Pertemuan dengan Para Pendekar

Entah kapan terakhir saya berkesempatan terlibat satu forum berbagi ide dengan Sang Pendekar dari Timur. Roem Topatimasang nama beliau, adalah seorang pegiat sosial yang dari jaman baheula peduli dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat Indonesia di belahan timur. Di usia beliau yang sudah tidak bisa dibilang muda, nyatalah bahwa kepedulian itu tidak pernah padam.

Hari Sabtu, 1 Februari 2014 kemarin, saya berkesempatan sekali lagi satu forum dengan beliau. Berdiskusi bersama dengan tokoh-tokoh muda pejuang bangsa. Ada Akhmad Nasir pegiat radio komunitas sekaligus tokoh di balik Jalin Merapi, juga ada Savicali, tokoh muda di balik NU Online (dan banyak yang lain tentunya), juga ada Heru penggagas gerakan lingkungan hidup, Mas Catur dari Internet Sehat juga hadir, serta tentu saja mbak Ambar, istri mas Nasir yang juga aktif di dunia gerakan sosial Indonesia. Di antara orang-orang hebat ini, banyak hal yang bisa saya pelajari.

Sorak

Suara Orang Kampung, demikian kegiatan di belahan Indonesia Timur yang digagas Pak Roem beserta INSIST, lembaga yang beliau dirikan bersama almarhum Mansour Fakih. Ide suara orang kampung ini, menurut beliau, adalah kenyataan dibutuhkannya sarana komunikasi antar penduduk di wilayah-wilayah yang terhalang kontur geografis. Keberadaan handphone di desa-desa di sana, memberi inspirasi bagi beliau untuk menggagas sebuah sarana komunikasi melalui SMS. SMS dipilih karena ini adalah sarana paling murah dan paling mudah. Dengan kualitas sinyal yang jauh di bawah kualitas paling jelek di kepulauan Jawa, maka SMS juga menjadi sarana paling tepat untuk itu.

Maka lahirlah Sorak ini. Hadir selain dalam bentuk website, juga dalam newsletter bulanan. Beliau bercerita bahwa Sorak telah berhasil menjadi bagian dari masyarakat di Papua. Penentu kebijakan di sana, memakai Sorak sebagai landasan ketika membahas langkah-langkah untuk menyejahterakan penduduk di sana.

Rangkuman tiga bulanan dari Sorak ini juga dipakai oleh berbagai konstituen, termasuk lembaga keuskupan.

Media Komunitas Angkringan

Di belahan lain, di Yogyakarta selatan, mas Nasir dan mbak Ambar juga membagikan pengalaman mereka mengelola Media Komunitas Angkringan. Media ini kurang lebih mirip dengan Sorak, dimana SMS menjadi sarana utamanya. Beruntung sekali saya terlibat dalam pengembangan Media Komunitas ini, sehingga saya juga bisa melihat perkembangan penggunaannya.

Salah satu kisah sukses adalah ketika ada jalanan rusak di wilayah Timbulharjo. Tidak berapa lama berselang, setelah banyak penduduk (anggota MK-160 berjumlah kurang lebih 12.000 orang) melaporkan, PEMDA-pun segera bertindak menambal jalan yang berlobang.

Permasalahan

Pertemuan ini kemudian mengidentifikasi ada berbagai permasalahan di negeri ini, yang salah satunya membutuhkan dukungan teknologi untuk penanganannya. Atau lebih tepatnya, bagaimana mengakali teknologi agar bisa dimanfaatkan dengan tepat.

Ada sekitar 2.000.000 (dua juta) petani cengkeh di Indonesia yang kesulitan mengakses informasi harga, ada 40.000 (empat puluh ribu) nelayan di Jawa Timur yang membutuhkan informasi kelautan selain juga masalah harga, lalu ada juga petani karet dan lain-lain.

Pak Roem memetakan permasalahan yang dihadapi berdasar pengalaman beliau, juga berdasar pengalaman mas Nasir, ada empat komponen:

  • Software. Dibutuhkan perangkat lunak yang mudah dioperasionalkan, murah dan mudah direplikasi, serta memiliki fitur-fitur yang lengkap.
  • Orang. Dalam hal ini maksudnya adalah administrator, karena bagaimanapun juga dibutuhkan admin untuk mengurus dan mengolah hal-hal yang tidak bisa diselesaikan oleh software
  • Pulsa. Karena peraturan USO Kominfo, membuat kelimpungan mereka yang bergerak di lapangan tanpa bantuan dana darimanapun ini.
  • Basis. Tentunya basis yang solid dan bersetia mendukung ‘gerakan’ ini sangat dibutuhkan. Pengelolaan basis juga dibutuhkan di sini.

Solusinya?

Saya, jujur saja, sebagai kodinger langsung memanas tubuhnya. Rasanya pingin segera koding untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan itu. Juga untuk kebutuhan Sorak sendiri misalnya, yang saat ini masih sangat manual untuk mengolah datanya. Maka permasalahan nomer satu, saya rasa bukan permasalahan. Apalagi kalau ada di antara pembaca yang bersedia bersama-sama saya, wuih, beris thok!.

Mengenai masalah orang, saya tidak punya ide. Tetapi mas Catur, mas Nasir dan mas Savicali bercerita bahwa ada kemungkinan untuk bekerja sama dengan telco sehingga masalah pulsa dan orang bisa diakali. Syukur kiranya ada pembaca di sini yang bisa mengusulkan solusi untuk hal ini. Bayangkan saja, untuk basis yang dikelola mas Nasir saja (12.000 orang), maka tiap kali broadcast message, mas Nasir dan teman-temannya harus menyediakan 12000 x 350 (harga satu kali sms). Hal ini tentu berat bagi mereka, apalagi ini bukan mereka-mereka yang digelontori uang APBN seperti tikus-tikus senayan.

Sementara mengenai permasalahan basis, mas Heru dan Mas Savic tidak melihat sebagai masalah, sebagaimana Pak Roem juga tidak melihatnya sebagai masalah. Masalah ini akan menjadi masalah, bila ada yang ingin mereplikasi model ini di tempat lain tanpa memperhatikan masalah kebutuhan basis.

Maka, demikianlah, saya sudah panas. Kapan kita koding?

vale, demi perbaikan

el rony, ngeslah sublime