Enjah: Turuti, atau Tak Kembali

coverPagi ini, ditemani segelas teh, saya membaca komik karya Beng Rahadian. Sebenarnya bukan karya dia sendiri juga, karena ternyata di dalam komik tersebut dijelaskan bahwa pemilik ide maupun konsep tadinya adalah teman Beng yang — sedihnya– meninggal ketika akan menggarap komik ini. Beng juga dibantu oleh mas Thomas Soejakto, tetapi sayangnya saya belum mengenal mas Thomas, jadi saya tidak banyak cerita tentang beliau.

Sebelum menyentuh komiknya, saya merasa perlu menyampaikan sedikit yang saya tahu tentang Beng. Beng adalah sosok muda Indonesia yang seakan tak pernah lelah menggeluti dunia komik. Dari mulai karya hingga berkomunitas. Paling tidak, itu yang saya selalu dengar baik dari Windu (seniman lukis yang sekarang jadi desainer cover), Agung Arif Budiman (entah dia dimana sekarang dengan arixx-nya) maupun Mail (komikus yang menasional dengan sukribo-nya). Selain itu, saya juga “mengenal” Beng karena kecintaannya pada kopi. Satu kalimat yang selalu saya ingat (walaupun lupa persisnya) mengenai kopi dari Beng adalah bahwa hidup ini seperti menyeduh kopi. Larutkan yang pahit, aduk pelan-pelan, masukkan manisnya sedikit demi sedikit, agar sesedikit apapun manisnya hidup bisa kamu nikmati.

Kupikir, itu saja yang bisa saya ceritakan tentang Beng. Maka kini mari kita menuju ke komiknya. Enjah.

Komik Horor

Demikian yang beredar di social media ketika orang membicarakan Enjah, judul komik ini. Pertama mendengar, maka yang terlintas di kepala saya adalah “komik neraka”. Mungkin dari kalian ada yang pernah melihat, membaca atau mendengar tentang komik yang saya maksud ini. Sebuah komik yang dulu beredar bebas dari tangan satu anak ke anak lain, sementara isinya sungguh luar biasa.

Komik neraka adalah komik yang menggambarkan “kondisi” di dalam neraka. Bagaimana seorang pelacur dimasuki alat kelaminnya dengan besi panas, bagaimana penipu diguyur timah panas, bagaimana pengadu ayam diadu oleh ayam, dan seterusnya. Gambar di dalam komik itu cukup detil, hingga ke puting yang memanjang dan melilit pemiliknya. Setiap teringat dengan komik ini, saya selalu tak habis pikir bagaimana ceritanya komik ini bisa beredar bebas di kalangan anak-anak waktu itu. Dan paragraf yang saya tulis ini adalah gambaran paling halus yang bisa saya lakukan untuk mendeskripsikan isi komik tersebut.

Kenapa saya teringat dengan komik itu? Karena komik yang lain yang saya ingat kalau sudah menyangkut kata “horor” adalah komik lucu-lucuan seperti gareng petruk dengan jurig situ entah, dan sejenisnya. Atau mentok di komik strip (panel beberapa kotak) dari satu majalah berbahasa jawa, Djoko Lodhang. Maka ketika membicarakan komik horor, yang saya bayangkan adalah kondisi seperti itu.

Paling tidak, gambaran saya adalah tentang wajah-wajah menyeramkan dengan –jangan pernah lupa– taring dimana-mana. Dan ya, gambaran saya salah total. Tentu saja, karena dari sedikit yang saya tahu tentang Beng, gambaran itu jelas melenceng terlalu jauh.

Tapi dengan begitu, saya jadi senang, Beng ternyata “masih” dengan semangat komik Indonesianya, tanpa jatuh ke wilayah yang –bagi saya– remeh. Terlebih lagi, setelah melihat visualisasi komik Enjah, saya sama sekali asing. Dalam konotasi positif tentu saja. Saya yang sudah “terlanjur” terpapar oleh komik-komik manga Jepang (dan menikmatinya! tolong dicatat!), seakan dibawa ke wilayah yang jauh tapi di satu titik lantas diingatkan sendiri bahwa ini ada di sekitarku, demikianlah wajah-wajah orang Indonesia.

Sampai pada titik ini, saya mencatat satu kata “selamat” untuk Beng dan timnya. Tetapi ini mari kita simpan dulu, karena kita belum sampai kepada isinya.

Enjah

Judul komik ini sendiri memberi interpretasi yang berbeda dalam diri saya. Terus terang, tanpa membaca isi komik ini, aku tidak akan pernah teringat bahwa perjalanan bahasa di negeri ini mengalami evolusi yang panjang. Tadinya saya berpikir, karena disebut sebagai komik horor, Enjah adalah nama hantu dari satu daerah di satu tempat di Indonesia.

