Apa sih salahnya gagasan pak mentri?

Dua hari ini media sosial sedang membahas, salah satunya, mengenai gagasan Bapak Menteri Pendidikan kita, Bapak Muhajir Effendy. Beliau menyampaikan kegelisahannya terkait dengan kenakalan-kenakalan remaja yang semakin hari tampak semakin memprihatinkan. Dalam sebuah kesempatan, beliau mengemukakan apa yang menurut beliau layak dipertimbangkan sebagai solusi, full day school.

“Anak-anak muda zaman sekarang masih banyak yang bermental lembek dan tidak tahan banting”, demikian alasan lain yang dikemukakan beliau terkait dengan gagasan tersebut, seperti dimuat di harian online Republika (07/08/2016).

Dalam pandangan beliau, dengan belajar sehari penuh di sekolah, juga bisa memberi solusi bagi orang tua yang bekerja hingga sore. Nantinya diharapkan anak akan pulang bersamaan dengan kepulangan orang tuanya, sehingga anak akan selalu berada di dalam pengawasan, baik pihak sekolah sebagai perwakilan orang tua maupun oleh orang tua itu sendiri di rumahnya.

Sekilas tawaran beliau ini menarik. Terlebih lagi dengan kenyataan saat ini dimana trend sekolah full day semakin banyak ditawarkan oleh lembaga-lembaga yang mengusung tema pendidikan sebagai core business-nya. Lantas apa salahnya?

Ketersesatan Nalar

Sebuah gagasan yang dikemukakan oleh pejabat di muka umum, apalagi hingga menyinggung permasalahan teknis seperti permen dan sejenisnya, sudah barang tentu keluar dari hasil pemikiran dan pertimbangan yang bersangkutan. Sependek apapun waktu berpikirnya, gagasan itu tentu sudah dalam pertimbangan sebagai yang terwangun.

Hanya saja dalam hal ini, pak menteri yang orang desa ini, sepertinya lupa bahwa permasalahan yang dia bidik berada di rimbun beton kota-kota, dan dengan kebijakannya kelak, tak bisa dihindari akan menyentuh desa-desa yang asing dengan permasalahan tersebut. Lebih parahnya lagi, masalah yang dibidik itu coba diselesaikan dengan pola pikir infrastruktur dan lingkungan perdesaan. Mawut sekali.

Di desa, kami tidak memiliki permasalahan mengenai pengawasan. Benar bahwa di desapun banyak remaja-remaja yang berkelakuan tidak baik. Namun untuk melihat letak permasalahannya, musti dilihat juga seperti apa lingkungan si anak. Kalau dari SD sudah diberi motor oleh orang tuanya, sedangkan aturan bahwa pengendara harus dilengkapi dengan SIM dan syarat SIM adalah usia dewasa, jelas permasalahannya bukan di lingkungan sekitar dan pergaulan semata, tetapi justru di pusat, di orang tuanya.

Di kota, kesibukan orang tua dan rawannya lingkungan urban adalah kombo yang membuat orang tua harus extra hati-hati. Permasalahannya kemudian ketika mencoba menyelesaikannya dengan menahan anak agar berada di sekolah, hingga orang tuanya pulang. Ada permasalahan transportasi di sana, ada permasalahan tenaga pengajar dan sebagainya. Alih-alih harapan atas pengawasan terlaksana, yang ada semua capek dan terkuras energinya.

Jadi, sebenarnya, solusi apa yang ditawarkan dari gagasan tersebut? Tidak ada.

Anak dipandang sebagai Obyek Penderita.

Ketika dunia pendidikan sedang mengarah ke memanusiakan manusia, menteri pendidikan kita justru menggagas hal yang menempatkan anak sebagai playdoh, obyek penderita. Tangan-tangan penguasa, guru dan orangtua, berusaha sedemikian rupa membentuk dan menentukan akan menjadi apa anak-anak kelak.

Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang cukup jelas, “Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” sudah dianggap usang. Pola pendidikan keteladanan, membangun bersama dan mengiring serta mensupport dari belakang, mungkin dianggap gagal total dan bahkan bisa jadi ditempatkan sebagai penyebab “kerusakan” moral generasi muda.

Kata-kata Kahlil Gibran tentang anak panah dan busur, adalah kata-kata abad yang telah silam. Filosofi atasnya karenanya menjadi tidak relevan lagi untuk masa sekarang.

Tidak perlu lagi sepertinya seorang anak bergaul dengan temannya, bermain bersama di lingkungannya. Bersepeda, main lego, mancing, atau sekedar mengejar capung di sawah. Hal yang dilakukan oleh anak saya ini tampaknya sudah lewat jamannya.

Setiap hari saya mengantar anak ke sekolah. Dan ketika sampai di halaman sekolah, sebelum anak saya pamit berlari ke kelasnya, saya pasti berucap, “selamat bersenang-senang!”. Saya lakukan ini dari semenjak dia TK hingga sekarang setelah dia kelas 3 SD. Jika gagasan pak menteri ini jadi kebijakan, tampaknya saya harus merevisi kata-kata saya. “Semoga sabar ya nak, orang-orang dewasa merasa tahu apa yang kamu butuhkan, padahal mereka hanya ingin membayar rasa berdosa atas kegagalan mereka memahami duniamu”. Panjang, dan menyesakkan.

vale, demi apalah

el rony, tidak habis pikir.

Menjadi Preparat

Image saya ambil dari: http://n1nt1.blogspot.co.id/2010/12/teknik-pembuatan-sediaan-pemeriksaan.html

Image saya ambil dari: http://n1nt1.blogspot.co.id/2010/12/teknik-pembuatan-sediaan-pemeriksaan.html

Kira-kira begitulah posisi manusia saat ini. Para pandai menempatkan kita di sebuah preparat kaca, dan dengan mikroskopnya menganalisa kulit kita, tulisan kita, gaya bicara kita, aksi dan reaksi kita. Pengamatan ini dilakukan dengan saksama sekali, memantau setiap geliat dari makhluk di kaca preparat, mencatat dengan runtut di sebuah jurnal, lantas untuk kemudian tersaji rapi jali dalam sebuah laporan, opini.
 
Ada jenjang yang berbeda, antara peneliti dengan preparatnya. Ada jarak yang signifikan antara obyek dengan subyek. Dan jelas, ruang menganga memisahkan antara cendekia dengan bahan uji labnya.
 
Spektrum yang diamati juga bermacam-macam, tentang agama, tentang suku dan rasnya, hingga tentang dewasa dan tidaknya. Sebagai obyek, manusia yang berada di preparat, hanya bisa pasrah dan jelas tidak punya hak untuk sekedar resah.
 
