Serba-serbi Apple Krowak

Postingan ini ya postingan selo saja, ndak ada yang istimewa. Sudah lama ndak ngeblog, jadinya ya seadanya yang pingin diblogkan saja. Postingan ini sebenarnya dipicu —halah— oleh risinya saya karena file .DS_Store yang selalu muncul di desktop. Sebagai orang visualhalah maneh— ini kan sangat mengganggu. Maka sayapun mencari cara untuk menanggulanginya, maka –lagi-lagi maka– inilah olah kanuragan selanjutnya —halahraimundes–.

Baiklah, semuanya berawal dari kebutuhan saya untuk memunculkan semua hidden files di Finder Mac. Kebetulan saya sedang senang bermain-main dengan bahasa kaum slytherin, Python. Nah, saya merasa nyaman bekerja di bawah virtual environment (virtualenvs). Namun ada kalanya saya perlu juga mengedit file core module yang di folder virtualenvs ini, yang mana sebenarnya bisa dengan mudah diakses dengan terminal, tapi karena saya ini bukan preman kayaknya kok perlu juga sekali-sekali ndak nongkrong di terminal. Nah karena virtualenvs ini foldernya hidden, agar muncul di Finder saya jalankan perintah ini:

defaults write com.apple.finder AppleShowAllFiles TRUE

Maka muncullah semua file hidden di Finder, sehingga saya bisa klik kanan dan jalankan sublime text untuk mengedit file-file hidden maupun di dalam folder hidden itu. Tapi ya itu tadi, lantas muncul file .DS_Store di desktop. Mengganggu banget!

Apa sih file .DS_Store ini? Sebenarnya ini file semacam Thumbs.db di Windows. Tugasnya cuma menyimpan settingan finder saja. Jadi kalau kita pingin misalnya view as thumbnails di folder A, view as list di folder B, dan seterusnya, informasi ini disimpan di file .DS_Store ini. Penting? ya penting buat kamu yang pingin nyimpen informasi itu, sehingga ke depan settingan per foldermu tidak berubah. Tapi bagi saya, lebih penting kalau desktop bersih dari file ini. hihi. Bagaimana caranya? Dua langkah yang harus dijalankan, yang pertama adalah mendisable pembuatan .DS_Store, dengan script ini:

defaults write com.apple.desktopservices DSDontWriteNetworkStores true

dan yang kedua adalah mendelete semua file .DS_Store di dalam komputer apel krowak kamu. Atau ya sebenarnya bisa saja delete di folder yang ingin kamu delete sih, tapi karena ini saya ingin sharing apa yang saya lakukan, jadi saya lakukan ini:

sudo find / -name ".DS_Store" -depth -exec rm {} \;

Nah, sekarang bersih sudah.

Kalau nanti kamu pingin meng-hide lagi file-file hidden dari Finder, ya tinggal mengubah script untuk show file hidden tadi dari True menjadi False. Kalau ingin mengaktifkan .DS_Store, ya tinggal mengubah DSDontWriteNetworkStores dari true menjadi false juga.

Begitu ya, vale ini, demi keselonan tentu saja.

HAKABEPE

Istilah ini pertama kali kukenal dari @bayupamura . Istilah yang muncul ketika membahas atau tepatnya ngrasani teman-teman yang kebetulan memiliki bapak yang terkenal.Ya, istilah itu awalnya kurang lebih kependekan dari Himpunan Anak Kabotan Jeneng Bapak. Tetapi dalam tulisan kali ini, aku menggeser kepanjangannya menjadi Himpunan Anak Kabotan Pengarep-arep.

Anak adalah Harapan

Sebagaimana nama anak disebut-sebut sebagai doa orang tua, sehingga mencari nama anak biasanya melalui proses yang panjang, semua proses yang dilalui dalam hubungan orang tua-anak adalah proses menyantolkan harapan, bahkan hingga pilihan orang tua dalam menyekolahkan anak. Semua itu pada intinya mengarah kepada harapan-harapan yang coba dibangun oleh orang tua.