Tadinya, bahkan sampai ke halaman hampir akhir dari komik ini, saya masih bertanya-tanya bagaimana hantu asing itu sampai ke Yogyakarta, wilayah yang menjadi setting dari cerita di komik ini. Hingga kemudian saya baru bisa bilang “oh!!” ketika tokoh Sofie menyampaikan kata itu dengan bahasa yang lebih bisa dimengerti oleh otak lambat saya.

Saya sedang berusaha untuk tidak menjadi spoiller di sini, jadi saya tidak akan menceritakan detilnya, tetapi mungkin Anda semua sudah menangkap maksud saya. Judul itu, mendapat satu kata “selamat” juga dari saya, karena judul itu membentangkan lini masa dari periode di tiap halaman komik. Jarak antar tokoh, jarak antar peristiwa dari tiap halaman, menjadi “tergamblangkan”. Mungkin saya terlalu berlebihan, tetapi ya ini memang otak lambat saya yang menangkapnya demikian.

Maka Enjah adalah satu peristiwa yang tidak berhenti dari sejak jaman kuda gigit besi hingga jaman modern dimana HP cukup menjadi tempat diskusi tanpa harus tatap muka di kedai kopi.

Ada yang kurang

Tentu saja, saya manusia, maka merasa kurang adalah sifat wajib. Satu hal yang saya catat sebagai kekurangan dari komik ini adalah lintas antar peristiwa terlalu cepat. Pola flashback forward flashback (ini yang saya tangkap) cukup mengasyikkan, tetapi sebagai pembaca yang model bacanya (terutama membaca komik) kemaruk dan nggragas, maka saya merasa sudah kehabisan makanan bahkan sebelum perut saya bercita-cita untuk kenyang. Komik ini terlau cepat habis dalam sekali kunyah.

Saya tentu juga nggak suka model komik yang nggladrah dan bertele-tele, apalagi seperti komik-komik jepang model inuyasha, bleach, dan beberapa model cerita lain, yang sebegitu mangkelinya karena terlalu sering mandeg ketika sedang hampir mencapai puncak, sehingga saya malas lagi meneruskan bacaan saya. Chinmi juga melakukan itu, tetapi chinmi sedikit lebih baik dimana tidak ada episode sisipan yang seakan menggambarkan sang pencerita sudah kelelahan fisik maupun mental. Bagi Anda pecinta bleach, tentu Anda mengerti maksud saya. Ah cukup dengan komik Jepang.

Maka menurut saya, Enjah mestinya hadir dalam bentuk novel grafis, atau komik berseri. Dengan dua point kata “selamat” tadi, ditambah dengan buncahan-buncahan harapan di kepala saya, tentu saya akan berlangganan.

Demikian review saya mengenai Enjah. Tidak banyak, tetapi biarlah yang lain Anda alami sendiri dengan membacanya. Menurut saya, komik ini layak dibaca. Anda akan diajak menjelajah satu dunia yang sudah lekat dengan kehidupan kita sejak dulu, tetapi dengan pendekatan yang lebih halus dan tidak jatuh remeh seperti karya-karya akharpunjadi rotanpunjadi.

vale, demi menggambar

el rony, teringat eyang kakung.

p.s.: mengenai kaitan judul ini dengan isi tulisan, tentu saja tidak ada 😀 kaitannya hanya bisa diketahui kalau sampeyan membaca komiknya 😀

TLDR

Judul tulisan ini singkatan yang sudah banyak dikenal di forum-forum di internet. Too Long; Didn’t Read. Intinya, kalimat yang terlalu panjang, sehingga orang malas baca. Ataupun kalau membaca, maka skip-skip (lompat-lompat), tidak menyeluruh. Akibatnya, kita gampang tersulut amarah oleh satu bahasan/berita yang isinya provokatif.

Kurang lebih begitu yang disinggung mas Aan Mansyur di blognya ini. Meskipun bahasannya berbeda, beliau lebih menekankan soal penyakit “tidak nyaman pada ambiguitas”, tetapi saya melihat ada benang merahnya di sini. Dalam tulisannya, mas Aan Mansyur menyoroti soal bagaimana kita mudah untuk tidak nyaman atas sesuatu yang kita risaukan. Maka kita-pun mencari cara-cara pintas untuk mendapatkan jawaban.

Kurang lebih baru kemarin saya melakukan hal yang sama, ketika saya mendapat kabar tentang aplikasi gamelan yang di-patent-kan. Saya mencari informasi melalui social media, dengan melemparkan pertanyaan (pernyataan) di twitter, yang lalu disambar oleh teman-teman developer. Akhirnya sayapun mendapatkan jawaban atas apa yang saya gelisahkan. Mengenai hal ini, mungkin nanti akan jadi postingan tersendiri, sementara naskahnya masih nongkrong di draft karena masih belum mendapat jawaban resmi (email) dari pihak terkait. Nah, saya jadi berfikir, apa yang saya lakukan itu sepertinya juga masuk dalam ranah pembahasan di blognya mas Aan tadi.