Lantas para cendekia berlomba mempresentasikan jurnal penelitiannya, opininya. Melalui media-media, melalui apa yang kelak mungkin boleh disemat sebagai karya. Presentasi ini kemudian disebar ke mereka yang bukan obyek preparat saat ini. “Oh, begitu rupanya”, gumaman mereka, target preparat selanjutnya, entah kapan.
 
Namun, obyek preparat itu manusia. Maka satu dua di antara mereka, menggugat para cendekia. Label demi label ditolaknya, karena pada dasarnya sang obyek tidak suka melabeli manusia. Tetapi itu tentu saja tak berguna. Sang cendekia sudah final, kita memang harus dan selayaknya berkonflik horisontal.
 
Baiklah, tuan cendekia. Tulisan dari obyek preparat ini tak perlu diperpanjang lagi kiranya, dengan harapan, semoga obyek-obyek preparat ini tak termakan hasutan berbalut analisa. Mohon tuan cendekia jangan kecewa, karena kami manusia.
 
Ngono yo ngono ning ojo ngono.
Saya tutup dengan kalimat ini, agar sah kiranya saya, sebagai obyek preparat manusia jawa.

Kangen-kangenan

Judul di atas bukan berarti kangen yang terbuat dari plastik, meskipun rasanya bisa jadi awet dan membuat pingin mengulangi pengalaman yang dilewati. Kangen-kangenan selama dua hari kemarin, Sabtu-Minggu 26-27 Maret 2016, layak untuk diabadikan dalam tulisan.

Kehangatan bertemu dengan teman-teman dari berbagai penjuru pulau Jawa dan Madura, gojek-gojekan hingga ngobrol rada serius sampai lewat tengah malam, memanglah suasana yang sudah cukup lama tidak saya rasakan. Ditambah dengan lokasi dengan pemandangan lereng Gunung Lawu yang –sumpah gak ngapusi– indah, benar-benar nyangkut di hati.

Perjalanan menuju lokasi, menyempatkan mampir makan siang di rumah makan yang dikelola oleh BUMDesa, itu sudah memberi kesan pertama yang wangun. Teman-teman RBI keren sekali merancang acara kemarin. Ditambah kehadiran anarko yang tak henti setiap jenak mengingatkan untuk minggir ke kiri, bahkan semenjak ketemu pak kepala desa di rumah makan Bale Branti ini, melengkapi nuansa reriungan ini. Mengenai hal ini kayaknya ndak perlu diperpanjang sih, daripada tulisan ini berakhir di Kodam.

Curhat

Dimanapun dan kapanpun, acara pertemuan semacam ini akan selalu menjadi ajang curhat. Namun kerennya kemudian, teman-teman ini bukan curhat soal pacar atau persoalan pribadi mereka. Ah ya, tentunya karena waktunya terbatas, kalau seminggu mungkin bakal muncul juga sih itu 😀

Teman-teman di Ponorogo misalnya, menggelisahkan tentang pemda di sana yang kurang aktif memanfaatkan websitenya. Atau kawan dari Madiun dan Surabaya yang mencari-cari solusi tentang UKM di tempatnya. Hal-hal seperti ini menjadikan saya merasa berpijak lagi di bumi, seperti halnya perasaan saya waktu bersama Nasir membahas sistem informasi desa, ataupun dengan Gus Cholik membahas tentang Merapi.

Itu baru sebagian kecil saja. Hal yang lebih penting lagi kemudian, kegelisahan yang kurang lebih sama dirasakan oleh saya juga, tentang konten positif di internet. Ini yang paling membuat saya semangat, bahwa kegelisahan ini secara nyata tidak hanya dirasakan segelintir orang saja, semua yang hadir ternyata menggelisahkan hal yang sama. Dan ini, luar biasa.

Solusi

Tentu saja naif kalau mengira bahwa dengan bertemu begini, hanya dua hari, bakal menemukan solusi-solusi. Yang paling memungkinkan dihasilkan dari pertemuan-pertemuan seperti ini adalah berbagi pengalaman dan bersama-sama mencari kemungkinan-kemungkinan jalan keluar.

Justru karena inilah maka saya amat sangat senang sekali ketika pertemuan ini tidak harus diakhiri dengan deklarasi atau apapun. Hanya komitmen untuk mengulanginya lagi, dengan harapan nantinya alternatif solusi atas masalah yang sempat dibahas, menemukan bentuk yang paling pas untuk menyelesaikannya. Sehingga bisa menjadi best practice bagi kawan-kawan yang lain lagi.

Efek Samping

Ndilalah, kersaning Gusti, acara ini dihadiri oleh menkominfo kita. Entah sajen apa yang dipakai oleh pakdhe Blontank dan RBI (meski ya saya bisa menebak sih wahihi) tapi yang jelas kehadiran pak menkominfo ini memberi peluang bagi saya untuk tidak sekedar onani di status maupun di forum-forum.

Kesempatan itu saya tidak sia-siakan untuk menggaris bawahi bahwa blokir adalah metode bodoh sekaligus pembodohan. Komitmen pak menteri untuk ke depan lebih mengutamakan edukasi timbang tindakan konyol ini, saya terima sebagai janji meski tidak terlalu berharap. Tinggal diawasi saja, semoga tidak makin parah kekonyolannya.

Maturnuwun RBI. Maturnuwun kawan-kawan semua. Juga pak mentri yang rela dipisuhi oleh saya dan teman-teman (ndak banyak sih, cuma satu orang lagi sih, iya si anarko itu, tapi anggap saja banyak).

vale, demi kangen dari plastik

el rony, menghela nafas. ternyata begobet lebih dikangeni daripada saya. kalah kok karo bot.

nb: buat teman-teman yang nanya soal begobet, sudah saya sampaikan salam kangennya ke bapaknya ya 🙂

Nasionalisme

Sejarah mencatat bahwa perjalanan Indonesia sebagai bangsa mengalami perdebatan-perdebatan panjang, selain perjuangan berdarah-darah. Salah satu tema perdebatan yang menentukan bentuk negara ini adalah mengenai konsep nasionalisme.

Perdebatan ini mencuat di tahun 1918, di sebuah forum Kongres Pengembangan Budaya Jawa yang diselenggarakan di Solo. Seorang sarjana Jepang yang meneliti mengenai perjalanan konsep nasionalisme ini, Takashi Shiraishi, menuliskannya sebagai perdebatan antara Satria dengan Pandita. Penelitian Takashi Shiraishi ini sendiri kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul kurang lebih sama, pada tahun 1986.

