Ada Apa dengan Orang Kaya?

Sudah lama ingin menumpahkan ini, hanya saja kebetulan sedang tidak ada waktu untuk ngetik panjang. Maka sambil mengistirahatkan otak sejenak, saya coba susun lagi kegelisahan yang singgah selama ini.

Pertanyaan di atas sudah pasti generalisasi. Bisa jadi lebih banyak orang kaya yang tidak berbuat sebagaimana yang ingin kuceritakan. Tetapi saya hanya ingin jujur saja, kata-kata itulah yang ngendon di kepala hingga saat ini.

Tepatnya, saya menggerutui orang-orang kaya yang menyekolahkan anaknya di Budi Mulia. Gerutuan saya bukan karena pilihan atau apapun, gerutuan saya lebih ke perilaku mereka dalam penggunaan jalan. Tak kurang lebih dari tiga kali saya terjebak dalam antrian panjang setiap kali pulang dari kantor, persis di sekitaran Sekolah Budi Mulia, di daerah perempatan Tajem ke Utara.

Permasalahannya pun selalu sama, ada orang kaya yang merasa memiliki jalan, menghentikan kendaraannya di tengah jalan, untuk menurunkan penumpang. Penumpangnya bisa jadi pelajar di situ, atau wali murid atau entah siapa. Yang jelas, mereka selalu –dengan santai– menghentikan kendaraannya tanpa peduli antrian kendaraan di belakang menjadi panjang.

Dan kemarahan saya semakin menjadi karena ternyata hanya dalam jarak kurang lebih 150 meter dari situ, sudah ada lahan kosong yang memang disediakan untuk parkir atau transit. Kenapa tidak maju sedikit saja, sehingga orang tidak perlu terhambat perjalanannya?

Pikiran saya hanya bisa menebak-nebak. Jelas mereka orang kaya, mampu menyekolahkan anaknya ke sekolahan mahal. Tapi sepertinya otak mereka kerdil, sebagaimana harga diri mereka juga minus. Tolong bapak-bapak, ibu-ibu, silakan kalau memang kaya, belilah otak segera.

Dan buat Budi Mulia, saya terus terang kecewa. Jalan yang melewati depan sekolah itu bukan jalan pribadi, tetapi jalan umum, kenapa hal seperti ini dibiarkan? Terlalu takut kalian kehilangan uang sehingga tak berani menegur perilaku petentang-petenteng itu?

vale, demi akal sehat

el rony, oh saya masih berusaha santun.