Posisi Pemerintah

Satu yang menarik dari postingan mas Aan adalah, beliau melihat ada kaitan langsung antara kebijakan pemerintah terkait pendidikan dengan berjangkitnya “penyakit” ini. Bahwa pendidikan yang ada sekarang tidak memberi ruang bagi pemikiran terbuka. Sayang sekali mas Aan tidak memberikan contoh-contoh di sini, tetapi sepertinya cukup terbayang.

Sebuah sistem pendidikan yang lebih mengejar kuantitatif, meninggalkan inti utama pedagogis, mempertanyakan kembali untuk menuju pemahaman, membuat marak pendekatan-pendekatan rumus kilat atas segala hal. Kamu tidak perlu tahu kenapa 4 x 3 adalah 12, bahwa 4 x 3 adalah 3 + 3 + 3 + 3 bukan 4 + 4 + 4 tidak penting, yang penting kamu menjawab 12, maka kamu dapat 100.

Di segala lini, seperti inilah yang terjadi. Maka pertanyaannya kemudian, mengapa pemerintah memilih seperti itu? Agenda apa yang ada di kepala penguasa? Yang terbayang olehku kemudian pelajaran sejarah jaman dulu, yang menekankan soal bagaimana pemerintah penjajah membiarkan rakyat tetap bodoh, sehingga lebih mudah “diatur”.

Maka kitapun larut dalam ombang-ambing isu yang dimainkan para politisi.

Mari Membaca Karya Sastra

Disinggung sedikit di tulisan mas Aan mengenai hal ini, tetapi saya ingin mengulangnya sekali lagi. Mari kembal membaca karya-karya sastra. Mengapa? Karena karya sastra bukanlah karya dengan index, yang membuat kita meluncur ke halaman itu untuk mencari siapa dalang kejahatan, lalu mendapatkan halaman tempat kata kunci berada.

Karya sastra memberi ruang bagi imajinasi kita untuk mengarang sendiri alur sebuah cerita. Bahwa kemudian alur itu akhirnya mengikuti alur yang ditulis oleh penulisnya, itu adalah proses dialog yang terus terjadi sepanjang halaman.

Dan yang pasti, saya adalah orang yang percaya bahwa “sejarah ditulis oleh penguasa, kebenaran berada di tangan para pujangga”.

vale, demi membaca

el rony, njujug halaman kesimpulan. :p

nb: situ oke mas Aan!

Alon-alon waton gelis

self-drive-vehicle-halahMembaca postingan mas Wednes “Kayam” ini membuatku teringat obrolan dengan istriku tadi pagi. Kebetulan kami habis pulang dari acara Festival Gerobak di Lapangan utara Stadiun Maguwoharjo. Kami bersenang-senang sih, walaupun kepanasan. Terutama saya yang langsung nostalgia jaman-jaman masih kecil dulu. Teringat bagaimana dulu suka lumpat ke belakang gerobak, numpang tanpa ijin dari depan rumah sampai kali di selatan desa. Kadang dimarahi sopirnya, lebih sering juga tidak.

Semilir angin, klunthung-klunthung suara bel di leher sapi, dan gemeretak roda kayu (sekarang sih semua pake roda ban), selalu mengantar cepat ke alam pating thekluk. Istriku sih mungkin tidak merasakan itu, tapi paling tidak kesan itu masih bertengger hingga saat ini, betapa nyaman dan nyenengké-nya berada di atas gerobak.

Serba Cepat

Dalam obrolan tadi pagi, kami berandai-andai jika gerobak menjadi sarana transportasi umum (lagi). Tentunya hal ini terkait dengan wisata. Kebetulan kami juga masih hangat memperbincangkan ide tentang desa wisata, ditambah mas Wednesyuda di blognya juga pernah membahas konsep itu dengan pembanding kisah dari Vietnam.

Membayangkan para turis dihentikan waktunya, berayun-ayun di gerobak, merasakan semilir angin dengan bonus bau segar tléthong sapi :D. Sepertinya menarik, dan sepertinya pula para turis akan suka menikmati itu. Di negara mereka, hal-hal sederhana sudah dilupakan, maka mari kita tawarkan kesederhanaan yang bukan pura-pura.

Tetapi bayangan itu pupus ketika menempatkan wisatawan domestik di dalamnya. Andong menjadi lebih menarik dibandingkan gerobak. Kenapa? Karena Andong lebih cepat.

Negara kita mau tidak mau terimbas pula dengan teknologi. Kemajuan yang dijadikan tolok ukur kemudian bersinggungan dengan kecepatan. Upload cepat, download cepat, kerja cepat, apapun serba cepat. Lambat dan pelan menjadi momok. Maka berkendarapun jadi kehilangan sronto kalau menurut mas Yuda. Dan akibat dari ini pula, kelambatan yang bisa ditolerir hanya sampai pada kecepatan kaki kuda. Lebih lambat dari itu, tersiksa.