Dua orang tokoh utama yang berdebat sengit mengenai konsep nasionalisme itu adalah Soetatmo Soeriokoesoema dengan Tjipto Mangunkoesoema. Tjipto mewakili kelompok yang memegang prinsip bahwa konsep nasionalisme haruslah bersifat demokratis dan melawan segala bentuk penjajahan tanpa kompromi. Uraian Tjipto digambarkan sebagai uraian sikap Satria sejati. Tjipto sendiri mengacu kepada konsep bahwa bangsa ini terlahir dari sekumpulan bangsa Hindia (Indies) yang dijajah Belanda. Karenanya konsep Tjipto kelak dikenal juga sebagai Nasionalisme Hindia (Indies).

Soetatmo berlawanan dengan Tjipto dalam hal yang cukup prinsip. Apa yang diungkapkan oleh Tjipto sebagai bangsa Hindia, terlalu absurd baginya. Dia sendiri konsisten dengan pendiriannya bahwa kebangsaan ini haruslah dilandasi oleh bahasa yang mengakar dan kebudayaan yang kuat. Konsep Hindia Belanda baginya terlalu muda untuk disebut sebagai kebudayaan. Ide utama Soetatmo meletakkan hubungan pemerintah dengan rakyat dalam konsep pandito dan kawulo-gusti. Konsep Soetatmo kemudian dikenal dengan konsep Nasionalisme Jawa, sehingga dia mendirikan Komite Nasionalisme Jawa. Tjipto sendiri mendirikan Indishce Partij.

Perdebatan kedua tokoh ini disebarkan melalui pamflet Javaansche of Indische Nationalisme, yang menjadi selipan di terbitan majalah Wederopbouw. Sebagai catatan, sejarawan banyak menilai perdebatan ini tidaklah sehebat perdebatan budaya timur-baratnya Sutan Takdir Alisjahbana. Tetapi sebagai renik sejarah, tentunya hal ini patut kita catat.

Puncak perdebatan konsep nasionalisme ini terjadi di kongres pemuda pada tahun 1928. Lahirnya pernyataan sikap, yang kemudian oleh M Yamin diredaksikan sebagai Sumpah Pemuda, melebur perdebatan itu menjadi kesatuan bangsa, tanah air dan bahasa.

Perdebatan dua orang ini, meskipun seperti sudah disebutkan di atas bahwa sebenarnya bukan sesuatu yang sebesar perdebatan budaya timur-barat, telah juga mewarnai proses berbangsa kita. Soekarno yang tumbuh di era pencarian ini, menyerukan national spirit sembari kelak kemudian mengenalkan konsep demokrasi terpimpin.

Perbandingan Konsep Nasionalisme

Sebagai penutup tulisan ini, agar tidak terlalu panjang, saya akan coba sampaikan titik-titik perbedaan dari masing-masing konsep. Nasionalisme-nya sendiri yang menurut Ben Anderson secara cerdas disebut sebagai Imagined Community, tidak akan saya paparkan, silakan cari bukunya saja.

Inti konsep nasionalisme Soetatmo adalah pembinaan. Menurut dia, orde tertinggi dalam diri manusia adalah moral yang dikendalikan oleh kekuatan Ilahi. Oleh karenanya diperlukan pembina moral. Pembina moral ini dalam konsep kebudayaan jawa dipegang mandatnya oleh seorang pandita. Maka pemimpin bangsa haruslah seorang pandita-ratu yang tidak lagi memikirkan dunia tetapi fokus dalam mengawal pembinaan moral.

Menurut Soetatmo, ide Nasionalisme Hindia yang berpijak pada demokrasi akan membingungkan. Dia menggambarkan konsep itu sebagai “bapaknya cerewet dan ibunya sibuk mengurus diri sendiri, sehingga lupa tugasnya terhadap anak-anak”. Pembinaan moral yang tidak dikawal akan melahirkan kekacauan, sehingga nantinya bapak yang bijak harus tunduk kepada anak-anaknya yang belum mengerti arah, hanya karena si anak menguasai suara. Dia menyebut konsepnya sebagai restorasi kebudayaan Jawa.

Di sisi lain, Tjipto melihat bahwa konsep Soetatmo di atas adalah ilusi. Di satu titik bahkan Tjipto melihat konsep Soetatmo adalah Hinduisme. Gambaran tentang pandita ratu yang mengerti kehendak Ilahi melebihi orang lain, adalah satu bentuk penjajahan lagi. Dalam pandangan Tjipto, Soetatmo terlalu sempit dan mengabaikan perkembangan sejarah dunia.

Tjipto meyakini bahwa rakyat akan berkembang sejalan dengan perjalanan sejarah. Partisipasi lebih banyak orang dalam politiklah yang menjadi penentu arah, sesuai dengan teori pergerakan secara umum.

Sikap Tjipto yang juga sebenarnya masuk dalam kasta priyayi, bulat terwujud dalam cara dia memandang perjuangan Diponegoro. Baginya Pangeran Diponegoro adalah bukti nyata bahwa dalam diri seorang Jawa, terlepas berhasil atau tidaknya perjuangannya, terdapat nilai etika yang dalam. Pangeran Diponegoro menurut dia bergerak melawan Belanda bukan karena nafsu duniawi semata, tetapi karena dorongan memperjuangkan etika dan moral. Di sinilah pandangan Tjipto ini kemudian dikenal sebagai pandangan tentang konsep Satria Sejati.

Antara Primordialisme dan Pilihan Melangkah

Perdebatan antara Pandita dan Satria ini akhirnya menemukan bentuknya seperti saat ini. Perdebatan dua tokoh ini menurut saya menggambarkan perjalanan kita dalam berbangsa hingga detik ini. Meski hingga akhir hidupnya Soetatmo masih meyakini bahwa konsepnya lebih benar dan berdasar, tetapi keduanya sudah bertemu dalam satu semangat yang nantinya dikenal sebagai Indonesia.

Perdebatan dua tokoh ini meskipun salah satunya membawa nilai kejawaan, tetapi sebenarnya menggambarkan perjalanan tentang cara pandang atas bangsa secara umum. Di satu sisi membawa semangat primordialisme, yang itu bisa berupa kesukuan, agama atau yang lain, sementara yang lain melihat dalam satu pandangan yang lebih luas, sebagai satu tatanan masyarakat yang beraneka.

Maka pilihan atas cara memandang ini, menjadi penentu akan bagaimana negara dihidupi. Dan patut kita syukuri bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa, masih berjalan hingga sekarang. Patut kita syukuri pula bahwa dengan cara memandang ini, konsep bersaudarapun menjadi lebih luas.

