Belajar Diam

Ngomong, entah kenapa menjadi hal yang sepertinya sangat menyenangkan bagi sebagian orang. Jika masih hidup filsuf-filsuf terkenal itu, mungkin akan muncul kata-kata “aku ngomong maka aku ada”. Seakan justru malu kalau tidak ngomong, meskipun tidak tahu atau tidak paham dasar omongannya.

Kasus terbaru tentunya mengenai menteri pendidikan kita. Namun sebelum beliau, kita juga sudah berkali-kali diterpa oleh celotehan marzuki alie, ataupun pejabat lain. Beberapa mungkin bisa dilihat di sini, kebetulan ada orang yang mengarsipkan omongan-omongan tidak jelas pejabat kita.

Nah, mengenai menteri pendidikan kita, saya merasa perlu menyoroti, karena bagaimanapun saya termasuk orang yang percaya bahwa kemajuan sebuah bangsa dilandasi oleh kuatnya wilayah pendidikan. Maka ketika seorang menteri, yang notabene dulunya adalah rektor ITS, sebuah perguruan tinggi yang cukup diperhitungkan di negeri ini, berbicara seakan tanpa rem, saya terpukul sekali.

Kebetulan kasusnya adalah kasus yang cukup sensitif, pemerkosaan. Kasus yang secara fisik luar tidak terlihat perubahan dari sisi korban (kecuali kalau kemudian hamil), tapi secara psikologis menghantam keras. Belum lagi dengan pandangan orang sekitar. Maka ketika secara tidak langsung sang menteri justru bernada “menyalahkan” si korban, ini salah sejak pemikiran.

Continue reading “Belajar Diam” »

Tentang Waktu

Jumatan terakhir kemarin, tentunya pas hari Jumat, serasa disentil oleh khatib. Pak khatib ini cukup saya sukai, karena dia cukup low profile, tidak merasa diri paling benar. Nah, kali ini beliau bicara soal waktu. Tema yang cukup usang sebenarnya, berkali-kali dibahas, bahkan saya sempat menggunakan tema itu juga untuk beberapa kali kesempatan berbicara di depan publik. Ya misalnya ketika saya teriak “Ataaaaa waktunya makaaannn”, ketika anak saya masih sibuk main dengan temannya.┬áBerbicara di depan publik memang membutuhkan keberanian dan kebulatan tekad, tetapi biarlah itu kita bahas di lain waktu saja. Itupun kalau saya sedang ndak edan.

Nah, kembali ke tema utama yang menjadi judul dalam tulisan ini, tentang waktu. Pak Khatib, seperti sudah bisa teman-teman duga, menyitir surat Al Ashr (Demi Waktu). Dan saya tidak sedang ingin ceramah, jadi silakan googling sendiri soal bagaimana surat itu dibahas. Yang ingin saya bahas di sini, sentilan dari pak khatib tentang bagaimana kita sebagai orang nuswantoro begitu selo terhadap waktu.

Kita tidak bijak terhadap waktu.

Masih menurut pak khatib, yang mana saya amini juga, kita ini tidak memiliki sejarah kebijakan terhadap waktu. Sebenarnya pengaminan saya ini masih tentatif sifatnya, masih berusaha mengingat-ingat. Intinya, beliau mengatakan bahwa di negara-negara maju, penghargaan atas waktu itu mendarah daging hingga menjadi petuah atau pepatah.

Waktu adalah uang, waktu adalah pedang, adalah contoh bagaimana negara barat maupun timur tengah menghargai waktu. Sementara sampai saat ini kok ya saya nemunya pepatah kita berkait waktu cuma “kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi. kalau ada umur panjang, pinginnya manusia gak mati-mati”, atau semacam itulah.

Harapan bahwa diberi umur panjang, bahwa diberi kesempatan lain, bahwa masih bisa menaklukkan waktu, cukup besar di negeri kita. “Esok kan masih ada”, kurang lebih begitu. Sungguh berbeda 180┬░ dengan “waktu adalah pedang”. Kurang hati-hati kita menata waktu, dia akan menebas leher kita. Atau kata-kata waktu adalah uang, kalau kita ndak hati-hati, banyak uang kita terbuang. Dan siapa yang bisa menyangkal bahwa di kehidupan modern ini uang sudah menjadi semacam oxygen?

Efeknya

Suatu pepatah biasanya dilahirkan oleh orang bijak. Dan karenanya, bisa disimpulkan dengan ngawur bahwa di negeri kita, orang bijak adalah orang yang cuwek santai terhadap waktu. Akibatnya, secara tidak langsung di alam bawah sadar kita terbentuk pola pikir, mereka yang santai terhadap waktu adalah mereka yang bijak.

Ha tentu saja kesimpulan saya itu tingkat ngawurnya 99,9% tapi silakan direnungkan saja, bukankah memang bisa disimpulkan begitu? Ya kembali ke diri kita saja deh, ketika kita ada janjian ketemuan, berapa kali kita memperkosa kata “InsyaAllah” dan semena-mena mengartikannya dengan “harap-kamu-sadar-aku-sudah-pake-kata-kata-sakti-jadi-boleh-dong-molor”.

Tidak ada kegentingan bahwa kalau kita meleset dari jadwal sekali saja, maka rentetan molornya akan semakin jauh ke belakang. Molor kita dari janjian jam 13.00 WIB, akibatnya janjian jam 15.00 WIB ikut molor. Dan seterusnya, dan modar saja.

Continue reading “Tentang Waktu” »