Maka, ide gerobak pupus.

Alon-alon Waton Gelis

Di sini letak anehnya Jogja, yang mungkin juga daerah lain (yang bukan metropolitan). Di kota metropolitan, apapun serba cepat, karena ada hambatan macet, kecelakaan, dan lain-lain. Tapi di daerah, ada satu kondisi magel, di satu sisi pingin alon-alon tapi di sisi lain butuh cepat.

Kondisi ini, biarkan sajalah. Hal yang saya sayangkan kemudian tinggal masalah tepo seliro. Saling menghargai, saling memahami. Yang butuh cepat, memahami bahwa blèyeran motornya mengganggu orang. Pilih-pilih tempat kalau mau mblèyer. Yang butuh alon-alon, minggir, kasih jalan pada yang pingin cepat.

Yang nantinya, saya harapkan, hal ini menjadi kebudayaan kita dalam berkendara, dalam berlalu lintas. Semua kemudian bisa alon-alon, tapi slamet dan gelis karena jalanan menjadi lancar. Harapan ini perlu saya sampaikan, mengingat hampir di setiap perempatan lampu merah, sekarang sering sekali terjadi bottle neck. Depan masih macet, yang belakang bukannya nunggu lampu hijau malah ikutan maju. Jadilah tidak maju-maju. Kurang Garuda Pancasila pokoknya.

Jadi, hm.. mau bicara apa saya tadi? Ah ya itu saja, tidak menanggapi, tidak menambahi, hanya berbagi saja. Tentang sronto dan alon-alon waton gelis. Semoga terjadi apa yang disemogakan.

vale, demi alon-alon ning gelis.

el rony, mblèyer motor ning dibatin.

Tentang Rencana

Apakah kalian suka merencanakan sesuatu? Rencana sepertinya sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari manusia. Dari mulai bangun tidur, hingga tidur lagi, semuanya dalam rencana. Ada rencana yang menjadi wacana, ada rencana yang gagal terlaksana ada pula rencana yang gemilang pencapaiannya.

Di kehidupan bernegara, kita juga mengenal rencana. Ada RAPBN (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) hingga KB (Keluarga Berencana). Perencanaan bahkan sudah menjadi bagian dari keilmuan, sehingga muncul jurusan (atau bahkan fakultas?) perencanaan. Turunan dari perencanaanpun mendapat perhatian, sehingga muncul ilmu manajemen. Semua berangkat dari rencana.

Rencana Saya

Rencananya, saya ingin menuliskan banyak hal di sini, tetapi akhirnya urung saya lakukan, mengingat tulisan yang terlalu panjang dan terlalu lebar juga jadinya tidak menarik. Maka saya khianati rencana saya sendiri, dan melakoni apa yang sedang asyik di kepala saja.

Kalau menelaah kembali, ada banyak rencana di kepala saya yang gagal terlaksana. Dari mulai rencana ingin piknik sekeluarga keliling Indonesia, hingga rencana kecil seperti memugar ulang halaman kecil di belakang. Ada yang gagal karena kemalasan, tetapi lebih banyak gagal karena faktor yang saya sendiri tak kuasa mengelak.

Entah kenapa, perencanaan-perencanaan saya banyak yang melibatkan unsur keuangan. Dan unsur inilah yang selalu dan selalu menjadi kendala. Sehingga gambaran indahnya kalau rencana terlaksana, pupus seketika. Hal yang paling menyedihkan kemudian, ketika rencana itu tadinya melibatkan pihak ketiga alias orang lain.

Rencana yang seakan sudah menjadi janji, sakit rasanya ketika tiba-tiba harus dibatalkan. Ada pula yang bukan dibatalkan, tetapi harus diubah dengan kompromi-kompromi, akibatnya sama saja, ada pihak yang tersakiti. Minimal aku sendiri.

Lalu Bagaimana?

Saya juga masih bertanya. Selain memohon keikhlasan dan mengharap pengertian, saya sendiri bingung harus bagaimana. Apa sebaiknya tidak usah berencana saja?

Dulu ketika masih bujang, beberapa kali saya jalan tanpa rencana. Menyenangkan, jadi berkesempatan keliling Indonesia, datang ke pelosok-pelosok negeri yang indah. Tetapi semakin hari, pendekatan seperti ini semakin tidak cocok saja. Apalagi ketika dihadapkan pada sebuah industri. Jadwal dan prioritaslah yang membuat mau tidak mau harus berencana, dan kemudian berkompromi.

Sementara ini kesimpulan saya tetap sama, saya harus berencana. Tetapi mungkin perencanaan yang lebih masuk akal, yang sesuai dengan kondisi nyata.