Lantas, akankah kita kembali berdebat mengenai hal ini?

vale, demi persahabatan

el rony, menyeruput kopi

nb: kalau bagian paragraf terakhir terasa kayak jumping, mohon maaf, karena tiba-tiba musti menanggapi sms. *alas kuwi jembar*

Generasi Tanggal

Saya menggunakan kata tanggal untuk menggantikan kata ‘detached’. Sejujurnya, saya masih belum menemukan padanan kata paling tepat untuk kata tersebut, terlebih untuk dijadikan kalimat judul seperti ini, yang bisa menggambarkan apa yang saya maksud. Maka jadilah.

Kemarin malam, saya seperti biasa ngobrol santai bersama istri. Dan seperti biasa juga, obrolan sampai kepada hal-hal yang kami merasa tak paham terkait sikap beberapa orang, akhir-akhir ini, terutama di media sosial.

Salah satu hal yang membingungkan bagi kami adalah bagaimana dengan mudah orang mempercayakan hal-hal terkait dirinya sendiri, kesehatan misalnya, kepada sebuah akun yang bahkan mereka tidak tahu siapa yang mengelola. Konsultasi, demikian mungkin bahasanya, hanya saja kami tidak melihat hal itu sebagai konsultasi ketika lawan bicaranya bukanlah orang yang memang expert di bidangnya.

Detach!

Obrolan panjang kami membuat saya mengusulkan satu tolok ukur agar lebih bisa memahami. Generasi Detached, demikian istilah tersebut, untuk membedakan dengan generasi kami, yang kemudian saya namakan Generasi Attached. Mengapa demikian?

Bagi generasi kami, syarat berkonsultasi itu cukup ribet. Kami harus tahu betul bahwa yang kami ajak konsultasi itu manusia dengan kapasitas paling pas untuk menganalisa permasalahan kami. Kami harus bertatap muka supaya kami yakin bahwa kami tidak berkonsultasi dengan aktor. Kami harus.. dan seterusnya.

Sehingga tidak mudah bagi kami untuk menanyakan hal-hal yang personal dan detil kepada orang yang tidak kami kenal, apalagi tidak bertemu langsung, apalagi kalau yang kami hadapi hanya akun. Karena kami sadar betul, akun media sosial apapun itu belum tentu dipegang oleh orang yang memang berada di kapasitasnya, thanks to google and wikipedia.

Hal yang berbeda terjadi di generasi detached. Generasi ini justru bermasalah dengan interaksi langsung. Sebisa mungkin apapun harus berjarak, sehingga mereka bisa jadi apa saja, bisa bersembunyi ketika harus sembunyi.

Bagi generasi detached, bahkan ketika ditanya tentang “kalau tak bersosial, bagaimana pas kalian mati nanti?” akan menjawab dengan “kan ada jasa pemakaman”.

Bagi mereka, menyerahkan segala permasalahannya kepada sebuah akun bukanlah hal aneh, bahkan mungkin ilustrasinya bisa seperti ini, “dok, rambut kemaluan saya sebelah kiri kalah lebat dibanding sebelah kanan, kenapa ya dok?”. Perhatikan bahwa mereka juga fasih menyebut “dok” kepada sebuah akun yang bisa saja ternyata diadmini oleh lulusan SMP.

Menjadi Apa Saja

Sepertinya memang inilah kuncinya. Dan ketika sedang menjadi seseorang atau sesuatu, generasi ini akan all out. Ketika dia sedang menjadi konsultan bisnis, 50 tab browser mungkin mereka buka, tab-tab berisi informasi wiki dan hal lain hasil googling. Ketika sedang menjadi ustadz, lebih mudah lagi, cukup berbekal sama ditambah dengan duduk nyaman di posisinya. Peran menjadi penentu halal/haram, surga/neraka, dan seterusnya ini adalah peran yang paling nyaman bagi mereka, karena mereka memposisikan diri benar dan yang lain salah. Tolok ukurnya? Dirinya sendiri.

Pada generasi ini juga membuat mereka tak segan-segan seakan-akan mengetik sambil mengepalkan tangan, sambil menombak-nombak layar dengan bambu runcing, demi membela kelompok, politisi ataupun idolanya.

Lantas Bagaimana?

Kami tidak bisa menyimpulkan, mungkin karena kami memang model generasi attached, yang bahkan tidak bisa dengan enteng menghakimi benar salah.

Hanya saja kalau boleh, saya berharap generasi detached ini tidak ada. Bagaimana kita bisa disebut hidup kalau kita melepaskan diri dari tanggung jawab sosial? Sependek yang kutahu, yang begini ini masuknya ke kategori parasit.

vale, demi mengisi waktu

el rony, sakjane yo embuh

Merasa Tidak Aman (insecure)

Akhir-akhir ini, berkat teknologi internet tentu saja, perasaan tidak aman semakin muncul ke permukaan. Dari hal remeh soal bagaimana pendapat orang akan penampilan hingga hal-hal berat terkait keyakinan.

Orang merasa tidak aman dengan penampilannya masih kuanggap wajar. Mungkin memang itu bawaan tiap manusia, dimana pendapat orang itu penting. Tidak semua orang siap dan mampu menjadi berbeda.

Permasalahannya kemudian menjadi semakin absurd ketika orang merasa tidak aman dengan keyakinannya. Penampilan sebenarnya juga termasuk absurd, sebagaimana penilaian itu juga absurd, tetapi keyakinan itu sesuatu yang ada di belakang kepala kita, sesuatu yang membutuhkan sebuah proses untuk menjadi terinternalisasi di dalam diri. Mengapa kita merasa tidak aman dengan itu?

Oke, mungkin sebagaimana halnya kita boleh merasa tidak aman terhadap penampilan, maka rasa tidak aman inipun bisa jadi normal-normal saja. Namun keluaran dari rasa tidak aman itu yang membuat saya jadi bertanya-tanya dan sampai pada satu kalimat tak terjawab, “mengapa kita ini rumit sekali?”

Ketika kita merasa tidak aman dengan penampilan kita, kita berusaha mengubah diri kita agar sekiranya diterima oleh pandangan masyarakat umum. Sifatnya ke diri kita. Atau pilihan lainnya adalah cuek atau bahkan meyakini diri sebagai trend setter. Boleh kan? Cuma masalahnya ketika menyangkut keyakinan, yang terjadi justru kemarahan, ancaman dan pembungkaman. Mengapa demikian?

Menjadi semakin absurd tatkala hal ini dikaitkan dengan surga neraka. Kalau memang sudah meyakini bahwa apa yang dilakukan orang itu akan membawanya ke neraka, ya sudah kan? Kenapa harus memarahi dia? Kenapa tidak diajak baik-baik saja, kalau tidak mau ya apa hendak dikata?

