Aplikasi Mobile Khusus Curhat Yang Mahal Itu..

ba2b77bdb62bf60ca15c484dc61533d3_viewDari tulisan Mas Jun ini, aku kok jadi teringat-ingat lagi, soal tulisan bak truk. Sudah lama tulisan bak truk ini menjadi bahan perbincangan, terutama karena memang tulisan di sana memunculkan kata-kata ajaib yang catchy di telinga. Lihat saja kata “Kutunggu Jandamu” dan “Lali Rupane, Eling Rasane“.

Media Curhat

Iya, ini adalah aplikasi mobile paling mahal. Bayangkan, untuk bisa curhat di bak truk, kamu harus menyisihkan uang ratusan juta, harus punya truk dulu. Setelah punya truk, bisa deh kamu akhirnya menuliskan curhatanmu, dan curhatanmu itu akan melanglang menjajah negeri, beredar dari satu kota ke kota lain.

Betapa repotnya ya curhat jaman dulu? Tetapi karena effort yang tidak sedikit itu, jadilah media curhat itu sebagai ajang adu kreativitas pula. Dari mulai pilihan kata-kata hingga dari segi artistik. Aku membayangkan proses pemilihan font-pun butuh beberapa hari.

Beda dengan jaman sekarang. Semua orang bisa dengan mudah bikin akun sosial media, lalu curhat lah di sana. Murah, makanya curhatannyapun murahan. Apa boleh bikin.

Motivasi

Ini selalu yang dipertanyakan orang-orang, termasuk Mas Jun tadi, tentang mengapa curhatan itu muncul di bak-bak truk. Aku sendiri justru memilih berpikir lain, menurutku seperti yang sudah kutuliskan di atas, yang terjadi justru sebaliknya.

Para juragan pemilik truk itu memilih memiliki truk, agar mereka punya papan curhat berjalan. Bahwa kemudian itu jadi papan curhat supir (yang biasanya anak buahnya) tak jadi soal. Yang penting dia berhasil memiliki papan curhat mobile.

Dengan memiliki papan curhat mobile, dia sudah memberi media penyaluran, baik bagi unek-uneknya sendiri yang selalu jadi “buronan mertua”, maupun orang lain, minimal sopirnya. Dan efek inipun sifatnya viral, menyebar.

Kegelisahan supir yang “pergi karena tugas, pulang karena beras”, dituangkan dalam media papan curhat mobile, dengan desain dan font yang menakjubkan, telah pula menyumbangkan senyum simpul hingga bahan obrolan, bahkan bahan tulisan seperti postingan ini.

Jadi, motivasi pemilik papan curhat berjalan itu sudah jelas, agar menjadi rahmatan lil ‘alamin. Maturnuwun, juragan truk.

vale, demi apapun

el rony, nabung nggo tumbas papan curhat mobile.

nb. foto diambil dari sini http://www.mobypicture.com/user/Andi_MK/view/9791137

Bertualang

Menjelajahi daerah asing, kalau diingat-ingat, adalah satu hal yang memiliki daya tarik besar dalam hidupku. Hasrat untuk mengembara, mungkin dipicu oleh cerita-cerita silat yang kubaca dari kecil. Ya, mungkin karena cerita silat itu, karena aku ingat, aku dulu juga mengumpulkan potongan-potongan kertas, aku gambari dengan postur-postur ninja dengan berbagai pose lalu kuberi judul “Kitab Rahasia”. Itu waktu SD.

Ke Sekaten!

SMP adalah masa dimana jangkauan kaki tidak lagi cukup dipuaskan dengan jarak sepuluh kilometer. Buncahan rasa ketika menelusuri kampung menuju peternakan sapi poang (demikian kami menyebut sapi perah), berjarak sekitar 10 kilometer dari kampungku, membekas dalam sekali. Hasrat ini segera saja menguat ketika satu temanku SMP, Sudaryanto namanya, mengajakku bertualang bersama, menuju sekaten.

Kampungku berjarak kurang lebih 26 kilometer dari pusat keramaian Sekaten. Maka berjalan kaki jelas tidak masuk hitungan, pun mengendarai sepeda onthel. Jadilah kami berdua memilih naik angkutan umum, biskota. Postingan ini berkisah tentang masa-masa itu, jika berkenan silakan dibaca.

Persiapan.

