputer online. Saya buka beberapa tab browser sekaligus, sambil mengira-ira harga berapakah yang dimaksud oleh si bapak ketika beliau sempat bilang “yang murah saja”. Setelah sekian website terbuka, terpampanglah gambar-gambar laptop beserta harganya, aku pilih urutan dari yang harga terendah, dengan harapan beliau bisa menemukan yang dicari.

Setelah kurasa cukup, aku tunjukkan ke beliau laptop-laptop yang berhasil kupindai tadi. Paling murah 3 juta. Setelah aku bilang begini, tampak senyum tersirat di wajah si bapak. “laptop itu bisa buat macam-macam ya mas, saya ndak ngerti kayak gitu kayak gitu, ternyata bisa buat mencari tahu begini-begini juga. Kalau laptop mas ini pasti di atas lima juta ya”. Sayapun tersenyum.

“Yang di bawah satu juta nggak ada ya mas?”

Saya terdiam.

“Ya sudah mas, terimakasih banyak. Monggo lanjut kerja lagi, saya tak mbersihin halaman”.

 

Tiba-tiba saya kehilangan semangat koding. Laptop saya tutup. Saya ambil sebatang rokok, dan melamun.

vale, demi apapun

el rony, mengharap udara menjadi seribu kali lebih berat setelah ditimpa asap rokok, agar bisa menghela dengan kuat.

Belajar dari Pasemon Sunan Kalijogo

Beberapa waktu lalu, jelang tengah malam, saya menuliskan status di facebook saya. Ceritanya, saya sedang termangu-mangu waktu itu. Semenjak menenggelamkan diri ke kodingan, saya agak lama tidak mengunjungi sosial media baik fb, twitter apalagi googleplus. Dan ketika saya iseng menengok timeline facebook, betapa alangkah riuhnya. Lantas saya jadi teringat saudara beliau, Sunan Kalijogo.

Dari kecil, dari semenjak saya mulai bisa mandiri belajar hal-hal seputar agama dan keberagamaan, Sunan Kalijogo sudah menjadi satu tokoh yang terpatri dalam di diri saya. Awalnya sangat bisa jadi karena kisah kesaktian beliau, yang bisa mengimbangi kesaktian Syekh Siti Jenar: menembus bumi, mengeluarkan air dari batu, dan seterusnya.

Seiring pertambahan usia dan sedikit bertambah pengetahuan saya tentang ilmu-ilmu alam, segala kisah kesaktian tokoh apapun tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa.  Namun Sunan Kalijogo masih tetap mendapatkan ruang di hati saya. Bahkan ketika saya SMA dan mengenal satu kitab “Waliyullah wa Karomuhu” –saya lupa karangan siapa– yang mengangkat tentang mereka-mereka yang layak disebut wali/aulia (settingnya di arab, maka tokoh-tokoh yang ditulis juga tokoh-tokoh arab) beserta karomah (bahasa anak kecilnya sih kesaktian)nya, saya masih melihat ada sesuatu yang berbeda di Sunan Kalijogo, yang kemudian saat ini saya melihatnya sebagai ciri menonjol beliau sehingga beliau layak menyandang gelar wali.

Maka kali ini saya ingin menuliskan hal terkait status singkat di facebook saya tersebut. Keistimewaan yang dicontohkan oleh Sunan Kalijogo.

Anda semua tentu tahu bahwa Masjid Demak dibangun oleh para Wali. Seluruh wali menyumbangkan tenaga dan pikirannya waktu itu, juga mengirimkan jati terbaik untuk tiangnya. Beberapa kisah menyebutkan bahwa Sunan Kalijogo juga mendapat tugas untuk mengirimkan tiang penyangga masjid, namun beliau tidak melakukan apa yang dilakukan oleh wali yang lain, dan inilah yang saya tuliskan sebagai status di fb saya itu.

Masjid bagi kaum muslim, adalah rumah Allah, tempat suci dimana kita merasa paling dekat dengan Allah. Maka hal-hal di dalam masjid atau di seputar masjid, biasanya dipilih yang paling istimewa. Hal ini sepertinya wajar bagi manusia seperti kita, dari sejak jaman menyembah matahari, tempat peribadatan selalu mendapatkan bahan terbaik untuk menyusunnya.

Para wali mengirimkan jati mas, kayu jati yang sudah tua (matang) yang sangat lurus. Kayu jati mas adalah kayu jati terbaik. Jangankan untuk masjid, untuk rumah kita sendiripun pasti kita pilih tiang dari kayu jati yang lurus/baik. Kayu jati yang bengkok tidak mendapatkan tempat.

Namun selurusnya kayu jati tersebut, pasti ada bagian yang tidak rata, yang kemudian perlu diratakan. Akibatnya banyak sisa tatalan yang harus dibuang dari kayu yang diniatkan menjadi tiang masjid tersebut.

Di sini saya melihat halusnya perasaan Sunan Kalijogo. Bayangkan jika Anda adalah sang kayu jati tersebut. Anda terpilih menjadi tokoh utama untuk menyangga rumahnya Tuhan. Tentu Anda gembira bukan? Tetapi ternyata Anda adalah bagian dari kayu jati yang tidak rata, yang kemudian harus dipangkas, sehingga Anda gagal menjadi tiang masjid. Kecewa bukan?

Dan inilah peran seorang Sunan Kalijogo, beliau menata Anda-anda yang terbuang, yang dianggap tidak layak menjadi tiang masjid, yang dipandang memperjelek fungsi. Sunan Kalijogo meraup yang terbuang ini, menata pelan-pelan, seakan berdialog dengan tiap tatalan, dimana kiranya mereka ingin ditempatkan sehingga mereka bisa menyatu menjadi tiang yang rapih.

Dan berkat Sunan Kalijogolah, tatalan-tatalan, umat yang brocel-brocel seperti saya, mendapatkan kesempatan yang sama dengan kayu-kayu yang lurus dan mulus.

Dari beliau mari kita belajar, begitulah sebaiknya kita berseru. Ajaklah dengan jalan yang baik, karena semua berhak memperoleh kesempatan mengabdi kepada Tuhannya.

Doaku untukmu, kanjeng Sunan. Sungguh njenengan telah memberi contoh persis apa yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi terhadap sebuah pohon kurma tua. Silakan cari info mengenai ini, dan insyaAllah Anda setuju dengan saya.

vale, demi kebaikan

el rony, belajar dan belajar