Pola-pola pemaksaan itu harusnya sudah ditinggalkan. Dan yang paling penting lagi, pemikiran/perasaan tidak aman itu yang terlebih-lebih harus dihapuskan. Karena perasaan tidak aman itu justru lahir dari hal sederhana, bahwa kamu sebenarnya nggak yakin-yakin amat dengan keyakinanmu. Akui hal itu dan minta maaflah kepada sumber keyakinanmu.

vale, demi keyakinan

el rony, cuma ingin bahagia

nb:

ini layak untuk ditonton. https://www.youtube.com/watch?v=21j_OCNLuYg&app=desktop

Gaya Kepemimpinan

Semakin hari semakin tampak perbedaan mencolok antara gaya kepemimpinan saat ini dengan periode-periode sebelumnya. Sebenarnya, gaya kepemimpinan ini juga tampak di era Gus Dur, tetapi sayang beliau belum sempat sampai akhir menunaikan tugasnya. Saya yang bukan orang sospol ini menyebutnya sebagai gaya kepemimpinan sipil, untuk membedakan gaya kepemimpinan militer seperti periode-periode lain di negeri ini.

Dalam periode kepemimpinan sipil ini, banyak –termasuk saya– yang gagap karena sepertinya sistem komando tidak berjalan. Kita yang sudah terbiasa dengan apa yang diinginkan sang pemimpin harus segera terlaksana esoknya –kalau enggak maka binasa– jadi merasa agak gimana gitu ketika kejadiannya tidak seperti itu.

Hal yang menarik kemudian, meskipun seakan-akan apa yang menjadi keinginan pemimpin seperti mendapat tantangan –yang di mata awam seperti saya maka kesimpulannya jelas: gagal — ternyata kok tidak. Meskipun selalu “lambat” tetapi pada akhirnya terjadi juga apa yang diperintahkan. Saya menggunakan tanda petik di sini, karena meskipun disebut lambat, tetapi terjadi, berbeda dengan ala militeristik sebelumnya yang kayaknya cepat dan segera mewujud tetapi ternyata kenyataannya terbengkelai.

Penentuan prioritas juga tampak berbeda. Jikalau pada kepemimpinan militeristik maka hal-hal yang sifatnya simbolis atas nama kewibawaan yang dikedepankan, di masa ini justru hal-hal yang tidak populis yang dikedepankan. Mungkin memang inilah khasnya kepemimpinan sipil, ketika meyakini bahwa memang itu permasalahannya maka tidak perlu lagi memutar. Contoh kasus di sini tentu saja subsidi BBM.

Menimbang hal ini, maka ketika banyak di antara para pegiat online menyerukan melengserkan presiden terpilih, saya kok tidak merasa gimana-gimana. Bagi saya, kalau memang rakyatnya maunya begitu, ya ikuti saja rakyatnya. Kalau rakyatnya lebih suka model dicocok hidungnya, ya apa hendak dikata?

Saya sudah cukup puas dengan warna gaya kepemimpinan saat ini. Prestasi bukanlah berupa capaian-capaian fisik bagi saya, apalagi bicara soal kesejahteraan rakyat. Lha sudah 6 (enam) kali pergantian kepemimpinan kita saja masih belum bisa merata kesejahteraannya, kok yang baru mau bekerja sudah dituntut begini, maka nalar saya ya cuma bilang “ya jelas ndak mungkin”.

Meminta mereka yang tidak suka dengan gaya kepemimpinan ala sipil begini agar mendukung dan menyukai tentu saja tidak mungkin. Seperti sudah kusinggung tadi, ketika sudah terbiasa dengan dicocok hidungnya, disuapi, ya tentu sulit diajak berubah. Apalagi mereka yang terbiasa kongkalingkong, dengan kepemimpinan ala militer di mana tembok istana adalah wilayah sakral tak tersentuh, tentu akan lebih leluasa memainkan bisik-bisiknya. Justru ketika kondisinya seperti saat ini, mereka yang mau kongkalingkong juga kesulitan, istilah sederhananya mereka sibuk kuda-kuda, ragu untuk melangkah. Tentunya celah untuk kongkalingkong tetap ada, gila saja, kita masih di Indonesia gitu loh.

Jadi, sekedar menutup catatan ringan ini, saya hanya mau bilang, terimakasih rakyat Indonesia, sudah memberi kesempatan sebuah warna yang berbeda di balik tembok istana. Jika njenengan semua seperti saya, lebih suka merdeka dan bebas tidak tercocok hidungnya, ya mari bersabar. Kebiasaan jam karet kita yang membuat dua pekan menjadi berbulan-bulan, satu saat nanti pasti akan berubah. Mengubah budaya itu butuh proses.

Namun jika njenengan semua tidak sepakat dengan saya, monggo turun ke jalan. Kalau memang seluruh rakyat menghendaki dipimpin ala militer lagi misalnya, ya saya tidak akan melawan rakyat. Saya sendiri tidak berubah dari dulu hingga sekarang, mata pena dan mata kata saya selalu dan selalu mengarah lurus ke penguasa.

vale, satu saat nanti mungkin harus teriak lagi hal sama, “Ya Basta!”

el rony, menikmati kopi

Sejarah Langgam dan Ketidakpedulian Kita

Pada tulisan kali ini saya mencoba menulis sekelumit hal tentang aliran musik langgam. Tentu banyak di antara kita yang sudah mengenal kata itu, dan mungkin juga sering menggunakan istilah tersebut, tetapi apakah hal itu sudah tepat jika diterapkan pada sejarah musik? Saya bukan ahli musik, tetapi saya peduli dengan sejarah kemusikan dan budaya –terutama budaya jawa, karena saya orang jawa–.

Sebelum terlampau jauh, saya kutip dulu pengertian langgam yang sudah diadaptasi oleh KBBI, sebagai berikut:

langgam

Nomina (n)

  1. gaya; model; cara: — permainannya khas, sukar ditiru orang lain
  2. adat atau kebiasaan: — orang di daerah itu kalau berkata dengan suara keras, tetapi hatinya baik dan suka berterus terang
  3. bentuk irama lagu (nyanyian): penyanyi lagu pop belum tentu dapat menyanyikan lagu —

definisi tersebut bisa anda lihat di kateglo.

Nah, karena saya sedang membahas budaya jawa, maka saya fokus pada pengertian nomer 3, bahwa langgam adalah bentuk irama lagu. Irama lagu yang seperti apakah yang bisa disebut langgam?