Maka, saya mohon maaf jika ada di antara kalian yang bersentuhan dengan rencana-rencana saya, apalagi ketika rencana itu gagal. Sepenuhnya itu kesalahan saya.

vale, demi persahabatan

el rony, membaca pledoi yang tak lebih sekedar pelarian

Mantri

Di desa kalian, adakah orang berprofesi sebagai mantri? Atau jangan-jangan kalian belum tahu apa itu mantri? Mantri itu profesi sejenis perawat, tetapi setahuku mereka tidak memiliki ijasah keperawatan. Mantri mungkin bisa dibilang salah satu profesi yang berangkat dari otodidak.

Pada masa-masa tahun 1980-an atau sebelumnya, profesi ini cukup gemilang. Tidak banyak memang yang berkesempatan menjadi mantri, dan saya juga tidak tahu bagaimana seseorang bisa menjadi mantri. Maksud saya, saya tidak tahu apakah ada proses seleksi, tes, atau sejenisnya. Tetapi yang jelas, saya pernah mendapati sebuah cerita, seorang dokter merekrut salah seorang warga yang paling dekat dengannya, paling mudah diajak komunikasi dan menuruti kemauan si dokter, untuk dijadikan mantri. Saya berpikir, mungkin pola inilah yang terjadi di banyak tempat.

Dokter tentunya juga manusia biasa, ada perasaan lelah, kadang mungkin juga emosi, maka pada banyak kasus dia akan membutuhkan bantuan untuk sekedar, misalnya, mengelap keringatnya, mengambilkan kain kasa, hingga membantu menyuntik pasien.

Suntik

Alat inilah yang paling akrab dengan mantri. Tidak semua mantri diperbolehkan menyuntik, setahuku begitu, tetapi pada banyak kejadian, kalau orang datang ke mantri untuk meminta pengobatan, mereka akan mendapatkan treatment ini, suntik. Tunggu dulu, menyuntik? Orang berobat ke mantri? Itu mungkin pertanyaan sebagian kalian, mari saya jelaskan.

Pada masa-masa tahun 80-an atau sebelumnya, jumlah dokter belumlah sebanyak sekarang. Meskipun PUSKESMAS sudah ada di tiap kelurahan, tetapi tidak seluruh PUSKESMAS dijaga oleh dokter. Jangankan dokter dengan spesialisasi tertentu, dokter umumpun belum tentu ada. Pada masa itu, satu orang dokter bisa saja membawahi sekian PUSKESMAS, atau minimal 1 PUSKESMAS sekaligus dinas di 1 Rumah Sakit. Terbayang bukan? Keberadaan dokter tidak bisa diharapkan selalu ada setiap hari, bahkan mungkin seminggu sekalipun belum tentu.

Dengan keadaan itu, sementara orang sakit tidak mengenal jadwal, maka keberadaan perawat menjadi tumpuan. Tentunya pendidikan keperawatan juga belum sebanyak sekarang, lulusan akademi keperawatan juga belum banyak, maka pilihanpun jatuh ke Mantri. Maka para Mantri ini, entah belajar sendiri dengan bertanya ke dokter, atau bisa jadi juga diajari, akhirnya bisa menentukan resep.

Mantri tidak menuliskan resep di secarik kertas, resep dia sudah berupa satu ampul berisi kapsul. Obat racikan di dalam kapsul itu apa, hanya mantri dan Tuhan yang tahu. Dan yang tidak kalah penting, suntik itu tadi. Sakit apapun kamu, suntik adalah obatnya. Nenekku almarhumah termasuk salah satu orang yang setia dengan mantri. Ketika mantri di desaku sudah semakin paham tentang bahayanya malpraktik, dan juga bahayanya salah obat (kukira begitu), beliau tidak lagi memberi suntik. Akibatnya? Nenekku marah-marah. Pokoknya harus suntik!

Jaman Kejayaan

Sekarang mungkin profesi Mantri sudah tidak ada lagi, terutama di Jawa. Entahlah, tetapi seingatku, berita yang muncul di koran terakhir adalah tahun 2000-an awal, yang memberitakan seorang korban meninggal setelah berobat ke mantri. Waktu itu, semua orang di sekitarku, yang kira-kira seumuran denganku, sama-sama memiliki satu pertanyaan, “lho, masih ada yang ke mantri?”.

Maka tahun 90-an akhir, sependek yang kutahu, adalah masa akhir kejayaan para mantri. Masa kejayaan, artinya masa dimana mereka dicari-cari, menjadi tumpuan harapan, teras rumahnya selalu dipenuhi orang yang antri untuk berobat. Setelah itu, hilang tak berbekas. Teras-teras rumah para mantri semakin sepi, kursi panjang di sanapun sudah berubah menjadi tempat nongkrong orang-orang sehat, untuk ngobrol mengenang masa kejayaan.

