Social Media di Kehidupan Nyata itu: Menyapa

Sore tadi, saya berkesempatan melewati satu ruas jalan di utara Perempatan Tajem, Jogja. Refleks kepala saya menoleh ke kiri, menyapu penjaja makanan yang membuka lapak di sepanjang jalan. Sekelebatan saya lihat ibu penjual gorengan itu ada di sana.

Di sepanjang jalan Tajem sebenarnya ada banyak sekali penjual gorengan, tetapi menurut lidah saya yang sudah sampai pada tahapan manja ini, gorengan ibu itu adalah yang paling nikmat. Tolok ukur saya sederhana saja, ada di ubi goreng tepungnya.

Ubi, dalam hal ini ubi jalar, adalah jenis makanan yang termasuk rakus memakan unsur-unsur tanah. Maka ketika pola bertanam kita sudah sedemikian amburadul, sehingga apa-apa harus pakai pupuk, ubi jalar menjadi satu benchmark bagi saya untuk menentukan apakah bahan pokok yang dipakai kebanyakan dipacu pupuk ataukah tidak. Gampang saja, kalau ubinya pahit, maka bisa dipastikan tanahnya sudah tercemar atau terlalu banyak dihajar dengan unsur-unsur kimia buatan. Biasanya hal ini baru terrasa setelah sang ubi yang sudah diubah menjadi ubi goreng tepung, mengendon selama satu malam. O iya, saya sering beli gorengan agak banyak, sehingga bisa untuk ngemil di pagi harinya setelah semalaman menemani lemburan.

Maknyus!

Nah, gorengan ibu ini, mak nyus. Enak ketika masih mangah-mangah, maupun ketika sudah adem. Bahkan khususon illa rukhi –halah– ubi goreng tepungnya, joss gandhos! Enak bahkan hingga di hari berikutnya. Tidak berair, menjadi bau dan yang penting tidak lantas menjadi pahit. Maka semenjak mengenal pertama kali si ibu itu, eh maksudnya gorengan si ibu itu, saya sudah memastikan akan menjadi pelanggan tetapnya.

Hanya saja, sudah dua minggu ini si ibu tidak jualan. Saya pikir si ibu yang jilbaban itu juga sedang merayakan liburan natal dan tahun baru, ya siapa tahu beliaunya termasuk gaul gitu, tetapi kok ya sudah lewat seminggu masih juga belum buka. Saya jadi khawatir. Khawatir si ibu ndak jualan lagi maksudnya, seperti mas Roti Bakar langganan yang sekarang entah kemana. Roti Bakar langganan itu juga sama, rotinya ndak pahit, enak, tapi menghilang setelahnya dan berganti dengan penjual baru, yang rasanya jauh banget berbeda. Ini sungguh membuat sedih saya, sebagai pandemen cemilan teman lemburan.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, maka malam tadi saya ngeslah sendal dan bergegas menuju ibu gorengan. Masih sore itungannya sebenarnya, karena baru sekitaran jam 19.30, tetapi gorengan sudah ludes, hanya bersisa tiga plastik kecil. Saya tanya apakah ubinya masih? Dan sudah menjadi kehendak Allah SWT, masih tersisa enam butir ubi goreng. Mantap sudah!

Lantas sambil mengais-ngais *halah karang kene ki pemulung* sisa gorengan, saya iseng bertanya kepada si ibu, kenapa lama tidak buka. Dan seperti sudah menunggu ditanya, langsung saja 14 lembar cerita dengan 2 spasi dan font 12pt keluar dari si Ibu. Ternyata mertua si ibu sakit, tumor paru-paru.

Beliau bercerita tentang bagaimana si ibu sudah 25 tahun ikut beliau, bagaimana kesakitan si ibu, bagaimana beliau pontang-panting mencari lab, dan sebagainya. Hingga di lembar ke 12 saya menyela sedikit, “..tapi ibu sudah ikut bpjs kan ya?” dan lantas 2 lembar berikutnya berisi bagaimana bersyukurnya beliau karena sudah ikut jamkesmas.

Saya teringat sekali, bapak RT tempat saya kebetulan bersemayam saat ini *duh bahasaku ki piye to* juga ndilalah mendapat anugrah tumor di rahang beliau. Kemoterapi yang beliau jalani, kurang lebih sama dengan yang dialami mertua ibu gorengan tadi, berkali-kali dan biayanya mahal sekali. Dan dari pak RT inilah saya pertama kali bertemu dengan agen marketing BPJS, yaitu beliau sendiri karena beliau sangat terbantu ketika memakainya. Beliau bukan orang BPJS, bukan pula agen dalam artian dibayar oleh BPJS untuk memasarkan produknya, beliau hanya pengguna yang terpuaskan. Tagihan yang mustinya berpuluh juta, jadi tinggal puluhan ribu rupiah saja dibayarkan oleh beliau. Itulah mengapa ketika si ibu gorengan bilang sudah ikut, seketika saya langsung…

Lega..

Kenapa lega? Karena si ibu gorengan menjalani profesinya itu untuk membiayai sekolah anak-anaknya, bukan untuk menghadapi biaya berpuluh-puluh juta. Karena saya masihlah makhluk lemah tak berdaya, yang hanya mampu menjadi pelanggan beliau, tidak mampu memberi lapangan kerja yang memadai untuk ribuan orang bahkan mungkin jutaan yang kebetulan bernasib seperti si ibu, ataupun pak RT, ataupun tetangga saya yang lain yang hanya buruh tani tak berlahan.

Pada saat seperti itu, saya sungguh bersyukur ketika negara hadir. Sehingga saya yang tampak angkuh namun sebenarnya rapuh ini, bisa menyandarkan sedikit hal-hal menyesakkan seperti di atas, pada institusi yang memang sudah selayaknya menjaga hak-hak warganya.

Sebagai bagian kecil –saya adalah yang terlemah– dari mereka yang bertarung menghadapi tembok tinggi kekuasaan, kali ini saya benar-benar hanya bisa membagi senyuman lega kepada si ibu gorengan. Meskipun kelegaan yang sejati masih jauh prosesnya, namun paling tidak si ibu tidak perlu buru-buru putus asa. Dan saya bisa berharap bertemu lagi dengan gorengan beliau di hari-hari berikutnya.

vale, demi kesehatan

el rony, menikmati 6 potong ubi, 1 buah pisang gorang, 2 butir pisang aroma, 1 helai tempe gembus.

nb. saya hanya bisa membantu berdoa ya bu

nb.nb. inilah sosial media, menurut saya.