Jawa dan Segala Aturannya

Di dalam masyarakat Jawa, produk apapun yang dihasilkan dari budayanya selalu dilekati dengan aturan-aturan dan kaidah-kaidah. Apalagi di dunia musik. Aliran musikal dalam adat Jawa pada awalnya kurang lebih terbagi menjadi empat bagian, yaitu: Tembang Gedhe, Tembang Tengahan, Tembang Macapat dan Tembang Dolanan.

Tembang Gedhe dan Tengahan mungkin jarang kita dengar, yang paling sering kita dengar adalah Macapat –yang sering diartikan sebagai maca papat-papat, membaca empat demi empat– dan tembang dolanan. Masing-masing tembang tersebut memiliki aturan-aturan sendiri, kita ambil contoh saja macapat. Macapat yang terbagi menjadi pocung, sinom, asmaradhana dan lain-lain, masing-masing juga memiliki aturan lagi.

Seseorang bisa memakai nada-nada yang mirip dengan pocung misalnya, tetapi kalau tidak memenuhi aturan:
– Guru Wilangan (jumlah suku kata) 12, 6, 8, 12
– Guru Lagu (akhiran vokal) u,a,i,a
maka itu bukan Pocung. Jika tidak memenuhi syarat untuk macapat yang lain, maka jelas itu juga bukan Macapat.

Perkembangan politik di negeri ini, pada akhirnya memunculkan kreativitas di kalangan pemusik tradisional Jawa. Pada masa-masa awal kemerdekaan kita itulah, muncul irama langgam Jawa. Tokoh yang merintis irama ini adalah seperti Dharmanto, Ki Narto Sabdo, Gesang, Anjar Any, Waldjinah, dan masih banyak lagi. Berdasarkan penuturan Nyi Andjar Any sendiri, langgam ini terlahir karena waktu itu presiden Soekarno mendorong para pemuda untuk meninggalkan musik ngak-ngik-ngok.

Langgam Jawa pada dasarnya adalah adaptasi musik keroncong ke tradisi gamelan dan tembang Jawa. Maka oleh karenanya, langgam Jawa ini juga memiliki aturan-aturan, tidak sembarang lagu bisa disebut sebagai Langgam Jawa.

Aturan Langgam Jawa adalah sebagai berikut:

  • Matra atau ukuran biramanya 4/4.
  • Temponya moderato.
  • Terdiri dari empat kalimat masing-masing delapan bar, sehingga dalam satu langgam terdapat 32 bar.
  • Susunan keempat kalimatnya adalah A-A-B-A

Berdasar dari sejarah permusikan Jawa, maka ketika seseorang terdengar menggunakan nada-nada seperti langgam tetapi tidak mengikuti aturan tersebut, sudah pasti itu bukan langgam dalam artian lagu Jawa.

Perkembangan selanjutnya langgam jawa ini dibuat lebih nakal oleh generasi Manthous dengan komposisi yang lebih nge-pop dan menanggalkan aturan-aturan di atas. Kalau dalam bahasa saya yang bukan ahli musik, campursari ini adalah tipe lagu dolanan yang lebih serius. Dia bisa saja dimulai dengan bawa (lagu) dari macapat, atau bisa langsung ke model keriangan ala campursari.

Apakah Kita Peduli?

Pertanyaan ini muncul di kepala saya, ketika beberapa waktu lalu orang ribut-ribut mengenai seseorang yang membaca dengan alunan yang akrab dengan telinga orang Jawa. Ramai-ramai semua mengatakan bahwa itu langgam Jawa.

Mungkin para pendekar langgam jawa sudah capek dengan ketidakpedulian kita, sehingga mereka hanya diam dan mungkin mengurut dada. Jelas-jelas itu bukan langgam jawa. Apakah biramanya 4/4? apakah terdiri dari empat kalimat delapan bar? apakah susunannya A-A-B-A?

Kalau Anda menyebut itu langgam jawa, dalam artian nomer 1 di KBBI: gaya/model/cara, maka saya tidak akan memprotes. Tetapi yang jadi permasalahan ketika kemudian mengkait-kaitkan dengan aturan-aturan per-lagu-an, dimana apa yang dibaca itu tidak boleh sembarang dilagukan menirukan irama lagu dan seterusnya. Saya bilang, tolong hentikan, itu bukan langgam jawa dalam artian irama lagu jawa! Sama sekali tidak masuk dalam aturan langgam Jawa.

Bagi saya, itu adalah murni gaya atau model pembacaan, sebagaimana –meskipun kata-katanya sama, panjang pendek kalimatnya sama–, tetapi masing-masing masjid ketika tiba saatnya TPA, nada yang keluar sama sekali berbeda: TEMAN TEMAAAAN DI.HA.RAP.DA.TANG.KE.MAS.JID  UN.TUK.TEPEA. KA.RE.NA HA.RI SU.DAH. SO.RE

Perhatikan lagi, panjang pendeknya sama, tetapi sebenarnya ada perbedaan nada karena ada perbedaan mulut yang mengucapkannya. Maka itulah gaya, model, yang lahir murni karena justru ada panjang pendek kalimat tersebut.

Paham?

vale, demi te pe a

el rony, sinau iqra’

Menggabungkan Image PNG menggunakan library PIL

Sebenarnya apa yang ingin saya tulis ini sudah ada di dokumentasi dan tutorial-tutorial online. Tetapi tidak ada salahnya saya kira kalau saya membagikan apa yang saya tahu. Kalaupun ternyata ada salahnya, ya mumpung ini masih terhitung Hari Lebaran, saya mohon maaf lahir dan batin. 😀

Library PIL adalah library pengolah gambar di bahasa pemrograman Python. Yang saya bagikan ini hanyalah sebagian kecil sekali dari fasilitas yang ada di library tersebut. Fokus saya adalah di bagian penggabungan gambar.

Kadang kita ingin menggabungkan dua atau lebih gambar, hal yang sebenarnya sangat mudah dilakukan dengan menggunakan software pengolah gambar seperti Photoshop atau Gimp. Tetapi kalau yang ingin digabungkan itu ada banyak sekali file, maka kadang kita perlu juga melirik script untuk otomatisasinya.

Batasan Kasus

Supaya tidak terlalu melebar, saya akan membatasi kasus ini dengan penggabungan gambar yang sama ukurannya. Tekniknya seperti overlay layer di css dengan positioning. Untuk kebutuhan ini saya akan menggunakan metode paste dari library PIL.Image.