Tak kurang tetangga saya, Pak Kaji, demikian orang di kampungku mengenal beliau. Kenapa Pak Kaji? Karena ketika beliau masih muda, berkat menjadi mantri, beliau berkesempatan mengunjungi tanah suci. Waktu itu bahkan beliau sudah memiliki satu buah motor vespa, dan sebuah mobil ompreng, station wagon.

Saya merasakan tangan dingin Pak Kaji, waktu saya masih kecil. Pantat saya, baik kiri maupun kanan, sudah menjadi langganan jarum suntik beliau. Entah karena flu, atau demam yang tidak hilang dengan dikerok punggungnya, pasti jarum suntik Pak Kaji akan dengan sigap menggantikan posisi koin benggol. Alhamdulillah, entah karena sugesti atau entah karena memang obat dosis tinggi, saya selalu kembali sehat keesokan harinya. Hingga kemudian di kampungku datang satu penyakit kota yang asing, typhus. Obat dari Pak Kaji gagal mengalahkan virus tipes. Apa boleh bikin, orang-orang akhirnya berpindah ke dokter.

Adalah satu kebetulan, di dekat kampung waktu itu datang dokter muda. Maka kesaktian ilmu pengobatannya pun segera terdengar. Demam tinggi? Lidah memutih? Perut keras? Datang ke dokter saja, jangan ke pak Mantri. Pak Mantri wis ora mandi. Semenjak itu, satu per satu pasien Pak Kaji berkurang. Lalu satu per satu pula, dokter-dokter dan perawat berdatangan ke kampung sekitar. Teras Pak Kaji tidak lagi jadi tempat menarik untuk mereka yang sedang sakit. Apa boleh bikin.

Selamat Jalan Pak Kaji

Siang ini saya mendapat sebuah SMS. Pak Kaji, orang yang saya hormati dan terus menerus saya terimakasihi karena menyelamatkan nyawa banyak orang (mungkin terlalu heroik, tapi biarlah), meninggal dunia. Langsung terbayang di ingatan saya, bagaimana dulu saya diantar dengan vespa beliau untuk berangkat ke sekolah TK. Saya satu TK dengan anak beliau, maka tiap pagi saya mendapat anugerah berdiri di salah satu sayap vespa. Sayap sebelah dipakai Robbani, sahabat terbaikku ketika kecil yang sudah dipanggil lebih dulu menghadap Allah SWT. Robbani dipanggil ketika pulang subuhan, melalui sebuah serudukan truk yang zigzag karena sopirnya ngantuk.

Ingat Pak Kaji, selalu mengingatkanku pada Robbani. Tiga hari tiga malam, kata ibuku, aku menangisi dan tidak percaya sahabat terbaikku meninggal. Kini, Pak Kaji menyusul. Aku tentu tidak menangis seperti waktu itu, tetapi ada satu bagian kecil di hatiku, yang sepertinya luruh dan hanyut entah kemana.

Maka saya tutup saja kisah ini dengan, Selamat Jalan Om Sudal.

vale, demi kemerdekaan

el rony, berharap menjadi mantri dan menyuntikkan semangat untuk merdeka di nadi setiap generasi muda.

 

Seloroh

Satu kata yang aneh, bahasa Indonesia dengan bertebaran huruf O tetapi tidak dibaca sebagai O-nya jomblo. Cara membaca huruf O di situ mirip dengan cara orang Jawa membaca huruf O, tetapi kata itu juga bukan berasal dari bahasa Jawa, saya yakin soal itu.

Nah, tapi saya tidak sedang ingin membahas soal kata itu, muasalnya, cara bacanya, atau apapun. Saya hanya ingin mencatat saja, sambil berbagi, tentang diri saya yang suka sekali berseloroh. Dan, yang namanya seloroh, tidak ada niatan sedikitpun untuk serius. Hal yang kemudian menjadi perlu saya catat di sini, karena selorohan saya, kadang justru membuat saya kepikiran.

Saya, misalnya menimpali satu teman yang sedang ngobrol dengan dirinya sendiri (di twitter maksudnya), lalu setelah menimpali, saya kemudian termangu, jangan-jangan kata-kata saya dianggap serius sama teman saya ya? Nah, kemudian saya baru bisa bernafas lega setelah teman saya itu menimpali lagi timpalan/selorohan saya. Lalu perbincangan, lalu percandaan.

Tetapi kali ini tidak. Selorohan saya membuat teman saya berpikir. Dan bajigurnya, saya jadi kepikiran juga. Kowe pancen telo kok mid!

Tentang Machine Learning (Pembelajaran Mesin)

Penjelasan ringkas ala Geovedi.