Aku yang masih kecil waktu itu –ketika SMP postur tubuhku terhitung pendek (dan kurus) dibanding teman-teman sebayaku. Temanku tak kalah kecilnya. Namun kami bertekad untuk berangkat berdua saja. Waktu pamit ke kedua orangtuaku, aku ingat, ibukulah yang paling berkeberatan. Sementara ayahku justru mendorong.

Celana panjang yang kupakai, dirobek kecil di bagian sabuk, di bagian dalam, oleh ayahku. Di situ, beliau menyelipkan beberapa lembar uang –yang aku tidak tahu berapa persis jumlahnya hingga sekarang. Aku sendiri tidak meminta, karena aku sudah cukup yakin dengan uang tabungan yang aku punya.

Dulu, waktu SD, aku berjualan apa saja. Layang-layang, mata pancing (yang kubuat pakai kawat, yang akhirnya menuai protes karena ternyata tidak bisa tenggelam), juga jual beli burung merpati, demi memperbanyak tabungan. Maka ketika SMP dan berniat bertualang, tabunganku cukup sekali kalau sekedar untuk membayar ongkos transportasi dan uang makan alakadarnya.

Berangkat.

Aku lupa, waktu itu kami berangkat dari rumah Daryanto atau dari rumahku. Yang jelas, aku cuma ingat kami berangkat naik bis. Sore kami berangkat, sehingga maghrib kami baru sampai di lokasi Sekaten. Masjid adalah tujuan pertama.

Selesai sholat maghrib, kamipun mulai menjelajahi Sekaten. Menonton orang naik komidi putar, melihat-lihat buku, melihat-lihat permainan, dan terakhir menonton pertunjukan penjual akik. Demonstrasi yang menakjubkan bagi kami waktu itu, dimana ada orang yang diguyur air panas (terlihat mendidih — meskipun kemudian aku yakin itu tipuan), hingga orang disayat pakai belati tidak apa-apa.

Pertunjukan ditutup dengan si penjual akik mendemonstrasikan kekuatan akiknya. Aku yang naif waktu itu, membeli satu buah batu akik juga. Batu akik dibungkus dengan plastik, di dalamnya ada satu lembar kertas bermantra. Konyolnya, batu akik yang kubeli tidak ada batu-nya, jadi akupun kembali ke penjual dan menukar. Sungguh satu hal yang konyol untuk sesuatu yang disebut batu sakti. Sekian hari kemudian, batu akik dan kertas mantra itu aku kencingi 😀

Mengantuk

Hari sudah semakin malam. Kami berdua tidak pernah berpikir mengenai penginapan, mana ngerti anak SMP jaman itu tentang penginapan? Yang kami pikirkan cuma menggeletak di Masjid. Namun, apadaya masjid ditutup gerbangnya. Kami bingung, tak mungkin kami tidur di rerumputan.

Ketika kami sedang kebingungan, seorang bapak yang baik hati menawari kami tidur di bangku komidi putar. Tak kuingat apakah aku cukup nyaman tidurnya waktu itu. Yang kuingat aku cukup gelisah menjaga “kekayaanku”. Uang titipan ayahku tidak boleh berkurang barang sepeserpun, ini sudah tekadku.

Temanku kulihat tenang, tidur di kursi seberang. Aku yang juga sudah sangat capek, akhirnya tertidur juga. Lalu kami terbangun oleh hiruk pikuk pagi.

Pulang

Tidak sempat kami sholat subuh, temanku sudah mengajak untuk menyegat bis di Ngabean. Akhirnya aku sholat di dalam bis, semacam musafir saja.

Pengalaman ini masih terpatri hingga kini, entah temanku masih ingat atau tidak. Dan pengalaman ini, baru saja aku ceritakan kepada anakku, menjelang dia tidur. Agar nanti dia juga mengembara, melihat dunia lebih luas.

vale, demi pengembaraan dan pencarian

el rony, ke maluku adalah versi dewasaku mengunjungi sekaten.

nb: kalian punya cerita petualangan?

 jaman semono, sangu 3rb, iso tekan negoro ( daryanto, mengenang masa itu)

Dunia yang Mengkerut

Tiba-tiba semua menjadi terasa sesak. Segala berhimpitan. Jarak antara satu masalah dengan masalah yang lain, mendadak jadi hitungan detik saja, tidak lagi sepeminuman teh. Kegelisahan yang lebih sering dipicu oleh ketidakberdayaan ketika menghadapi satu kendala.

Lalu melintas-lintas, bagaimana hal-hal yang sudah dilakukan, upaya-upaya yang sudah diambil, luruh satu-satu. Semacam anak panah yang sudah mencapai tujuan, tetapi luruh tanpa tertancap. Pada saat seperti ini, seolah sia-sia saja semuanya.