Biasanya yang saya lakukan adalah membuka satu persatu image/gambar yang mau digabung tersebut.

from PIL import Image #import dulu library yang ingin digunakan

im = Image.open('/path/asli/lokasi/gambar.png')
im2 = Image.open('/path/asli/lokasi/gambar2.png')

#misalnya dua gambar itu yang ingin kita gabungkan

Setelah itu kita siapkan canvas tempat kita akan menggabungkan dua gambar tersebut. Karena dua gambar itu ukurannya sama, kita ambil saja salah satunya sebagai dasar ukuran canvas.

canvas_size = im.size #mengambil ukuran dimensi gambar
bg = Image.new('RGB',canvas_size,(255,255,255))
# RGB adalah mode gambar. 255,255,255 berarti kita beri warna putih

Setelah canvas siap, maka kita bisa menggabungkan gambar di atas, misalnya kita ingin menimpa gambar im dengan im2. Di sini filenya adalah png transparent, sehingga ketika ditimpa, gambar im tidak seluruhnya tertutup oleh gambar im2. Langkahnya sebagai berikut:

bg.paste(im,(0,0))
#gambar im kita timpa di atas canvas, di koordinat 0,0.

Maka di atas canvas (bg) sudah akan muncul gambar im. Tetapi kita ingin agar transparansi gambar im tetap ada, sehingga background putih canvas tidak tertutup blok hitam. Untuk hal ini, script di atas kita ubah menjadi:

bg.paste(im,(0,0),im)
# seperti langkah di atas, tetapi kita tambahkan masking im

#lalu dilanjut dengan menempatkan gambar im2 di atas im
#maka kita lanjutkan dengan script berikut

bg.paste(im2,(0,0),im2)

Voila! gambar im2 sudah bergabung dengan gambar im. Untuk melihatnya, kita bisa menggunakan perintah bg.show()

Script lengkapnya jadinya begini:

from PIL import Image #import dulu library yang ingin digunakan

im = Image.open('/path/asli/lokasi/gambar.png')
im2 = Image.open('/path/asli/lokasi/gambar2.png')

canvas_size = im.size #mengambil ukuran dimensi gambar
bg = Image.new('RGB',canvas_size,(255,255,255))
bg.paste(im,(0,0),im)
bg.paste(im2,(0,0),im2)
bg.show()

Menyimpan hasil ke django model ImageField

Nah, setelah gambar itu tergabung, seandainya kita menggunakan django, maka kita perlu menyimpan image itu ke models. Untuk kebutuhan ini, saya kadang menggunakan memory untuk meredraw hasil gabungan gambar tersebut, lalu memanfaatkan fasilitas InMemoryUploadedFile di django untuk menyimpannya ke database.

Sehingga script di atas akan menjadi seperti ini

#misalkan kita mempunyai models seperti ini

class DataImage(models.Model):
    title = models.CharField(max_length=255)
    image = models.ImageField(upload_to='image')

maka kita ubah script lengkap yang saya tulis di atas tadi, menjadi seperti ini:

import StringIO

tempFile = StringIO.StringIO()

im = Image.open('/path/asli/lokasi/gambar.png')
im2 = Image.open('/path/asli/lokasi/gambar2.png')

canvas_size = im.size #mengambil ukuran dimensi gambar
bg = Image.new('RGB',canvas_size,(255,255,255))
bg.paste(im,(0,0),im)
bg.paste(im2,(0,0),im2)

# menyimpan hasil generate ke stringIO file

bg.save(tempFile, format="JPEG")
#format bisa diubah sesuai kebutuhan. 
#dalam contoh ini, saya menyimpannya dengan kompresi jpeg

Setelah itu, kita bisa menyimpannya ke model DataImage dengan langkah berikut:

from django.core.files.uploadedfile import InMemoryUploadedFile

image_file = InMemoryUploadedFile(tempFile, None, 'nama_file.jpg','image/jpeg',tempFile.len, None)

#nama file diubah sesuai nama yang ingin kita simpan

Dari sini kita bisa langsung menyimpannya ke database.

daim = DataImage()
daim.title = "nama file"
daim.image.save("nama_file.jpg",image_file)
daim.save()

image hasil gabunganpun tersimpan ke database. File disimpan ke MEDIA_DIRECTORY sesuai setelan di settings.py

Demikian serba sedikit yang bisa saya bagi. Tidak begitu penting, tetapi semoga bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan 😀

vale, demi parsletongue

el rony, mendesissssssss ssss sssss

nb. sekedar untuk lucu-lucuan, kita juga bisa menggunakan php untuk hal ini

<?php
$ibody = base_url('path/relative/to/body.png');
$istrap = base_url('path/relative/to/strap.png');
$ipads = base_url('path/relative/to/pads.png');
$imgInfo = getimagesize($ibody);
$basebody= imageCreateFromPNG($ibody);

// menentukan ukuran canvas
$w = "319";
$h = "221";

// men-scale image ke ukuran canvas dg aspect ratio
if ($imgInfo[0] <= $w && $imgInfo[1] <= $h) {
    $nHeight = $imgInfo[1];
    $nWidth = $imgInfo[0];
} else {
    if ($w/$imgInfo[0] > $h/$imgInfo[1]) {
        $nWidth = $w;
        $nHeight = $imgInfo[1]*($w/$imgInfo[0]);
    }else{
        $nWidth = $imgInfo[0]*($h/$imgInfo[1]);
        $nHeight = $h;
    }
}
$nWidth = round($nWidth);
$nHeight = round($nHeight);

// membuat canvas
$base = imagecreatetruecolor($nWidth, $nHeight);

imagealphablending($base, false);
imagesavealpha($base, true);
$transparent = imagecolorallocatealpha($base, 255, 255, 255, 127);
imagefilledrectangle($base, 0, 0, $nWidth, $nHeight, $transparent);
imagealphablending($base, true);
imagecopyresampled($base, $basebody, 0, 0, 0, 0, $nWidth, $nHeight, $imgInfo[0], $imgInfo[1]);

$insert2 = imageCreateFromPNG($istrap);
imagealphablending($insert2, true);
imagesavealpha($insert2, true);
imagecopyresampled($base,$insert2,0,0,0,0,$nWidth,$nHeight,$imgInfo[0], $imgInfo[1]);


$insert3 = imageCreateFromPNG($ipads);
imagealphablending($insert3, false);
imagesavealpha($insert3, true);
imagecopyresampled($base,$insert3,0,0,0,0,$nWidth,$nHeight,$imgInfo[0], $imgInfo[1]);


header('Content-type: image/png');
imagepng($base);
imagedestroy($base);
if(isset($insert2)){
    imagedestroy($insert2);
}
if(isset($insert3)){
    imagedestroy($insert3);
}
?>

iya.. script-script ini yang saya pakai untuk webnya NOKNbag 😀

Nggetih

Sebelum saya menulis panjang lebar, ada baiknya tulisan kali ini saya awali juga dengan disclaimer. Saya bukanlah pengusaha sukses, dan barang tentu saya termasuk generasi mereka yang tidak update terutama terkait gaya berbisnis. Maka tulisan saya ini murni pandangan saya yang sekiranya Anda termasuk mereka yang mengamini pendekatan ala startup, maka tulisan ini akan sedikit banyak menyinggung “keimanan” sampeyan, oleh karenanya saya minta maaf terlebih dahulu.

