Kamu merasa lebih asli?

Peribumi. Ini judul gambar di samping. Hal yang terbayang ketika ada yang menyebut kata itu. Kebetulan kata-kata itu sedang banyak beredar, baik di media sosial (online) maupun di warung-warung kopi.

Hal ini dipicu oleh sepak terjang –yang memang mengagumkan– dari pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta terpilih. Terutama video rapat yang dipimpin oleh Ahok. Setelah sekian lama kita putus asa dan selalu berdamai dengan kata “harap maklum”, mendadak kita seperti ditampar keras. Pemerintahan bisa berubah. Birokrasi bisa diubah.

Nah, adalah kehendak Allah SWT, ndilalah kersane Gusti kalau kata orang Jawa, pak Ahok ini beretnis Cina. Lalu muncullah kata-kata “dia lebih pribumi daripada orang pribumi”. Saya terus terang saja, ada sedikit rasa suka dengan kata-kata itu. Bagaimanapun, itu adalah salah satu bentuk sanjungan pada idola saya (walah mendadak idola). Lha ya jujur saja, orang pemerintahan saat ini, mana ada yang bisa diidolakan sih? Kan idola itu semacam template terbaik, contoh terbagus, model terapik, maka pantas sajalah kalau disebut idola beliau-beliau ini. Biar para penguasa seperti mereka.

Akan Tetapi..

Saya tidak melulu suka dengan kata-kata itu. Saya benci setengah mati dengan dikotomi segregasi –masukkan kata-kata keren biar tampak cerdas dan ngelesem di sini– melalui penyebutan pribumi dan non pribumi.

Continue reading “Kamu merasa lebih asli?” »