Lalu melintas-lintas pula, orang yang sibuk menyombongkan diri, menginjak-injak segala upaya yang sudah dibangun. Orang yang menyelamatkan diri dan keluarganya dari jurang masalah saja gagal, tapi tanpa perasaan bersalah, tanpa rikuh pakewuh, menggerogoti apa yang diperjuangkan dengan keringat, dan koar-koar membangga-banggakan seolah-olah dia berhasil dengan pencapaian.

Saat seperti ini, jiwa terkuatpun merapuh. Saat seperti ini, lari seakan menjadi pilihan paling ideal. Saat seperti ini, kerelaan yang tak akan pernah dihargai oleh siapapun, tak akan dipandang oleh siapapun, tak akan dicatat oleh siapapun, harus diambil.

Maka, ambil sebuah alat musik, mainkan nada-nada paling menyayat, tenggelamlah dalam umpatan yang paling suram, tumpahkan pada malam. Agar larut dan menguap bersama embun-embun. Lalu lupakan.

Karena, semarah apapun, orang yang tak punya perasaan dan hanya diliputi hasrat sombong dan berbangga-bangga, tak akan sedikitpun merasa. Semarah apapun, muka tembok tak akan luntur dan luruh dalam kepahaman. Sia-sia.

Saat ini, pelan-pelan, aku mengajak hatiku sendiri, keluar dari himpitan dunia yang mengkerut. Semoga bisa, semoga.

el rony, larut bersama malam

vale, demi segala keterbalikan

Sugeng Rawuh

Selamat datang, demikian singkatnya makna lugas kata di atas. Namun sependek yang saya tahu, makna ini menjadi luas dalam khasanah manusia Jawa. Sugeng Rawuh adalah satu ungkapan yang ngemu doa atau harapan agar yang diberi ucapan juga dalam keadaan serba selamat serta mengungkapkan juga kebahagiaan karena didatangi. Tentunya ungkapan ini dalam Bahasa Indonesiapun –selamat datang– mempunyai makna yang kurang lebih sama, karena hanya mereka yang lega hati saja yang kemudian bisa secara terbuka mengucapkannya. Namun ucapan selamat datang dalam Bahasa Indonesia mungkin tidak memiliki “rasa bahasa” yang lebih dalam dibanding bahasa daerah –dalam tulisan ini maka Bahasa Jawa– karena kata itu kemudian jatuh ke wilayah basa-basi saja.

Basa-basi?

Ini tuduhan saya. Dalam kata sugeng rawuh, ada tuntutan keikhlasan. Keikhlasan atas tempat, waktu dan kesempatan. Adalah bertolak belakang bila kita mengucap selamat datang tetapi lantas menutup pintu. “Wah mas, sugeng rawuh” lalu jegleg pintu ditutup.

Itu yang sedang marak terjadi sekarang, menurut sependek pengamatan saya sih. Selamat datang wisatawan, tetapi terjadi diskriminasi antara wisatawan lokal dengan import. Selamat datang bulan puasa, tetapi mengatasnamakan sang tamu (bulan puasa) untuk merepresi yang lain. Dan seterusnya dan sebagainya. Ini makanya saya bilang kata selamat datang sudah jadi hiasan bibir belaka.

Hal yang Berbeda

Dalam kata “sugeng rawuh”, sependek yang saya amati pula, masih ada tuntutan moral bagi orang Jawa (khususnya) untuk kemudian mengikhlaskan diri. Ketika kata itu terucap dari bibir kita (sekali lagi khususnya orang Jawa), maka kita tidak bisa serta merta berlaku kebalikannya.

Maka ucapan yang menjadi judul kali inipun ingin saya sampaikan dalam semangat yang berbeda pula. Saya mengharap agar yang mendapat ucapan tersebut menjadi betah, menjadi nyaman dan kemudian bisa ngobrol panjang tentang segala hal.

Jadi, sugeng rawuh mas Paksi Raras Alit, vokalis jazz yang ahli ilmu jawa, dengan blognya wawiwu.com. Saya bukan pemilik internet, saya bukan pemilik dunia blog, tetapi sebagai salah satu penghuni, saya sambut hangat kehadiran panjenengan 🙂

vale, demi persahabatan

el rony, ngracik teh.