Tahun ini adalah tahun ke-14 semenjak pertama kali saya menyatakan diri membakar kapal, terjun bebas ke dunia belantara yang bermoto “daily struggle“. Sampai detik ini tidak ada tolok ukur yang bisa mengatakan bahwa saya termasuk mereka yang berhasil –terutama jika diukur dari sisi materi — maka bisa jadi dan sangat mungkin saya ini terlanjur salah memilih “keimanan”.

Sependek pengalaman saya berusaha bertahan hidup, saya melalui berbagai model usaha. Dari mulai usaha yang sifatnya non-pemerintah, semi-altruistic, hingga murni materialistik. Dari mulai kerjaan kasar, hingga pekerjaan di belakang monitor — yang sebenarnya tak lebih halus dari pekerjaan sebelumnya. Hingga pada tahun 2001 akhir, saya bergabung dengan teman-teman yang memiliki mimpi sama, berdiri di atas kaki sendiri dengan bermodal pengetahuan semampu kami di bidang IT. Kami berlima akhirnya mencar sendiri-sendiri, tetapi inilah yang membentuk sejarah diri saya.

Pengalaman yang masih serba sedikit, dengan perahan darah dan keringat yang tak bisa dibilang sedikit, mengajarkan diri saya sendiri, tentang makna membakar kapal yang sesungguhnya. Tidak ada titik balik bagi mereka yang sudah membakar kapal. Pilihannya tinggal maju berperang, dengan resiko mati di medan laga, atau nekat berenang dengan resiko yang jauh lebih pasti, mati konyol tenggelam.

Kondisi yang seperti ini entah kenapa justru hal yang sangat saya nikmati. Sehingga perjalanan ini pula yang membuat saya menjadi semakin keras dalam bersikap. Sikap yang oleh sebagian orang dipandang sebagai sebuah ideologi yang kaku. Tidak menerima pekerjaan membuatkan situs judi, porno, MLM bahkan situs pemerintah yang mengharuskan saya memarkup dana. Tidak peduli seberapa kondisi butuh uangnya saya, tidak peduli seberapapun besar reward yang ditawarkan, kalau harus meninggalkan pilihan itu, saya memilih untuk tidak. Alhamdulillah saya masih bisa survive sampai sekarang.

Sikap ini akhirnya merembet ke pekerjaan saya sendiri. Sebagai contoh ketika saya harus mengerjakan sebuah situs — dulu sering saya harus memperbaiki beberapa situs milik orang, baik yang saya kenal langsung maupun tidak, yang seringkali sampai ke meja saya dalam keadaan sudah babak belur– saya akan sepenuh hati bekerja jika saya tahu bahwa si pemesan memang mempertaruhkan hidupnya di situ. Satu perusahaan retail di Amerika, misalnya, saya ikut andil membuat sistem informasi untuk penjualannya, dan saya pantau sistem tersebut bahkan ketika harus dideploy ke cabang-cabangnya yang tersebar di tiga negara bagian, tanpa saya minta charge lebih. Sekian ribu dollar yang jika dikonversikan ke besaran energi dan perhatian serta waktu yang saya curahkan jadinya tidak sebanding. Tetapi saya all out karena saya tahu mereka nggetih. Dan saya turut bahagia ketika akhirnya mereka jadi semakin besar dan bahkan menularkan keberhasilan mereka untuk membidani perusahaan-perusahaan baru di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Sifat nggetih ini juga saya rasakan di teman-teman NOKNbag, di teman-teman SolusiCamp, di teman-teman APSI Jogja. Sifat nggetih saya juga tersalur bersama teman-teman ARDWORT. Dengan mereka, saya teramat sangat nyaman bekerja bersama.

Sifat nggetih ini juga ada di teman-teman relawan merapi, sehingga ketika ada kebutuhan membuat gerakan, saya bisa membuatkan situs untuk mereka, lengkap dengan sistem geo-location dan API, hanya dalam dua hari. Tidak ada uang yang berbicara di sini.

Pada mereka-mereka yang nggetih, saya akan ikut nggetih.

Hal inilah yang membuat saya sangat kurang paham, bagaimana mungkin orang membuat sebuah usaha, dengan pola pikir bahwa usaha tersebut nantinya akan dia jual. Exit strategy, bahasa kerennya. Setiap kali saya mendengar kata exit, dahi saya berkernyit.

Benar, mungkin karena saya bukanlah pengusaha seperti mereka. Maka hidup saya ya biasa-biasa saja, rumah seadanya, kendaraan seadanya. Tidak bergelimang harta melimpah seperti mereka. Tetapi demikianlah saya, bagi saya setiap kodingan seperti anak yang lahir dari tangan-tangan saya. Sedih sekali ketika apa yang sudah saya bangun nantinya hanya akan ditinggalkan, tanpa benar-benar dimaksimalkan proses optimasinya. Tanpa benar-benar dimanfaatkan potensinya.

Beberapa dari klien saya tentu paham maksud saya, mereka merasakan naik turunnya semangat saya, dan saya pastikan semangat saya turun semenjak saya merasa bahwa mereka bikin perusahaan hanya untuk dijual. Ibaratnya saya mengotori tangan saya untuk mereka yang sejak awal ingin menjual bayinya. Bergidik saya.

Tidak adakah lagi mereka yang benar-benar nggetih dalam pilihannya? Apakah memang sudah jamaknya begitu sehingga aneh justru ketika orang-orang sedemikian nggetihnya dalam usahanya?

Mungkin saya tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang sesuai dengan harapan saya, tetapi melalui tulisan ini, saya membuka diri kepada Anda semua. Monggo, bagi siapa saja yang nggetih dengan pilihannya, saya selalu terbuka untuk berbagi pikiran. Mungkin tidak tenaga, karena saya sudah mencebur nggetih bersama orang-orang keren yang tidak mungkin lagi saya tampung beban tambahan. Tetapi saya selalu siap berdiskusi, apapun yang Anda hadapi, asalkan saya mampu membantu atau membagi jalan keluar, saya akan bantu. Silakan kontak melalui email saya, lantip at gmail dot com.

Keyakinan saya, apapun tipe kendala yang akan kita alami, kita hanya akan selamat kalau kita nggetih.

vale, demi kemerdekaan

el rony, macak nggetih.