Machine Learning adalah bagian dari Artificial Intelligence. Intinya tentang bagaimana sebuah mesin “belajar” dan mengenali bahasa manusia. Proses di dalamnya melibatkan rumus-rumus yang rumit dan juga proses trial and error dari banyak pihak. Ilmu ini berkembang pesat, dan nampaknya di Indonesia juga semakin banyak yang tertarik dengan dunia ini.

Permasalahannya — kalau boleh dibilang masalah — adalah bagaimana menerangkan hal itu kepada orang yang tidak bergerak di bidang IT? Mereka yang bergerak di bidang IT, terbiasa googling, banyak baca wikipedia, paling nggak sedikit banyak ngerti alur maupun logika dari yang dinamakan machine learning, tetapi bagi mereka yang bukan “golongan” itu, tentu kesulitan.

Apa kebutuhannya menerangkan hal ini kepada orang non IT? Bagi saya, karena AI itu kurang lebih muncul sebagai jawaban atas kebutuhan manusia. Dan adalah bodoh jika apa yang disebut “jawaban” itu tidak dipahami oleh si manusia itu sendiri. Maka, berikut ini gambaran machine learning diterangkan oleh masternya, Jim Geovedi, dengan bahasa yang gamblang. Oh iya, Jim menerangkan ini kepada neng yuke dan lola yang notabene adalah Event Organizer, maka perumpamaan yang diambil seputar band. Semoga hal ini bisa jadi acuan tentang bagaimana menerangkan machine learning, atau umumnya AI, kepada masyarakat lebih luas. Teks di bawah ini saya kutip sesuai aslinya.

neng yuke dan lola kan biasa ngurus acara yang melibatkan banyak band. dan suatu ketika manage suatu acara yang melibatkan beberapa band dengan berbagai genre. masalah muncul ketika harus bikin rundown atau membedakan stage setiap group band, supaya tidak class genre dan punya rundown yang enak.

nah, cara yang paling mudah mungkin langsung bertanya dengan personil atau manajemen band tersebut, atau ke orang lain yang sudah lebih dulu mengenal band tersebut. tapi mungkin kalian iseng… coba untuk mengidentifikasi berdasarkan sejumlah informasi yang sifatnya terbatas. misalnya, nama band, kota asal, logo band, kemudian jumlah personil dan instrumen yang digunakan.

contoh yang paling mudah, ini adalah contoh nama-nama band: ‘besok bubar’, ‘suffocation’, ‘om soneta’, ‘runtah’, ‘ragaji mesin’, ‘death vomit’, ‘seringai’, ‘dewa’, ‘kahitna’, ‘java jive’, ‘ dan ‘padi’

berbekal pengalaman terdahulu, ada stereotype dari penamaan band seperti:

– kalau band metal biasanya punya nama-nama gahar, gak jauh-jauh dari unsur terror, horror, death, dsb.
– kalau band dangdut biasanya dimulai dengan awalan ‘om’ (orkes melayu)
– band punk atau hardcore punya nama yang cenderung umum namun gak lazim digunakan.
– band pop atau rock, cenderung netral

dari beberapa nama tersebut, sudah mulai bisa diklasifikasikan:
– band metal: [‘suffocation’, ‘death vomit’]
– band dangdut: [‘om soneta’]
– band punk/hardcore: [‘besok bubar’, ‘seringai’, ‘ragaji mesin’]
– band pop/rock: [‘dewa’, ‘padi’, ‘kahitna’, ‘java jive’]

kemudian dari koleksi band pop/rock [‘dewa’, ‘padi’, ‘kahitna’, ‘java jive’] ingin diketahui mana band rock dan mana band pop. informasi yang sudah diketahui adalah jumlah personil band rock biasanya berjumlah 5 orang atau kurang dengan 2 pemain gitar (lead & rhythm), dan ada beberapa yang extra keyboard player. sementara band pop ada kecenderungan punya beberapa vokalis dan biasanya punya keyboard player.

dari informasi tersebut akhirnya diklasifikasikan:
– band rock: [‘dewa’, ‘padi’]
– band pop: [‘kahitna’, ‘java jive’]

nah, dalam teknologi machine learning, informasi nama band, kota asal, logo band, kemudian jumlah personil dan instrumen yang digunakan itu dikenal sebagai ‘features’. kemudian, informasi stereotype yang diketahui dikenal sebagai ‘frequency distribution’.

dengan membandingkan features dan frekuensi, bisa data bisa diproses. tingkat akurasinya tergantung berapa besar features yang dimiliki dan seberapa sering features yang berhubungan dengan data tersebut muncul untuk kasus-kasus lain. dan tentunya tidak 100% akurat karena akan ditemukan penyimpangan di sana-sini. misalnya band ‘kuburan’ yang mungkin akan diklasifikasikan sebagai band ‘metal’, namun ternyata genrenya ‘rock’ (walaupun pada kenyataannya benar dulu mereka main metal, namun namanya masih dipertahankan).

gitu… deh. :-“

Nah, bagaimana? gamblang bukan? 🙂
vale, demi pemahaman
el rony, belajar agar bisa bilang “cara mudahnya”

Temanku, jangan jadi baliho

Hari sudah malam, badan capek seharian dihajar naik turun perbukitan, entah kenapa mendadak pingin menuliskan ini. Mungkin tidak pantas juga disebut mendadak, wong sebenarnya ya sudah terpikir lama, cuma ide bagaimana mengungkapkannya memang baru terpikir saat ini.