 

Tujuan Menyalahkan

Sekali lagi postingan singkat, sekedar menanyakan kembali, apa sebenarnya yang menjadi tujuan orang-orang menyalah-nyalahkan? Bukankah hanya untuk meyakinkan bahwa pilihannya adalah yang paling benar?

Jikalah memang demikian, bukankah sepatutnya dia cukup bersyukur saja, dimana pahala surga menjadi miliknya?

vale, demi ketentraman

el rony, tak habis pikiran

Kenapa sih mas?

..kok seneng bener ngebuzz gak dibayar?

iya, saya ngebuzz cuma produk teman-teman saya. dibayar? hamatanya, nek temen saya jadi bisa makan kan saya jadi ndak terancam dihutangi! IQ? IQ?

el rony, kesurupan dalang edan

Setup Opengraph di Themes WordPress

Sebenarnya postingan semacam ini sudah banyak sekali beredar, dan tawaran solusi dari mulai berbentuk plugins sampai themes yang sudah dilengkapi dengan meta opengraph juga sudah berlimpah, hanya saja kebetulan themes yang saya pakai kok tidak support hal ini, jadilah saya meng-extend themesnya.

Opengraph ini dipakai terutama (yang paling kelihatan) untuk share post di facebook. Dengan memasang meta opengraph (ini istilah saya sendiri, silakan cari istilah yang lebih benar deh) di themes, maka kita bisa memasang thumbnail, mengatur excerpt dan lain-lain ketika postingan kita di share ke halaman facebook.

Nah, tidak perlu berpanjang-panjang, ada dua cara untuk memperbaiki themes yang tidak support opengraph ini (nampak ketika dishare di facebook, caption dan thumbnail tidak muncul). Satu, dengan memasang script/kode ini di functions.php atau bisa juga dipasang di header.php sebelum tag penutup head.

Untuk dipasang di functions.php

function insert_fb_in_head() {
    global $post;
    if ( !is_singular()) //jika bukan post atau page return kosong
        return;
    echo '<meta property="fb:admins" content="ID_AKUN_FB_ANDA"/>';
    echo '<meta property="og:title" content="' . get_the_title() . '"/>';
    echo '<meta property="og:type" content="article"/>';
    echo '<meta property="og:url" content="' . get_permalink() . '"/>';
    echo '<meta property="og:site_name" content="NAMA_SITUS_ANDA"/>';
    $args = array(
        'post_type'   => 'attachment',
        'numberposts' => -1,
        'post_status' => null,
        'post_parent' => $post->ID,
        'exclude'     => get_post_thumbnail_id()
    );

    $attachments = get_posts( $args );

    if ( !$attachments ) {
        $default_image="URL_IMAGE_DEFAULT_ANDA"; //isi dengan url image Anda lengkap dg http-nya
        echo '<meta property="og:image" content="' . $default_image . '"/>';
    } else{
        foreach ( $attachments as $attachment ) {
            $thumbnail_src = wp_get_attachment_image_src($attachment->ID,'large');
        }
        echo '<meta property="og:image" content="' . esc_attr( $thumbnail_src[0] ) . '"/>';
    }
    echo "";
}
add_action( 'wp_head', 'insert_fb_in_head', 5 );

 .. atau script ini pasang di header.php

function insert_fb_in_head() {
    global $post;
    if ( !is_singular()) //jika bukan post atau page return kosong
        return;
    echo '<meta property="fb:admins" content="ID_AKUN_FB_ANDA"/>';
    echo '<meta property="og:title" content="' . get_the_title() . '"/>';
    echo '<meta property="og:type" content="article"/>';
    echo '<meta property="og:url" content="' . get_permalink() . '"/>';
    echo '<meta property="og:site_name" content="NAMA_SITUS_ANDA"/>';
    $args = array(
        'post_type'   => 'attachment',
        'numberposts' => -1,
        'post_status' => null,
        'post_parent' => $post->ID,
        'exclude'     => get_post_thumbnail_id()
    );

    $attachments = get_posts( $args );

    if ( !$attachments ) {
        $default_image="URL_IMAGE_DEFAULT_ANDA"; //isi dengan url image Anda lengkap dg http-nya
        echo '<meta property="og:image" content="' . $default_image . '"/>';
    } else{
        foreach ( $attachments as $attachment ) {
            $thumbnail_src = wp_get_attachment_image_src($attachment->ID,'large');
        }
        echo '<meta property="og:image" content="' . esc_attr( $thumbnail_src[0] ) . '"/>';
    }
    echo "";
}
insert_fb_in_head();

Untuk mengecek apakah settingan Anda sudah benar, silakan kunjungi halaman fb lint ini. Masukkan URL postingan Anda di sana (bukan URL homepage, karena dari script di atas, kalau bukan postingan, meta-nya dikosongi), maka kalau sudah benar, Anda akan mendapatkan hasil seperti di bawah ini:

fblint

 

Untuk mendapatkan FB ID, Anda bisa menggunakan tools di halaman ini.