Kalau mengingat bagaimana orang tua saya menjalani proses itu, dari mulai memberi nama hingga cara mendidik, maka harapan-harapan itu lekat di sana. Dan saya, mungkin juga semua anak demikian, rasanya ingin membalas budi kebaikan orang tua yang sudah merawat kita dengan mengabulkan harapan-harapan tadi.

Harapan ini kemudian melahirkan kebanggaan pada sisi orang tua, ketika kemudian tercapai dan mungkin diukur sebagai prestasi oleh hampir semua kalangan. Taruh kata orang tua saya menginginkan saya menjadi anak pintar, makanya tiap jam 5 sore saya sudah “dijemput” dari tempat bermain. Selama perjalanan pulang –yang biasanya telinga saya menempel di jari bapak saya– kata-kata yang diulang adalah mengingatkan soal pentingnya belajar dan mengaji. Maka ketika kebetulan — ya memang kebetulan kok — saya ranking 3 besar terus menerus, orang tua saya mengungkapkan kebanggaannya di depan teman-temannya (biasanya saya mendengar hal ini kalau ada teman orang tua saya yang bertamu).

Hal yang melintas di kepala saya waktu itu, senang. Tetapi hanya bertahan hingga kelas 3 SD. Saya mulai jengah, dan dengan berdalih pingin melihat bagaimana rasanya berada di ranking bawah, saya pun terjun ke ranking 5. Perasaan jengah ini berlanjut sehingga saya memilih sendiri SMP dan SMA serta tempat kuliah. Tak peduli bahwa NEM saya berada di ranking bawah. Ya, sesekali unjuk kebolehan sih apa boleh bikin, namanya anak muda. Tapi nangkring tiga besar sekali dua kali saja sudah cukup, biar orang tua tidak terlalu sedih. Ini yang saya rasakan dan lakukan waktu itu.

Yang menggaris bawahi judul tulisan kali ini justru perasaan jengah tadi, yang nampaknya cukup mewarnai perjalanan hidup. Tentunya tiap orang berbeda-beda, tapi ketika ada istilah kabotan jeneng bapak, aku kok cukup yakin, ada juga keadaan yang boleh disebut kabotan pengharapan.

Agar tidak kabotan

Bagi saya, sependek pengalaman saya juga, yang namanya kabotan itu beban. Dan memelihara beban di pundak anak itu menurut saya kok ndak oke. Ini terkait pula dengan pilihan tidak memiliki hutang, termasuk kartu kredit, tetapi itu hal lain sih.

Maka, agar tidak kabotan, sebisa mungkin saya berusaha tidak menonjol-nonjolkan capaian-capaian anak. Hal yang sulit dikoordinasikan dengan kakek neneknya, karena nampaknya ini sudah default ada di tiap manusia. Tetapi paling tidak, saya memulai dari keluarga saya saja. Memberi penghargaan tentu perlu, supaya anak jadi bersemangat, tetapi tidak perlu membangga-banggakan di depan khalayak.

Yang tampil di khalayak kemudian hanyalah hal-hal yang terkait dengan capaian bersama. Bukan capaian individu. Sehingga harapan saya (lagi-lagi harapan), saya tidak membebani anak saya dengan mimpi-mimpi saya sebagai orang tua.

Namun tentu saja ini juga belum terbukti. Sebagai orang tua, saya baru menjalani 6 tahun saja. Dan baik sebagai orang tua maupun sebagai teman bermain anak, sepertinya juga belum memberikan bukti apapun atas pilihan ini.

Maka dari itu, saya share pikiran ini di sini, siapa tahu ada tanggapan dari pembaca. Kalau ada. Kalau diampiri orang juga. Ya, lagi-lagi apa boleh bikin, ini juga bukan terminal tempat orang nunggu bis.

vale, demi kemerdekaan

el rony, berusaha mengurangi beban