Tentu anda mafhum tulisan ini ingin bicara tentang apa? Benar, saya ingin membahas hal yang sudah usang, tentang baser. Apa itu baser? Para pegiat sosial media tentu juga sudah tahu betul jenis kegiatan apa yang dinamakan baser. Lalu yang ingin saya bahas apa?

Tentang Metode

Bagi saya, sebuah diskusi tidak akan pernah berjalan baik ketika salah satu pihak sudah mengungkit soal periuk nasi, jadi mohon kiranya berbesar hati sedikit untuk membaca tanpa harus membela diri dengan alasan periuk nasi dahulu. Kalau sudah, maka saya ingin sampaikan apa yang sudah disampaikan banyak orang juga, tolong jangan menjadi baliho.

Metode yang diambil para baser saat ini sungguh mengganggu. Kenapa? Begini, saya punya teman dengan berbagai latar belakang. Ada pedagang obat, ada pedagang tas, ada programmer, ada tukang, dan lain-lain. Tetapi ketika berkumpul, yang dibicarakan adalah hal-hal di luar apa yang mereka perdagangkan. Pedagang obat, meskipun ketika di pasar dia menjajakan dengan demonstratif, tetapi ketika bertemu teman mereka tidak terus membicarakan dagangannya itu.

Mungkin di media sosial kita dibekali dengan fasilitas-fasilitas tambahan seperti mute, block, unfollow, tetapi bagi saya ini tetap mengganjal. Ibarat ketika ngobrol dengan teman lantas kita memlester mulutnya karena dia ngiklan. Satu-satunya profesi yang mirip dengan cara kerja baser itu kayaknya mereka yang berdagang MLM dan asuransi. Tapi pun tidak terus membanjiri terus menerus juga. Ada faktor menghargai teman.

Mencerdaskan Client

Apakah memang socmed strategist atau marketer atau para brand itu menyaratkan agar melakukan kampanye dengan model seperti yang selama ini kalian lakukan? Kalaupun iya, tidakkah kalian ingin mengubah hal itu agar kita sama-sama enak dalam berteman?

Kalian yang dianugrahi follower yang banyak, diposisikan seperti baliho, ditempeli papan iklan di wajah, badan bahkan nafas kalian, tidakkah itu mengganggu gerak kalian? Bagaimana jika satu saat misalnya brand yang kalian iklankan itu ternyata terlibat satu kasus –kesehatan misalnya–?

Itu mengenai kalian, di sisi lain, jika orang justru muak dengan sebuah produk gara-gara kalian, bagaimana? Ah tapi ini mungkin juga tidak kalian lihat sebagai masalah, tetapi mari kita bayangkan hal yang lain.

Misalnya saja sebuah produk sedang ingin mengampanyekan sesuatu, tidakkah akan lebih efektif jika menggunakan cara memampangkannya di sebuah situs, sehingga kalian cukup sekali saja menyampaikan situs itu ke orang lain. Baser yang lain tinggal share/retweet? Dengan begitu informasi itu tidak menjadi spam.

Saya kurang lebih sepertinya tahu bahwa ini tidak mungkin, karena kemudian ada satuan impresi di situ, mirip dengan prestasi kerja kalau dalam perusahaan. Capaian, engagement atau apapun, yang coba diukur oleh pihak klien, yang kemudian mungkin menjadi satuan rupiah dalam proposal.

Tetapi tolong direnungkan lagi, tidakkah kalian sedang menjadi baliho? Apakah kalian senang dengan keadaan itu?

Mohon maaf jika kata-kataku tidak berkenan, tetapi sebuah script pemrograman yang terdiri dari ribuan barispun aku minta untuk dirombak ulang kalau secara logika pemrograman tidak benar. Maka satu atau dua buah baris ratusan karakter adalah wajar jika kuperlakukan dengan sama.

Mari mencoba setara. Follower banyak itu bukan barang dagangan, itu adalah kesempatan pertemanan, kesempatan memperoleh informasi. Dan kesempatan mendapatkan bantuan ketika kita misalnya tiba-tiba tersesat di jalan.

Sekali lagi, dengan rendah hati saya minta, mohon jangan jadi baliho.

vale, demi kemerdekaan

el rony, bagi orang indonesia, sambal boleh hadir dimana saja.

nb: sudah pasti saya tidak bakat menjadi baser