Demikian.

Nggak penting? Lha emang iya 😀

vale, demi pokokmen

el rony, sing penting

Merasa Salah

Apa yang menjadi judul tulisan ini sama sekali jauh dari sifat manusiawi kita. Kenapa? Karena pada dasarnya setiap manusia itu punya kecenderungan egosentris, bahkan semenjak sebelum Galileo lahir. Dengan sifat bawaan egosentris itu, maka setiap manusia memiliki keyakinan penuh bahwa dirinya paling benar.

Lantas kenapa? Adakah yang salah dengan hal itu? Tentu saja tidak. Sifat manusiawi yang lumrah itu, adalah modal awal bagi manusia untuk menemukan hal-hal baru bagi dirinya, yang bisa jadi berguna bagi masyarakat ataupun lingkungannya. Sebagai contoh, hampir semua penemuan-penemuan teknologi itu didasari oleh sifat itu. Tanpa merasa paling benar, Newton tentu tidak akan cukup yakin untuk mengemukakan tentang gravitasi. Ya, ini tarikan benang yang agak semena-mena, tetapi bukankah demikian adanya?

Sekali lagi, Lantas Kenapa?

Pertanyaan yang kedua ini ditujukan kepada judul tulisan ini, kenapa saya memilih kata itu. Sebagai latar belakang, mari saya ceritakan kejadian kemarin. Seorang paman saya, kebetulan beliau memimpin satu paguyuban trah keluarga, mengungkapkannya kepada kami semua, anggota trah. Ini bukan trah-trah kraton, hanya trah yang menunjukkan bahwa keluarga kami sudah sak gotrah (akeh banget).

Menurut paman saya itu, dan yang memang saya setujui juga, perasaan paling benar ketika diterapkan dalam hubungan horisontal antar individu, tidak akan membawa kita kepada satu kesimpulan. Namun, perasaan paling bersalah, akan membawa kita ke wilayah merunduk, introspeksi dan terbuka atas segala kritik.

Dengan bekal perasaan itu, maka tidak akan ada lagi kata dendam dan perasaan lebih tinggi. Sifat congkak, takabur, seperti yang banyak ditunjukkan oleh pejabat kita, tentu tidak akan terjadi. Jika dia merasa salah sejak awal, sikap andhap asor yang akan muncul, sehingga tidak mungkin akan menimbulkan pergunjingan. Hal ini patut diharapkan, meskipun bisa saja manusia tetap menggunjing, namun paling tidak kans untuk menggunjing sudah banyak berkurang.

Pejabat kita lain, pejabat kita memilih memaki dan menuding orang lain, dengan tak segan-segan memberi cap kepada siapa saja bahwa apa yang dia lakukan itu benar sementara semua orang itu salah. Hal ini bisa terus terjadi pada tipe orang seperti ini, mudah marah bahkan ketika dia “ditegur” oleh peristiwa tumpahnya anggur merah. Orang seperti itu memang ada, yang keahlian satu-satunya hanyalah membuat masalah.

Tetapi kita bukan orang seperti itu bukan?

Mari..

Saya mengajak diri saya sendiri, dan juga sidang pembaca sekalian (macak khotib jumatan), untuk lebih mendahulukan rasa ini. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh merasa benar, selama ada dasarnya tentu hal itu sangat boleh, bahkan harus. Tetapi ketika kita ingin menuju ke satu titik persahabatan yang tanpa pagar, maka mari mengingatkan diri kita bahwa kitapun punya salah.

Saya merasa bersalah telah berpikir bahwa pak pejabat itu harus dimusuhi, bisa jadi harusnya kita mengasihani dia. Siapa tahu dia membuat masalah karena hanya itu yang dia bisa, karena membuat anakpun dia tidak bisa. Maka, mari kita doakan saja, semoga pak pejabat itu, mendapat limpahan berkah, untuk segera bertemu denganNya.

Lalu kita bisa bersalaman tanpa ada dendam. Atau membawa rangkaian bunga dengan tentram.

vale, demi persahabatan

el rony, berangkat menuju pak puspo.